Beranda Tazkiyah Adab “Syarat Jadi Imam di Masjid Sini Harus Pakai Peci!”

“Syarat Jadi Imam di Masjid Sini Harus Pakai Peci!”

0
notesejarahmws

“Assalamualaikum wr wb.” ucap seorang bapak tengah baya di depan jamaah usai sholat Isya.

“Pemberitahuan, untuk jamaah semua. Syarat untuk menjadi imam di masjid sini adalah memakai peci!” lanjutnya melemparkan pernyataan.

Para mahasiswa sebuah ma’had dekat masjid di kawasan Mampang, Jakarta Selatan, terperangah dengan pengumuman itu.

Sang imam kebetulan kakak kelas. Suaranya bagus, bacaannya jugabagus. Namun rupanya masih “minus” depan bapak itu: tidak memakai peci. Mungkin baru kali ini ada yang ketahuan tidak memakai peci.

Kok begitu aturannya? Begitu kira-kira yang ada di pikiran para jamaah.

Sejarah Peci

Bicara tentang peci, dalam sejarahnya, menurut Rozan Yunos di “The Origin of the Songkok or Kopiah” dalam The Brunei Times, 23 September 2007, diperkenalkan para saudagar Arab, yang juga menyebarkan agama Islam. Pada saat yang sama, dikenal pula serban (turban?). Namun, serban dipakai oleh para ulama, bukan orang biasa.

Orang-orang arab yang dipandang sebagai penyebar peci di tanah melayu malah meninggalkan tradisi itu. Pengamat sejarah pun pada akhirnya berspekulasi soal keberadaan peci Indonesia.

Sesuatu yang mirip songkok tetap masyhur terutama di beberapa negara Islam. Di Turki, ada fez dan di Mesir disebut tarboosh. Fez berasal dari Yunani Kuno dan diadopsi oleh Turki Ottoman. Di Istanbul sendiri, topi fez ini juga dikenal dengan nama fezzi ( pelafalannya “pechi” mirip dengan peci di Indonesia).

Di India, Pakistan, dan Bangladesh, fez dikenal sebagai Roman Cap atau Rumi Cap. Ini menjadi simbol identitas Islam dan menunjukkan dukungan Muslim India atas kekhalifahan yang dipimpin Kekaisaran Ottoman. Namun bentuk peci agak berbeda. Pada bagian atas peci memilik lipatan jahitan lebih kaku dibanding penutup kepala dari negara-negara arab. Karenanya, ada yang menyebut bahwa peci hasil modifikasi blangkon Jawa dengan surban Arab.

Lalu?

Tentang peci seorang kawan @herricahyadi yang sedang di Turki tadi pagi memberikan caption pada foto yang ia posting di akun Instagramnya; tadinya mau pakai sarung, tapi di sini kalau pakai itu pasti dilihatin karena dikira pakai rok. Trus diketawain. Waktu awal-awal shalat Jumat pasti pakai itu. Sepanjang jalan mmg pada ngelihatin sih. Semenjak itu ga pernah pakai lagi. Well, jadi promosi ke mana-mana kalau model begini pasti dr Indonesia. Dr negara lain ga punya koko sama peci kayak gini. Trus mereka mulai pegang-pegang trus nanya-nanya. Pada minta dibawain dr İndo hehe.”

Terlepas dari mana datangnya, peci bukanlah termasuk syarat menjadi imam sholat jamaah.

“Ha-ha-ha, biasa Om. Makanya selain bacaan bagus, mungkin perlu penampilan. Kalau perlu pakai sarung dan baju koko sekalian he-he-he. Realitas masyarakat kampung,” ucap seorang kawan mengomentari peristiwa ini.

“Saya juga kalau nggak pakai peci, jamaah suka ragu menawarkan jadi imam,” komentar teman yang lain.

Usai mendapatkan woro-woro “harus memakai peci”, mahasiswa mencari tahu apa sebabnya. Ternyata bapak tua yang mengumumkan tadi anak dari pemilik masjid (yang diwakafkan) tersebut. Oh, pantes! [Paramuda/ BersamaDakwah]

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.