Beranda Kisah-Sejarah Kisah Nyata Tak Pernah Ghibah, Orang ini Meninggal Dalam Husnul Khatimah (Bagian 2)

Tak Pernah Ghibah, Orang ini Meninggal Dalam Husnul Khatimah (Bagian 2)

0
ilustrasi (hdw)

Lanjutan dari Tak Pernah Ghibah, Orang ini Meninggal Dalam Husnul Khatimah

Saya ceritakan tentang kejadian yang baru saya alami kepada  saudaranya tersebut.

Kemudian saya tanyakan tentang sisi-sisi kehidupan orang tersebut saat ia masih hidup.

Saudara pasien tersebut menjelaskan,

“Almarhum itu mempunyai sifat-sifat yang jarang dimiliki oleh orang lain, ia tidak pernah berbuat ghibah (membicarakan atau mengungkit-ungkit kejelekan orang lain).

Ia tidak pernah mengizinkan orang lain berbuat ghibah di dekatnya, dan jika tidak bisa menghalangi orang yang berbuat ghibah di dekatnya ia segera pergi menjauh.”

Saudaraku.

Tahukah kamu rahasianya? Sesungguhnya ghibah itulah yang membinasakan kebaikan, orang yang melakukan ghibah akan hangus semua amal  kebaikannya.

Bahkan, ghibah itu dapat mengalihkan kesalahan dan dosa-dosa orang yang dijadikan  obyek ghibah kepada orang yang melakukan hibah, kemudian dosa-dosa itu ia tanggung.

Orang yang melakukan ghibah bagaikan orang yang bekerja, akan tetapi hasil pekerjaannya ia berikan kepada orang lain.

Ghibah bagaikan orang yang mengolah kebun orang lain lalu meninggalkannya begitu saja sehingga semua hasil jerih payahnya diambil oleh pemilik kebun tersebut.

Maka orang yang dighibah akan menuai semua amal kebaikannya.

Saudaraku.

Sesungguhnya ghibah adalah kesalahan besar yang dilakukan oleh anak Adam. Banyak orang yang terjerumus ke dalamnya akan tetapi mereka tidak menyadarinya.

Jika anda terjerumus di dalam perbuatan ghibah ini, maka anda seperti orang yang  mengumpulkan air dalam panci yang bocor.

Bisakah kiranya panci itu menampung air yang anda taruh di dalamnya?

Sekali-kali tidak! Air itu tentu akan mengalir keluar dan panci akan kembali dalam keadaan kosong.

Beginilah gambaran orang yang melakukan ghibah, semua kebaikan dan jerih payahnya akan mengalir kepada orang lain.

Saudaraku.

Tahukah anda bagaimana cara mengontrol hawa nafsu? Atau lebih gampangnya, tahukah anda bagaimana cara menyumbat panci bocor tersebut sehingga kebaikanmu tidak akan mengalir keluar?

Jalan keluar satu-satunya ialah dengan memperkuat keimananmu kepada Allah Ta’ala.

Hal itu tidak mungkin tercapai kecuali jika anda menjaga shalat dengan baik.

Jika anda termasuk orang-orang yang hatinya terpaut di masjid, jika anda termasuk orang yang jika ketinggalan takbiratul ihram dalam shalat jamaah, maka anda merasa bersedih, hati anda terasa terbakar, dan anda sangat menyesali kejadian tersebut.

Janganlah anda lupa, bahwa obat yang akan segera menyembuhkan penyakit ghibah adalah shalat malam (tahajud).

Banyak orang telah mencobanya dan ternyata mereka merasakan bahwa shalat malam tersebut dapat menjadi benteng yang kuat untuk menjaga lidah dari penyakit ghibah dan namimah (mengadu domba).

Bukankah shalat bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar? Allah Ta’ala berfirman,

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

“Dan dirikanlah shalat.Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar .” (QS. Al-Ankabut: 45)

Tunggu apalagi saudaraku. Tinggalkanlah ghibah, perbanyaklah ibadah sunnah sebagai penyempurna ibadah yang wajib.

Semoga kita termasuk orang-orang yang meninggal dalam keadaan husnul khatimah. Amin.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]