Beranda Kisah-Sejarah Kisah Nyata Tak Pernah Ghibah, Orang ini Meninggal Dalam Husnul Khatimah

Tak Pernah Ghibah, Orang ini Meninggal Dalam Husnul Khatimah

0
Kursi (hdw)

Semua makhluk yang hidup di dunia ini akan meninggal dunia, entah dia orang baik atau pun orang jahat. Seseorang bisa meninggal dalam keadaan husnul khatimah (akhir yang baik) atau suul khatimah (akhir yang buruk).

Semua amalan manusia selama hidup di dunia akan berpengaruh ketika dia meninggal dunia.

Bagaimana dia hidup di dunia, begitulah pula ajalnya. Jika dia orang baik, maka baik pula kesudahannya.

Ada sebuah kisah menarik tentang husnul khatimah yang ditulis Dr. dr. Khalid bin Abdul Aziz Al-Jabir dalam bukunya, Musyahadat Thabîb Qashash Waqi’iyah. Berikut ini kisahnya:

Saat menunggu penerimaan gelar Doktor saya mengambil cuti dua minggu.

Pada suatu malam saya membaca dan mengulang-ulang kembali materi tulisan disertasi saya. Saat itu, waktu menunjukkan pukul dua malam.

Tiba-tiba timbul keinginan kuat dalam diri saya untuk datang ke rumah sakit, maka segera saya membawa buku-buku dan pergi ke rumah sakit.

Setibanya di ruangan bagian Pengobatan Saluran Kencing, seorang perawat berkebangsaan Inggris mengatakan kepadaku,

“Dokter, ada seorang pasien yang sedang menghadapi sakaratul maut, saya harap anda mau menyalatinya.”

Maksudnya mentalqinkannya. Saya menanyakan penyakit pasien tersebut, ia menjawab,

“Ia terserang kanker Urinary Bladder (kandung kemih), kanker tersebut telah menyebar ke seluruh tubuhnya hingga mencapai ke otaknya, pasien tersebut telah hilang kesadarannya sejak empat minggu yang lalu.”

Saya lalu menanyakan kondisi pasien saat ini. Perawat itu menerangkan,

“Detak jantungnya lemah sekali, antara dua puluh hingga tiga puluh permenit, tekanan maksimal sekitar empat puluh.”

Saya berkata, “Siapa namanya?”

Perawat itu menjawab, “Fuad.”

Saya bertanya lagi, “Berapa umurnya?”

Ia menjawab, “Empat puluh tahun.”

Sejurus kemudian, saya memasuki ruang perawatan pasien tersebut. Tahukah anda apa yang saya lihat?

Saya melihat wajah putih kemerah-merahan dan segar, sehingga saya ragu betulkah orang ini yang dimaksud?

Saya bertanya kepada perawat tersebut,

“Inikah orangnya?”

Ia menjawab, “Ya.”

Sungguh, saya sangat heran dengan kondisi pasien yang segar bugar jika merujuk dari keterangan perawat tadi.

Lalu saya mendekatinya, dengan tanpa sadar saya menghadapkannya ke arah kiblat.

Saya memanggil orang tersebut, “Fuad?”

Ia menyahut, “Ya.”

Saya katakan, “Ucapkanlah Asyhadu alla ilaha illallah wa anna Muhammad Rasulullah.”

Ia pun mengucapkannya, serta merta ruhnya keluar menghadap Tuhannya.

Perawat yang menemaniku merasa keheranan, bagaimana mungkin pasien itu menyahut panggilanku dalam keadaan sakaratul maut?

Apalagi ia telah kehilangan kesadarannya sejak empat minggu yang lalu?

Perawat itu memintaku untuk menghubungi keluarganya, dan memberitahukan kematian pasien tersebut.

Maka saya menghubungi salah seorang saudaranya agar segera datang ke rumah sakit.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]

Berlanjut ke Tak Pernah Ghibah, Orang ini Meninggal Dalam Husnul Khatimah (Bagian 2)