Beranda Ilmu Islam Tidak Ada Amalan Khusus di Bulan Rajab (Bagian 2)

Tidak Ada Amalan Khusus di Bulan Rajab (Bagian 2)

0
Bulan sabit (hdw)

Lanjutan dari Tidak Ada Amalan Khusus di Bulan Rajab

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengatakan,

“Tidak terbukti adanya hadits Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tentang kemuliaan bulan Rajab, bahkan secara umum hadits yang beredar adalah merupakan suatu kebohongan (palsu).”

Al-Hafidz Ibnu Hajar mengatakan,

“Tidak terdapat hadits shahih yang dapat dijadikan landasan, yang menyebutkan kemuliaan bulan Rajab, baik untuk berpuasa pada bulan tersebut, atau pun berpuasa pada hari tertentu, dan juga qiyamullail pada malam tertentu.”

Jika seseorang yang berpuasa pada hari-hari tertentu pada bulan Rajab, dengan berlandaskan hadits-hadits lain, seperti berpuasa ayyamul bidh (13,14,15 bulan hijriyah), hari senin  dan kamis, atau sehari berpuasa dan sehari berbuka (puasa Nabi daud), tanpa mengkhususkannya pada bulan tersebut, maka hal itu tidak mengapa.

Mengenai umrah pada bulan Rajab, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak pernah melakukannya dan juga tidak menganjurkannya.

Diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, dia berkata,

وَمَا اعْتَمَرَ فِي رَجَبٍ قَطُّ

“Dan tidaklah beliau -Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam– pernah melakukan umrah pada bulan Rajab.” (HR. Muslim).

Semua umrah yang dilakukan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah pada bulan Dzulqa’dah.

Di dalam masyarakat juga menyebar suatu pemahaman, bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab.

Keyakinan ini tidak bisa dibenarkan, karena tidak ada dalil yang tegas dan shahih dari Al-Qur`an, hadits dan pernyataan dari kalangan salaf tentang itu.

Namun, seandainya hal tersebut benar, maka kaum muslimin tidak disyariatkan untuk memperingatinya dengan ibadah tertentu, atau dengan mengumpulkan masyarakat untuk acara tertentu, karena tidak ada dalil yang memerintahkan hal tersebut.

Kita yakin, bahwa peristiwa Isra’ Mi’raj merupakan salah satu dari kemuliaan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang paling utama, cukuplah bagi seorang mukmin untuk mengikuti yang datang dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah Rahimahullah mengatakan,

”Tidak terdapat satu dalil pun yang diketahui untuk memuliakan bulan ini, berpuasa pada tanggal 10, atau sebulan penuh.

Akan tetapi dalil-dalil yang ada, sanadnya terputus, berbeda-beda, tidak ada yang pasti.

Tidak disyariatkan bagi kaum muslimin untuk mengkhususkan suatu malam yang diduga sebagai malam Isra` Mi’raj, dengan mengadakan ibadah shalat atau, lainnya kecuali pada lailatul qadar.”

Ya Allah, datangkanlah bulan ini kepada kami dengan ketenteraman dan keimanan, keselamatan dan keislaman, dan petunjuk untuk melakukan amala yang engkau cintai dan ridhai wahai Dzat Yang Maha Penyayang.

Demikian ditulis kembali dari Durus Al-Am karya Abdul Malik Al-Qasim.

[Abu Syafiq/BersamaDakwah]