Beranda Ilmu Islam Hadits Tidak Shahih Sebuah Hadits Jika Tidak Penuhi A Sampai E Syarat Ini

Tidak Shahih Sebuah Hadits Jika Tidak Penuhi A Sampai E Syarat Ini

0
onislam

Shahih itu lawan dari saqim (sakit atau lemah). Hakikinya ditujukan bagi tubuh, sedangkan arti majaz (kiasan) ditujukan hadits atau pun seluruh pengertian.

Kalau hadits shahih?

Secara istilah, bermakna, hadits yang sanadnya bersambung melalui riwayat rawi yang adil dan dlabith dari rawi yang semisal hingga akhir sanad, tanpa ada syudzudz maupun ‘ilat.

Syarat-syarat sebuah hadits bisa digolongkan sebagai hadits shahih harus memenuhi syarat, yaitu;

A. Sanadnya bersambung; setiap rawi mengambil haditsnya secara langsung dari orang di atasnya, dari awal sanad hingga akhir sanad.

B. Para perawinya adil; setiap rawi harus muslim, baligh, berakal, tidak fasik dan tidak buruk tingkah lakunya.

C. Para perawinya dlabith; setiap rawi harus sempurna daya ingatnya, baik ingatan dalam benak atau pun tulisan.

D. Tidak ada i’lat; haditsnya tidak ma’lul (cacat). ‘Ilat adalah penyebab samar lagi tersembunyi yang bisa mencemari shahihnya sebuah hadits, meski secara dhahir kelihatan terbebas dari cacat.

E. Tidak ada syadz; syudzudz berarti haditsnya tidak menyelisihi dengan hadits yang diriwayatkan oleh orang yang lebih tsiqoh dibandingkan dirinya.

Apabila salah satu dari A-E syarat itu tidak terpenuhi, maka sebuah hadits tidak bisa digolongkan sebagai hadits shahih.

Contoh;
Hadits yang dikeluarkan oleh Bukhari dalam Shahihnya berkata:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ فِي الْمَغْرِبِ بِالطُّورِ

Telah bercerita kepada kami Abdullah bin Yusuf, yang berkata telah mengabarakan kepada Malik dari Ibnu Syihab dan Muhammad bin Jabir bin Muth’im dari bapaknya, yang berkata aku mendengar Rasulullah saw membaca surat at-Thur di waktu (shalat) Maghrib.

Hadits ini shahih, karena:

a. Sanadnya bersambung, sebab masing-masing rawi yang meriwayatkannya telah mendengar haditsnya dari syekh (gurunya). Sedangkan adanya ‘an’anah (hadits yang diriwayatkan dari gurunya dengan menggunakan lafadz ‘an) yaitu Malik, Ibnu Syihab dan Ibnu Jabir, termasuk bersambung, karena mereka bukan penipu (mudallis).

b. Para perawinya tergolong adil dan dlabith. Kriteria mengenai mereka (para perawi hadits itu) telah ditentukan oleh para ulama jarh wa at-ta’dl yaitu;

Abdullah bin Yusuf: orangnya tsiqoh (terpercaya) dan mutqin (cermat).
Malik bin Anas: adalah imam sekaligus hafidh.
Ibnu Syihab az-Zuhri: orangnya faqih, hafidh, disepakati tentang ketinggian dan kecermatannya.
Muhammad bin Jabir: tsiqoh
Jubair bin Muth’im: sahabat.

c. Tidak ada syadz, karena bertentangan dengan perawi yang kuat.

d. Tidak ada ‘ilat (cacat) di dalamnya.

Wallahua’lam. [Paramuda/ BersamaDakwah]

Sumber: Mustholah hadits dalam terjemahan DR. Mahmud Thahan

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.