Beranda Suplemen Ramadhan Waspadai Berucap “Kapan Ramadhan Selesai Sih?”

Waspadai Berucap “Kapan Ramadhan Selesai Sih?”

0
Unsplash

Ramadhan adalah sebuah kesempatan. Ramadhan adalah tentang berlimpahnya berkah dari segala arah. Namun tak sedikit yang mengucapkan kalimat yang seolah-olah Ramadhan segera enyah dan pergi dari kehidupan tahun ini.

“Lebaran masih lama ya?”

“Ramadhan kapan berakhirnya ya? Lama sekali. Sehari kayak sebulan tahu!”

Suatu kali ada seorang pemuda. Ini kisah nyata. Dalam bulan-bulan biasanya ia jarang sekali sholat. Namun ketika Ramadhan datang dia berniat puasa penuh dan itu sudah terlaksana hingga tengah perjalanan. Sehabis Subuh dia tidur lagi, tidurnya lama sekali. Tahukah kau kapan dia bangun? Dia bangun ketika menjelang Maghrib. Sholat-sholat wajibnya bablas bin amblas.

“Tidur orang puasa kan berpahala,” kilahnya begitu.

Ketika malam hari dia keluyuran. Hingga larut malam. Suatu siang dia dibangunkan seorang teman. Diguncang-guncang tubuhnya. Lalu ia bangun.

“Teman kamu meninggal!” kata si pembangun tadi dengan menyebut teman yang meninggal.

“Ah, tidak mungkin. Tidak mungkin. Semalam dia habis mengantar saya pulang jam 12 malam!”

Ternyata benar, teman tersebut meninggal dunia usai mengantar sang pemuda. Nyawa hilang karena kecelakaan. Pemuda itu merasa waktu bergulir cepat, ia merasa waktunya habis untuk tidur sehingga terlambat mengetahui teman baiknya meninggal dunia dengan begitu cepat.

Kisah lain, dari Abdul Malik, anak dari Umar bin Abdul Aziz. Ketika itu umurnya 17 tahun.

“Apa yang ingin Anda lakukan wahai amirul mukminin?” katanya.

“Wahai anakku, aku ingin memejamkan mata barang sejenak karena sudah tak ada lagi tenaga yang tersisa.” ucap Umar bin Abdul Aziz.

Abdul Malik pun bertanya lagi, “Apakah Anda akan tidur sebelum mengembalikan hak orang-orang yang dizalimi wahai Amirul Mukminin?”

“Wahai anakku, aku telah begadang semalaman untuk mengurus pemakaman pamanmu Sulaiman, nanti bila telah datang waktu zuhur aku akan shalat bersama orang-orang dan akan aku kembalikan hak orang-orang yang dizalimi kepada pemiliknya, insya Allah,” jawab Umar bin Abdul Aziz.

Abdul Malik lalu bertanya lagi, kali ini dengan kalimat yang sangat berbeda. “Siapa yang menjamin bahwa Anda masih hidup hingga datang waktu zuhur wahai amirul mukminin?”

Kalimat itu benar-benar penuh tamparan. Kata-kata tersebut menggugah semangat Umar, hilanglah rasa kantuknya, kembalilah semua kekuatan dan tekad pada jasadnya yang telah lelah.

Sungguh, waktu dan kematian adalah dua hal yang sulit diduga ujungnya. Jika sudah terjadi keduanya akan sulit kembali. Demikian pun dengan Ramadhan. Ia bukanlah waktu yang biasa didaya guna. Banyak rahmat berkelindan untuk dijemput dan dimanfaatkan. Waktu-waktu yang mustajab untuk meminta harap.

Orang yang beriman akan cenderung mengungkap pada diri, “Ya Allah, Ramadhan mengapa begitu cepat berjalan? Sementara amalanku belum penuh. Khatam Al-Qur’an baru sekali jalan, sedekah ala kadar, i’tikaf terpangkas waktu pulang kampung…semoga kau pertemukan kembali di tahun yang akan datang,”

Sebaliknya, berkata yang seperti di awal paragraf ini perlu diwaspadai. Indikasi diri kita enggan dengan kebaikan-kebaikan.

Jika setan itu telah dibelenggu di bulan mulia, mengapa masih tergoda? Sebab setan telah mengubah wujud menjadi nyata. Kita.  [Paramuda/ BersamaDakwah]