Beranda Quran 008 Al-Anfal Surat Al-Anfal Ayat 7: Arti per Kata dan Tafsir

Surat Al-Anfal Ayat 7: Arti per Kata dan Tafsir

0
surat al-anfal ayat 7

Surat Al-Anfal Ayat 7 dan Artinya

وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ أَنَّهَا لَكُمْ وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ وَيُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ (٧)

Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir, (QS. Al-Anfal: 7)

< Al-Anfal ayat 6Al-Anfal ayat 8 >

Surat Al-Anfal Ayat 7 Arti per Kata

dan ketikaوَإِذْ
menjanjikan kepada kalianيَعِدُكُمُ
Allahاللَّهُ
salah satuإِحْدَى
dua golongan ituالطَّائِفَتَيْنِ
bahwa iaأَنَّهَا
untuk kalianلَكُمْ
dan kalian menginginkanوَتَوَدُّونَ
bahwaأَنَّ
tidakغَيْرَ
mempunyaiذَاتِ
kekuatan senjataالشَّوْكَةِ
adalah iaتَكُونُ
untuk kalianلَكُمْ
dan Dia menghendakiوَيُرِيدُ
Allahاللَّهُ
untukأَنْ
membenarkanيُحِقَّ
kebenaranالْحَقَّ
dengan kalimat-Nyaبِكَلِمَاتِهِ
dan Dia memusnahkanوَيَقْطَعَ
Seluruhدَابِرَ
orang-orang kafirالْكَافِرِينَ

Baca juga: Ayat Kursi

Tafsir Surat Al-Anfal Ayat 7

Berikut ini tafsir Surat Al-Anfal ayat 7 dari Tafsir Al-Muyassar karya Syekh ‘Aidh Al-Qarni serta Tafsir Jalalain karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti. Lalu, Tafsir Al-Wajiz karya Syekh Wahbah Az-Zuhaili dan Tafsir Zadul Masir karya Ibnu Jauzi. Terakhir, Tafsir Ibnu Katsir.

Tafsir Al-Muyassar

Ingatlah ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menjanjikan kepada kalian antara rombongan berkendara unta dari Syam yang membawa bahan makanan dan rombongan Quraisy bersenjata yang datang dari Mekkah. Lantas, kalian menghendaki rombongan berkendara unta yang tidak bersenjata agar barang-barang mereka menjadi rambatan perang yang mudah bagimu tanpa melalui peperangan.

Hanya saja, Allah Subhanahu wa Ta’ala hendak memuliakan agamanya dan mengalahkan orang-orang kafir sekaligus menguji orang-orang yang beriman. Juga agar Rasul-Nya dan kalian menang sehingga kebenaran lebih unggul atas kebatilan dan para penganutnya. Juga agar orang-orang kafir musnah hingga ke akar-akarnya.

Tafsir Jalalain

Dan ingatlah ketika Allah menjanjikan kepadamu salah satu dari dua golongan yakni rombongan kafilah atau pasukan bersenjata bahwa salah satu dari dua golongan yang kamu hadapi adalah untukmu, sedangkan kamu menginginkan kalian hanya menghendaki bahwa golongan yang tidak mempunyai kekuatan senjatalah golongan yang tidak mempunyai kekuatan dan persenjataan, yaitu golongan kafilah dagang yang untukmu mengingat pengawalnya sedikit dan persenjataannya pun tidak lengkap, berbeda dengan golongan pasukan bersenjata.

dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar menampakkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya yang dahulu melalui kemenangan Islam dan memusnahkan orang-orang kafir kekuatan mereka dengan mengalahkan mereka, maka Dia memerintahkan kalian untuk memerangi pasukan bersenjata mereka.

Tafsir Al-Wajiz

Dan ingatlah, wahai orang-orang mukmin, ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan yang kamu hadapi adalah untukmu. Yaitu Al ‘iir kafilah Quraisy dari Syam atau kelompok tentara Quraisy. Sedang kamu menginginkan bahwa kelompok Al ‘iir yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang menjadi milikmu.

Allah menghendaki untuk membenarkan janji-Nya kepada orang-orang mukmin dengan pertolongan selain ini, yaitu pertolongan kepada agama Islam dan orang mukmin untuk membela ayat-ayat-Nya yang turun kepada Rasul untuk memerangi dan memusnahkan orang-orang kafir dan musyrik. Daabirul kafirin atau kelompok lain yang datang dari belakang mereka. Ini adalah kinayah atas kedekatan mereka dengan kebinasaan.

Tafsir Zadul Masir

Firman Allah Ta‘ala:

وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ

Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan… (QS. Al-Anfal: 7)

Para ahli tafsir berkata: Abu Sufyan berangkat dari Syam membawa kafilah dagang Quraisy. Ketika ia telah mendekati Badar, Jibril turun dan memberitahukan hal itu kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau kemudian keluar bersama sejumlah sahabatnya untuk menghadapi mereka.

Berita tentang keberangkatan kaum Muslimin sampai kepada Quraisy. Mereka lalu mengutus ‘Amr bin Dhamdham al-Ghifari ke Makkah untuk meminta pertolongan. Maka Quraisy pun keluar untuk melindungi kafilah tersebut. Sementara itu, Abu Sufyan mengambil jalur menyusuri pantai sehingga berhasil lolos dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Kemudian Jibril turun membawa ayat ini:

وَإِذْ يَعِدُكُمُ اللَّهُ إِحْدَى الطَّائِفَتَيْنِ

Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan… (QS. Al-Anfal: 7)

Yang dimaksud dengan dua golongan tersebut adalah Abu Sufyan beserta harta yang dibawanya, dan Abu Jahl beserta orang-orang Quraisy yang bersamanya.

Ketika Abu Sufyan telah berhasil membawa kafilah beserta harta yang dibawanya lolos, ia mengirim surat kepada Quraisy: “Jika kalian keluar untuk menyelamatkan barang-barang dagangan kalian, sungguh aku telah berhasil menyelamatkannya untuk kalian.”

Abu Jahl berkata, “Demi Allah, kita tidak akan kembali.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian terus berjalan untuk menghadapi kaum tersebut. Para sahabat beliau tidak menyukai hal itu dan mereka berharap seandainya mereka dapat memperoleh golongan yang membawa harta rampasan tanpa harus berperang. Inilah yang dimaksud dalam firman Allah:

وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ

…sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu… (QS. Al-Anfal: 7)

Yakni, “dan kalian menginginkan agar yang tidak mempunyai kekuatan persenjataan itulah yang kalian hadapi.”

الشَّوْكَةُ berarti senjata atau kekuatan persenjataan. Dikatakan, فُلَانٌ شَاكِي السِّلَاحِ, dengan meringankan huruf kaf, dan شَاكٌّ فِي السِّلَاحِ, dengan tasydid, serta شَائِكٌ.

Abu ‘Ubaidah berkata: “Makna kiasan dari الشوكة adalah ketajaman.” Dikatakan, مَا أَشَدَّ شَوْكَةَ بَنِي فُلَانٍ, yang berarti, “Betapa kuat dan tajam kekuatan Bani Fulan,” yakni kekuatan mereka.

Al-Akhfasy berkata: Kata ذَاتِ الشَّوْكَةِ menggunakan bentuk muannats karena yang dimaksud adalah الطَّائِفَةُ (golongan), yang merupakan kata benda feminin.

Firman Allah Ta‘ala:

وَيُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ

dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar… (QS. Al-Anfal: 7)

Tentang apa yang dimaksud dengan al-haqq (kebenaran) terdapat dua pendapat.

Pertama, yang dimaksud adalah Islam. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dan beberapa ulama lainnya.

Kedua, yang dimaksud adalah Al-Qur’an. Maknanya: Allah hendak meneguhkan apa yang telah Dia turunkan kepadamu berupa Al-Qur’an.

Firman Allah Ta‘ala:

بِكَلِمَاتِهِ

…dengan ayat-ayat-Nya… (QS. Al-Anfal: 7)

Yakni, dengan ketetapan-ketetapan-Nya yang telah terdahulu mengenai kemenangan dan kejayaan agama, sebagaimana firman-Nya:

لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ

“Agar Dia memenangkan agama itu atas seluruh agama.” (QS. At-Taubah: 33)

Firman Allah Ta‘ala:

وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكَافِرِينَ

…dan memusnahkan orang-orang kafir, (QS. Al-Anfal: 7)

Yakni, “dan memutuskan sampai ke akar orang-orang kafir”, yaitu mencabut mereka hingga ke pangkal dan membinasakan akar mereka. Kami telah menjelaskan makna ini dalam pembahasan QS. Al-An‘am ayat 45.

Tafsir Ibnu Katsir

Makna firman Allah Ta‘ala:

وَتَوَدُّونَ أَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُونُ لَكُمْ

sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu… (QS. Al-Anfal: 7)

adalah: kalian menginginkan agar golongan yang tidak memiliki kekuatan, pertahanan, dan kemampuan untuk berperang itulah yang menjadi milik kalian, yaitu kafilah dagang.

وَيُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمَاتِهِ

dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya… (QS. Al-Anfal: 7)

Maksudnya, Allah menghendaki agar Dia mempertemukan kalian dengan golongan yang memiliki kekuatan dan kemampuan berperang, agar Dia memberikan kemenangan kepada kalian atas mereka, menjadikan kalian unggul atas mereka, menampakkan agama-Nya, meninggikan kalimat Islam, dan menjadikannya unggul atas agama-agama lainnya.

Dia lebih mengetahui akibat segala sesuatu. Dialah yang mengatur urusan kalian dengan pengaturan-Nya yang baik, meskipun para hamba menginginkan sesuatu yang berbeda berdasarkan apa yang tampak bagi mereka. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Diwajibkan atas kalian berperang, padahal itu kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Muhammad bin Ishaq—semoga Allah merahmatinya—berkata:

Muhammad bin Muslim az-Zuhri, ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah, ‘Abdullah bin Abi Bakr, Yazid bin Ruman, dari ‘Urwah bin az-Zubair, dan ulama-ulama kami yang lainnya, meriwayatkan kepadaku dari ‘Abdullah bin ‘Abbas—masing-masing dari mereka meriwayatkan sebagian kisah ini kepadaku, sehingga riwayat mereka berpadu dalam kisah Perang Badar yang aku kemukakan berikut ini.

Mereka berkata: Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendengar bahwa Abu Sufyan sedang datang dari Syam, beliau mengajak kaum Muslimin untuk menghadapi mereka. Beliau bersabda:

“Ini adalah kafilah dagang Quraisy yang membawa harta mereka. Berangkatlah untuk menghadapi mereka. Mudah-mudahan Allah memberikan harta itu kepada kalian sebagai rampasan.”

Maka orang-orang pun menyambut seruan tersebut. Sebagian berangkat dengan ringan hati, sementara sebagian lainnya merasa berat. Hal itu karena mereka tidak menyangka bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam akan menghadapi suatu peperangan.

Sementara itu, ketika Abu Sufyan telah mendekati Hijaz, ia mengerahkan kewaspadaan dengan mencari-cari berita dan menanyakan kepada para pengembara yang ditemuinya karena khawatir terhadap keselamatan rombongannya. Hingga akhirnya ia memperoleh berita dari salah seorang pengembara bahwa Muhammad telah mengerahkan para sahabatnya untuk menghadapi dirinya dan kafilahnya.

Saat itu Abu Sufyan menjadi waspada. Ia kemudian menyewa Dhamdham bin ‘Amr al-Ghifari dan mengutusnya kepada penduduk Makkah. Ia memerintahkannya agar mendatangi Quraisy, meminta mereka segera berangkat untuk menyelamatkan harta mereka, dan memberitahukan bahwa Muhammad telah menghadangnya bersama para sahabatnya.

Dhamdham bin ‘Amr pun segera berangkat menuju Makkah.

Sementara itu, Rasulullah ﷺ bersama para sahabatnya terus berjalan hingga sampai di sebuah lembah yang disebut Dzafiran. Beliau kemudian meninggalkan lembah tersebut. Ketika telah berada di suatu tempat di sana, datanglah berita bahwa Quraisy sedang bergerak untuk melindungi kafilah mereka.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bermusyawarah dengan para sahabat. Beliau memberitahukan kepada mereka tentang pergerakan Quraisy.

Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu berdiri dan menyampaikan pendapatnya dengan baik. Kemudian ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berdiri dan menyampaikan pendapatnya dengan baik pula.

Setelah itu, al-Miqdad bin ‘Amr berdiri dan berkata: “Wahai Rasulullah, lanjutkanlah apa yang Allah perintahkan kepadamu. Kami akan bersamamu. Demi Allah, kami tidak akan mengatakan kepadamu sebagaimana Bani Israil berkata kepada Musa: ‘Pergilah engkau bersama Tuhanmu, lalu berperanglah kalian berdua. Sesungguhnya kami akan tetap duduk di sini.’ (QS. Al-Ma’idah: 24). Namun, pergilah engkau bersama Tuhanmu dan berperanglah; sesungguhnya kami akan berperang bersamamu.

Demi Zat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, seandainya engkau membawa kami berjalan hingga ke Bark al-Ghimad—yakni sebuah kota di Habasyah—niscaya kami akan berjuang bersamamu hingga engkau sampai ke sana.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun memberikan tanggapan yang baik kepadanya dan mendoakannya dengan kebaikan.

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berikanlah pendapat kalian kepadaku, wahai manusia.”

Yang beliau maksud dengan “manusia” adalah kaum Anshar.

Hal itu karena kaum Anshar merupakan jumlah terbesar di antara mereka. Ketika mereka berbaiat kepada beliau di ‘Aqabah, mereka berkata:

“Wahai Rasulullah, kami tidak terikat dengan tanggung jawab untuk melindungimu sampai engkau tiba di negeri kami. Jika engkau telah sampai kepada kami, maka engkau berada dalam perlindungan kami. Kami akan melindungimu dari segala sesuatu yang kami gunakan untuk melindungi anak-anak dan istri-istri kami.”

Karena itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam khawatir bahwa kaum Anshar hanya menganggap mereka berkewajiban menolong beliau jika musuh menyerang beliau di Madinah. Beliau khawatir mereka tidak merasa berkewajiban untuk ikut berjalan bersama beliau menghadapi musuh di luar negeri mereka.

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan hal tersebut, Sa‘d bin Mu‘adz berkata: “Demi Allah, sepertinya yang engkau maksud adalah kami, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Benar.”

Sa‘d berkata: “Sungguh, kami telah beriman kepadamu, membenarkanmu, dan bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah kebenaran. Kami telah memberikan kepadamu janji dan ikrar kami untuk mendengar dan taat. Maka, berjalanlah wahai Rasulullah menuju apa yang engkau kehendaki.

Demi Zat yang mengutusmu dengan membawa kebenaran, seandainya engkau membawa kami menyeberangi lautan ini lalu engkau menerjangnya, niscaya kami akan menerjangnya bersamamu. Tidak seorang pun dari kami akan tertinggal.”

Kami tidak keberatan apabila engkau membawa kami menghadapi musuh kita besok. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang sabar dalam peperangan dan teguh ketika berhadapan dengan musuh. Mudah-mudahan Allah memperlihatkan kepadamu dari kami sesuatu yang menyejukkan matamu.

Maka berjalanlah bersama kami dengan keberkahan Allah.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam merasa gembira mendengar perkataan Sa‘d. Perkataan itu semakin membangkitkan semangat beliau. Kemudian beliau bersabda:

“Berjalanlah dengan keberkahan Allah dan bergembiralah! Sesungguhnya Allah telah menjanjikan kepadaku salah satu dari dua golongan. Demi Allah, seakan-akan sekarang aku dapat melihat tempat-tempat terbunuhnya mereka.”

Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas riwayat yang serupa. Demikian pula yang dikatakan oleh as-Suddi, Qatadah, ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam, serta sejumlah ulama dari kalangan ulama salaf dan khalaf. Kami meringkas pendapat-pendapat mereka dengan mencukupkan diri pada riwayat Muhammad bin Ishaq.

< SebelumnyaSuratBerikutnya >
Al–Anfal ayat 6Al-AnfalAl-Anfal ayat 8

SILAKAN BERI TANGGAPAN

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini