Beranda Suplemen Renungan Arogansi Kaum Berpeci di Rumah Allah

Arogansi Kaum Berpeci di Rumah Allah

sumber gambar: www.ifrap.org

Suasana shalat jamaah mendadak menjadi cekam menakutkan. Buru-buru menunggu ucapan salam kedua dari imam, para jamaah sudah menumpuk kesal di dalam jiwa masing-masing. Dongkol. Marah. Tiada ampun.

Tepat sedetik setelah salam kedua, bahkan kalimat astaghfirullahal ‘azhim belum sempat diucapkan, mata mereka seperti dikomando, tertuju kepada sesosok bocah tanpa dosa; anak kecil yang usianya belum genap tiga tahun.

“Ganggu konsentrasi!” sumpah satu jamaah berbusana serbaputih lengkap dengan peci dan surban. “Anaknya siapa ini?” seru jamaah lain, matanya sibuk berkeliling ke sesama jamaah, mencari orang tua dari bocah tanpa dosa itu. “Bukannya khusyuk, shalat jadi gak enak. Kepala diinjak-injak!” tukas jamaah berbadan tambun, jubahnya wangi, rapi bekas setrika.

Dalam waktu dan tempat yang berbeda, kejadian serupa ini sering terulang. Arogansi kaum berpeci, yang mungkin merasa suci sehingga harus melampiaskan kemarahannya. Bukan membela anak kecil yang berlarian di depan jamaah shalat, tapi tindakan kasar mereka yang sudah lanjut usia ini tidak sertamerta bisa dibenarkan.

Anak kecil yang langsung dihakimi dalam kasus di atas, pun orang tuanya, bisa mengalami episode hidup yang berubah selepas kejadian itu. Alih-alih kapok, si anak bisa saja terus merengek ketika ayahnya hendak mendirikan shalat berjamaah di masjid, dan kembali berlarian saat jamaah tengah mendirikan shalat.

Sang ayah, sebab merasa tidak enak kepada jamaah lain yang terganggu, amat mungkin berangkat ke masjid dengan bersembunyi, atau benar-benar absen dari mendirikan shalat berjamaah. Mending di rumah, daripada menganggu jamaah lain, daripada anaknya dimarahi, daripada mengundang kemarahan orang yang beribadah.

Di dalam kasus remeh yang terulang ini, hendaknya ada tindakan bijaksana dari semua pihak. Bagi orang tua yang berniat mendidik anaknya sejak kecil untuk beribadah di masjid, hendaknya memberikan edukasi kepada anaknya. Dengan nasihat. Dari hati ke hati. Dengan sepenuh jiwa.

Bagi jamaah masjid, hendaknya mereka juga berlaku bijak. Tidak bisakah bersabar sejenak untuk tidak melontarkan sumpah, kemarahan, dan caci maki kepada anak kecil yang belum mampu menggunakan nalarnya? Berpikirlah sejenak. Berlakulah bijaksana. Sebab, amat mungkin, kemarahan yang dilontarkan kepada anak kecil dan orang tuanya itu menjadi pemicu bagi absennya mereka dari shalat berjamaah, mulai esok hari dan seterusnya.

Jika demikian, tidakkah Anda, kaum berpeci yang marah-marah di Rumah Allah Ta’ala turut menanggung dosa tersebut?

Wallahu a’lam. [Pirman/BersamaDakwah]

2 KOMENTAR

  1. Bagaimana perasaannya nya sang ayah, ketika anaknya di bawa k masjid, tp malah mngganggu ibadah org lain?
    Klu mngganggu dirinya sndiri mngkin bliau akan lbh mdh memaklimi, tp ktka mnganggu org lain??
    Dan mengenai kaum berpeci??? trkesan ada sentimen apa nh? Ma’af…

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.