Beranda Suplemen Renungan Rame Dikerjakan Oknum Kaum Muslimin, Padahal Allah Melarangnya

Rame Dikerjakan Oknum Kaum Muslimin, Padahal Allah Melarangnya

ilustrasi cerai-berai @mankaq.blogspot.com

Hidup di akhir zaman merupakan ujian yang berat. Ada begitu banyak fitnah yang terjadi. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita harus mengalaminya. Fitnah-fitnah akhir zaman itu tersebar di banyak sendi kehidupan. Mulai dari bidang syubhat aqidah, salah paham tentang konsep hidup, klaim ajaran paling benar, munculnya berbagai jenis pemahaman yang terkesan islami padahal merusak, hingga maraknya ajaran sesat dan banyak pula pengikutnya.

Akhirnya, kaum Muslimin tidak bersatu. Kaum Muslimin terpecah ke dalam banyak golongan. Persatuan yang seharusnya niscaya justru banyak diingkari. Ajaran-ajaran Islam tentang buruknya perpecahan seperti hilang, tiada atsar yang bisa kita saksikan dalam tubuh kamu Muslimin akhir zaman ini.

Inilah yang kini menjadi rame. Banyak pengikutnya. Banyak pemasarnya. Mereka merasa benar. Mereka merasa hebat. Mereka merasa mampu meng-kapling surga. Mereka merasa bahwa orang lain salah dan pasti masuk ke dalam neraka.

Dampaknya amat fatal. Umat semakin jauh dari nilai kebenaran. Inilah yang menjadi salah satu fitnah terbesar kaum Muslimin. Sedang tren, padahal Allah Ta’ala melarangnya dengan amat tegas.

“Dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (Qs. al-An’am [6]: 153)

Menjelaskan ayat ini, Ali bin Abi Thalhah mengutip riwayat dari sahabat mulia ‘Abdullah bin ‘Abbas yang bertutur, “Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa berjamaah dan melarang mereka berpecah-belah. Dan Allah Ta’ala memberitahukan kepada mereka bahwa ornag-orang sebelum mereka dibinasakan karena pertengkaran dan pertentangan mengenai agama Allah Ta’ala.”

Sahabat sekalian, mari menjadi generasi pemersatu ketika banyak saudara kita yang memancing di air keruh. Mari duduk bersama sembari berbincang hangat soal umat. Tidak perlu bersitegang. Cukuplah perbedaan di antara kita disikapi dengan kepala dingin.

Duduk dengan tenang. Damaikan hati dan pikiran. Petakan masalah umat. Jangan gegabah apalagi semangat ashobiyah (fanatik golongan). Sebab kita semua bersaudara sebagai kaum Muslimin. Kita satu keluarga di bawah panji keluarga Islam. Kita bukan orang lain. Kita bukan musuh.

Tatkala kita sibuk dengan mengkalim paling benar dan menyalahkan kaum Muslimin yang lain, ada peluang bahaya yang amat besar tengah mengintai; yaitu musuh Islam yang asyik menghancurkan bangunan umat yang kokoh ini.

Wallahu a’lam. [Pirman/Bersamadakwah]