Daftar Isi
Surat Al-Anfal Ayat 4 dan Artinya
أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (٤)
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (QS. Al-Anfal: 4)
Surat Al-Anfal Ayat 4 Arti per Kata
| mereka itulah | أُولَئِكَ |
| mereka | هُمُ |
| orang-orang yang beriman | الْمُؤْمِنُونَ |
| sesungguhnya | حَقًّا |
| bagi mereka | لَهُمْ |
| beberapa derajat | دَرَجَاتٌ |
| di sisi | عِنْدَ |
| Tuhan mereka | رَبِّهِمْ |
| dan ampunan | وَمَغْفِرَةٌ |
| dan rezeki | وَرِزْقٌ |
| mulia | كَرِيمٌ |
Baca juga: Surat Al-Insyirah
Tafsir Surat Al-Anfal Ayat 4
Berikut ini tafsir Surat Al-Anfal ayat 4 dari Tafsir Al-Muyassar karya Syekh ‘Aidh Al-Qarni serta Tafsir Jalalain karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti. Tafsir Al-Wajiz karya Syekh Wahbah Az-Zuhaili dan Tafsir Zadul Masir karya Ibnu Jauzi. Terakhir, Tafsir Ibnu Katsir.
Tafsir Al-Muyassar
Orang-orang yang benar dalam imannya dan beramal dengan sebaik-baiknya itulah yang sampai kepada hakikat dan menekuni seindah-indahnya tarekat.
Mereka memperoleh kedudukan yang tinggi di sisi Rabb mereka yakni kemuliaan di surga Allah, lengkap dengan ampunan atas semua dosa sehingga tidak ada siksaan atas mereka. Mereka juga mendapatkan rezeki tanpa gangguan, karunia tanpa cela, dan kenikmatan tanpa jeda.
Tafsir Jalalain
Itulah orang-orang yang berciri khas seperti tadi mereka orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya yang tidak diragukan lagi keimanannya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian kedudukan-kedudukan di surga di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki yang mulia di surga.
Tafsir Al-Wajiz
Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya tanpa keraguan. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya di surga, ampunan, dan rezeki nikmat yang mulia di surga.
Tafsir Zadul Masir
Firman Allah Ta‘ala:
أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا
“Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman.”
Az-Zajjāj berkata: Kata حَقًّا (haqqan) berkedudukan sebagai manshub karena mengandung makna yang ditunjukkan oleh kalimat sebelumnya, yaitu {أُولَٰئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ}. Maknanya: “Benarlah hal itu secara sungguh-sungguh.” Dengan kata lain, mereka benar-benar orang-orang yang beriman.
Muqātil berkata: Maknanya adalah “Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman; tidak ada keraguan sedikit pun dalam keimanan mereka,” berbeda dengan orang-orang munafik yang keimanannya diragukan.
Firman Allah Ta‘ala:
لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ
“Bagi mereka derajat-derajat di sisi Tuhan mereka.”
‘Aṭā’ berkata: Yang dimaksud dengan derajat-derajat adalah tingkatan-tingkatan di surga yang mereka capai sesuai dengan amal-amal mereka.
Adapun وَرِزْقٌ كَرِيمٌ (dan rezeki yang mulia), maksudnya adalah segala kenikmatan dan rezeki yang telah disediakan bagi mereka di dalam surga.
Tafsir Ibnu Katsir
Dan firman-Nya:
أُولَئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا
“Mereka itulah orang-orang yang benar-benar beriman.”
Maksudnya, orang-orang yang memiliki sifat-sifat tersebut adalah orang-orang yang benar-benar sempurna keimanannya.
Al-Hafizh Abū al-Qāsim ath-Thabarānī berkata:
“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdullah al-Hadhramī, telah menceritakan kepada kami Abū Kuraib, telah menceritakan kepada kami Zaid bin al-Hubāb, telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahī‘ah, dari Khālid bin Yazīd as-Saksakī, dari Sa‘īd bin Abī Hilāl, dari Muhammad bin Abī al-Jahm, dari al-Hārits bin Mālik al-Anshārī, bahwa ia melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian beliau bertanya kepadanya: “Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai Hārits?”
Ia menjawab: “Pagi ini aku benar-benar menjadi seorang mukmin.”
Beliau bersabda: “Perhatikan apa yang engkau katakan. Sesungguhnya segala sesuatu memiliki hakikat. Lalu, apakah hakikat keimananmu?”
Ia menjawab: “Jiwaku telah berpaling dari dunia. Karena itu, malam-malamku aku lalui dengan berjaga dalam ibadah, sedangkan siang hariku aku lalui dalam keadaan haus (karena berpuasa). Seakan-akan aku melihat ‘Arsy Tuhanku tampak di hadapanku. Seakan-akan aku melihat para penghuni surga saling berkunjung di dalamnya. Dan seakan-akan aku melihat para penghuni neraka saling merintih di dalamnya.”
Maka beliau bersabda: “Wahai Hārits, engkau telah mengetahui hakikatnya, maka tetaplah engkau berada di atasnya.’
Beliau mengucapkannya tiga kali.”
‘Amr bin Murrah berkata mengenai firman Allah tersebut: “Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa Arab. Sebagai contoh, orang Arab mengatakan: ‘Fulan adalah seorang pemimpin sejati,’ padahal di antara kaum itu terdapat banyak pemimpin. Mereka juga mengatakan: ‘Fulan adalah seorang pedagang sejati,’ padahal di antara kaum itu terdapat banyak pedagang. Demikian pula mereka mengatakan: ‘Fulan adalah seorang penyair sejati,’ padahal di antara kaum itu terdapat banyak penyair.
Demikianlah makna {الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا}, yaitu mereka adalah orang-orang yang benar-benar memiliki sifat keimanan.”
Firman Allah:
لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ
“Bagi mereka derajat-derajat di sisi Tuhan mereka.”
Maksudnya, bagi mereka tempat-tempat, kedudukan-kedudukan, dan tingkatan-tingkatan di dalam surga, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
هُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ اللَّهِ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ
“Mereka mempunyai tingkatan-tingkatan di sisi Allah, dan Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Ali Imran: 163)
Adapun firman-Nya:
وَمَغْفِرَةٌ
“Dan ampunan,”
maksudnya adalah Allah mengampuni keburukan-keburukan mereka dan menghargai serta menerima kebaikan-kebaikan mereka.
Mengenai firman Allah {لَهُمْ دَرَجَاتٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ} Adh-Dhahhāk berkata: “Para penghuni surga memiliki tingkatan yang berbeda-beda; sebagian berada di atas sebagian yang lain. Orang yang berada di tingkatan lebih tinggi dapat melihat keutamaannya dibandingkan orang yang berada di bawahnya. Namun, orang yang berada di tingkatan lebih rendah tidak merasa bahwa ada orang lain yang diberi kelebihan atas dirinya.”
Oleh karena itu, dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ أَهْلَ عِلِّيِّينَ لَيَرَاهُمْ مَنْ أَسْفَلَ مِنْهُمْ كَمَا تَرَوْنَ الْكَوْكَبَ الْغَابِرَ فِي أُفُقٍ مِنْ آفَاقِ السَّمَاءِ
“Sesungguhnya para penghuni ‘Illiyyīn dapat dilihat oleh orang-orang yang berada di bawah mereka sebagaimana kalian melihat bintang yang tampak jauh di ufuk langit.”
Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah tempat-tempat itu adalah kedudukan para nabi sehingga tidak dapat dicapai oleh selain mereka?”
Beliau menjawab:
بَلَى، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، رِجَالٌ آمَنُوا بِاللَّهِ وَصَدَّقُوا الْمُرْسَلِينَ
“Tidak. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tempat-tempat itu juga diperuntukkan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan para rasul.”
Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para penyusun kitab Sunan, dari ‘Athiyyah, dari Abū Sa‘īd, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ أَهْلَ الْجَنَّةِ لَيَتَرَاءَوْنَ أَهْلَ الدَّرَجَاتِ الْعُلَى كَمَا تَرَوْنَ الْكَوْكَبَ الْغَابِرَ فِي أُفُقِ السَّمَاءِ، وَإِنَّ أَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ مِنْهُمْ وَأَنْعَمَا
“Sesungguhnya para penghuni surga dapat saling melihat penghuni yang berada di tingkatan-tingkatan tinggi sebagaimana kalian melihat bintang yang tampak jauh di ufuk langit. Dan Abu Bakar serta Umar termasuk di antara mereka. Alangkah utama keduanya.”
| < Sebelumnya | Surat | Berikutnya > |
| Al-Anfal ayat 3 | Al-Anfal | Al-Anfal ayat 5 |
