Beranda Tazkiyah Tazkiyatun Nafs Inilah Orang Mati Syahid yang Masuk Neraka

Inilah Orang Mati Syahid yang Masuk Neraka

3
ilustrasi mujahid © alhambrainitiative.com

Jihad adalah amal yang sangat berat. Bisa dikatakan paling berat dibandingkan dengan amal-amal yang lain.

Cobalah sebutkan satu per satu amal yang kita hafal. Shalat? Shalat adalah ibadah yang membutuhkan pengorbanan waktu, gerakan fisik dan bacaan lisan serta hati. Sedangkan jihad, pengorbanan waktunya lebih lama. Jika shalat hanya hitungan menit, jihad bisa memakan waktu dalam hitungan hari hingga bulan. Jika shalat membutuhkan gerak untuk berdiri, ruku’ dan sujud; jihad bahkan membutuhkan tenaga untuk berlari, menggunakan senjata dan bertempur melawan musuh. Dalam berjihad pun, seorang mujahid tetap melaksanakan shalat.

Zakat? Zakat adalah ibadah maliyah, mengeluarkan harta. Sedangkan jihad, pengorbanannya lebih besar. Jika zakat berkisar antara 2,5% – 10%, orang yang berjihad bisa menghabiskan separuh hartanya untuk perbekalan dan persenjataan.

Haji? Haji adalah ibadah yang membutuhkan dana dan kemampuan fisik. Namun, jihad lagi-lagi membutuhkan dana dan kemampuan fisik yang lebih besar. Ada puluhan jamaah haji yang meninggal karena sakit atau kelelahan. Tetapi dalam jihad, peluang untuk meninggal jauh lebih besar karena langsung berhadapan dengan senjata musuh.

Karenanya, jihad merupakan amal paling berat dibandingkan dengan amal-amal yang lain. Jihad berarti mengorbankan harta sekaligus beresiko nyawa. Maka sangatlah pantas jika orang yang berjihad lalu syahid, ia mendapatkan surga.

Namun, ternyata ada orang yang berjihad dan dalam pandangan manusia mati syahid tetapi masuk neraka. Siapa dia? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan:

إِنَّ أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ قَاتَلْتُ فِيكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ لأَنْ يُقَالَ جَرِىءٌ. فَقَدْ قِيلَ. ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى أُلْقِىَ فِى النَّارِ

“Sesungguhnya manusia pertama yang diputuskan perkaranya pada hari kiamat adalah seorang laki-laki yang mati syahid. Dia dihadapkan, lalu Allah menunjukkan kenikmatan-kenikmatanNya kepadanya, maka dia pun mengenalnya. Allah bertanya, ‘Apa yang telah kamu lakukan padanya?’ Orang itu menjawab, ‘Aku berperang karenaMu sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman, ‘Kamu dusta, akan tetapi kamu berperang agar dikatakan ‘fulan pemberani; dan itu telah kamu dapatkan.’ Kemudian diperintahkan (agar dia diseret di atas wajahnya). Lalu dia pun diseret di atas wajahnya sampai dicampakkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim)

Duhai betapa nestapanya. Amal yang begitu berat, mengorbankan harta dan jiwa, tetapi justru masuk neraka. Dan kita kini tahu penyebabnya: tidak ikhlas, tidak mengharap ridha Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Berjihad, tetapi niatnya ingin disebut sebagai pemberani. Berjuang, tetapi niatnya ingin disebut sebagai pahlawan.

Maka marilah kita periksa hati kita. Jangan-jangan kita lebih buruk dari orang yang disebut dalam hadits Nabi tersebut. Beramal karena riya’. Beramal karena ingin dipuji orang. Beramal karena mengharap tepuk tangan.

Jika amal seberat jihad dan pengorbanan nyawa saja menjadi sia-sia karena riya’, apatah lagi amal-amal kita yang tak sehebat jihad dan jauh dari resiko nyawa. Tanpa niat ikhlas, sungguh betapa nestapa. [Muchlisin BK/bersamadakwah]

3 KOMENTAR

  1. MAKA OLEH SEBAB ITU;

    “TETAPLAH MEMBERI PERINGATAN, KARENA SESUNGGUHNYA PERINGATAN ITU BERMANFAAT BAGI ORANG-ORANG YANG BERIMAN.” (TQS ADH-DHARIYAT 55)

    WAHAI ALLAH SWT, TUHAN KAMI.

    WAHAI, RASULULLAH SAW, PANUTAN KAMI.

    WAHAI MAJELIS ULAMA INDONESIA (MUI)

    SIAPAKAH YANG MENGHALALKAN BERPANCASILA, BER-UUD’45, BERHUKUM DAN BERHAKIM KEPADA YANG BUKAN HUKUM-HUKUM ALLAH SERTA BERDEMOKRASI BAGI BANGSA INDONESIA YANG TELAH BERSYAHADAT MENYATAKAN DIRINYA ISLAM DAN BERIMAN?

    HARI INI IKUT PESTA IDUL ADHA, BESOK IKUT PESTA DEMOKRASI. BERAGAMA SUKA-SUKA.

    “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (TQS Al-A’raf 73)

    “Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang ia kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya dan mendapatkan siksa yang menghinakan.” (Q.S. An Nisa’: 13-14)

    F A K T A

    SIAPAPUN PRESIDEN DAN WAKILNYA – PANCASILA IDEOLOGINYA
    APAPUN AGAMA PRESIDEN DAN WAKILYNA – KUHP HUKUM-HUKUMNYA

    ISLAM DAN BERIMANKAH KITA DI HADAPAN ALLAH SWT?

    Siapakah yang dimaksud oleh Allah Swt orang-orang islam yang beriman.yang diseru oleh-Nya agar berdinul islam secara kaffah. Adakah kita, Umat Islam Indonesia, yang berpancasila, berdemokrasi serta berhukum dan berhakim kepada yang bukan hukum-hukum Allah atau Syariat Islam termasuk golongan orang-orang islam yang beriman di hadapan-Nya?

    Yuk kita tanya Allah Swt di dalam kitab suci-Nya, Al-Qur’an.

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (TQS. Al-Hujurat 15)

    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai (telah Ku-setujui dan Ku-restui) Dinul Islam itu jadi agama (pedoman hidup dan kehidupan) bagimu.” (TQS.Al-Ma’idah 3)

    “Siapa saja mencari (apalagi memakai) agama (pedoman hidup dan kehidupan) selain Dinul Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (tidak bernilai ibadah/pengabdian) daripadanya, dan dia di khirat termasuk orang-orang yang rugi.” (TQS. ‘Ali ‘Imran 85)

    “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik”. (TQS. Al-‘An ‘am 57)

    “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. Al-Ma’idah 50)

    “Siapa saja yang memutuskan (suatu perkara) tidak menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.”
    (TQS. Al- Ma’idah 44)

    “Siapa saja yang kafir sesudah beriman (karena tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.” (TQS. Al-Ma’idah 5)

    “Siapa saja yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati,pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi. (TQS. An-Nahl 106-109)

    “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (TQS. Al-‘Ahzab 36)

    “Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu (melaksanakan hukum-hukum) Al Quran, benar-benar akan mengembalikan kamu ke tempat kembali. Katakanlah: “Tuhanku mengetahui orang yang membawa petunjuk dan orang yang dalam kesesatan yang nyata”.” (TQS Al-Qasas 85)

    “Apakah kamu beriman (mempercayai dan meyakini) kepada sebahagian Al Kitab (Bimbingan Allah) dan ingkar (tidak mempercayai dan meyakini) terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yangsangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (TQS.Al-Baqarah 85-86)

    “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan (berdinul islamlah kamu secara kaffah), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (TQS. Al-Baqarah 208-209)

    “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka siapa saja yang ingin (beriman) silahkan ia beriman, dan siapa saja yang ingin (kafir) silahkan ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (TQS. Al-Kahf 29)

    “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang (para pemimpin) yang telah menukar nikmat Allah (Bimbingan Allah) dengan kekafiran (Yang Bukan Bimbingan Allah) dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?, yaitu neraka jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. Orang-orang kafir itu (para pemimpin kafir itu) telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah (tandingan bagi Bimbingan Allah) supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka”. (TQS. ‘Ibrahim 28-30)

    Adakah Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya serta umat islam yang beriman pada saat itu berdualisme dalam berpedoman, dan berhukum serta berhakim kepada yang bukan hukum-hukum Allah atau Syariat Islam? Apakah Allah swt dan Nabi Muhammad saw masih mencintai kita walaupun kita berdualisme dalam berpedoman, dan tidak berhukum dan berhakim kepada hukum-hukum Allah?

    Ataukah kita, umat Islam Indonesia, telah diberi dispensasi oleh Allah swt dan rasul-Nya untuk berdualisme dalam berpedoman, yang membuat kita tidak berhukum dan berhakim kepada hukum Allah, tetapi masih dianggap dan dinyatakan sebagai orang-orang islam yang beriman oleh Allah swt?

    Tidakkah kita ingat atau mungkin kita belum mengerti bahwasanya kita selalu mengulang-ulang pernyataan sikap atau “syahadat” kita, yaitu;

    “Tidak ada system pedoman hidup dan kehidupan bagi kita kecuali Dinul Islam, al-qur’an dan sunnah rasul. Dan Muhammad Rasulullah saw adalah panutan, contoh dan tauladan, bagi kita di dalam berdinul islam secara kaffah, baik di kala kita hidup seorang diri berpribadi, berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, bernegara maupun berkhalifatullah di bumi Allah ini sehingga hidup dan kehidupan kita dapat menjadi rahmatan lil ‘alamin.”

    Yuk, mari kita bertaubat nasuha dengan berdinul islam secara kaffah, MENINGGALKAN SEMUA YANG BUKAN IDEOLOGI ALLAH, agar kita selamat di dunia dan akhirat dan , Insya Allah, akan dipersilahkan oleh Allah Swt memasuki jannah-Nya KARENA KITA TIDAK MENDUAKAN-NYA. Aamiin.

  2. MAKA OLEH SEBAB ITU:

    “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya).” (TQS Al-A’raf 73)

    “Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (TQS Al-Baqarah:42)

    NATALAN, RIBA DAN SYI’AH JELAS BUKAN AJARAN ISLAM !

    TETAPI KITA YANG BERPANCASILA, BERHUKUM DAN BERHAKIM KEPADA YANG BUKAN HUKUM-HUKUM ALLAH SERTA BERDEMOKRASI, APAKAH KITA TERMASUK ORANG-ORANG YANG BERIMAN DI HADAPAN ALLAH?

    HAL INILAH YANG HARUS KITA KETAHUI DAN KITA SADARI. KEMUDIAN KITA, SEMUA BANGSA INDONESIA YANG TELAH BERSYAHADAT MENYATAKAN DIRI KITA ISLAM DAN BERIMAN, DARI MULAI “PRESIDEN SAMPAI TUKANG SAPU”, MAU BERTAUBAT NASUHA. MENINGGALKAN SEMUA YANG BUKAN IDEOLOGI ALLAH. KARENA KALAU TIDAK, APA BEDANYA KITA DENGAN SYI’AH DI HADAPAN ALLAH SWT?

    ATAUKAH MEMANG HUKUM-HUKUM ALLAH TIDAK BERLAKU ATAS DIRI KITA. ATAUKAH KITA TELAH DIBERI DISPENSASI ATAU KERINGANAN UNTUK TIDAK BERHUKUM DAN BERHAKIM KEPADA HUKUM-HUKUM ALLAH, TETAPI MASIH DINYATAKAN OLEH ALLAH SEBAGAI ORANG-ORANG YANG BERIMAN DI HADAPAN-NYA?

    “Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafa’atpun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa.” (TQS Al-‘An’am 51)

    BERIKUT INI ADALAH KETETAPAN ALLAH SWT YANG TERMAKTUB DI DALAM KITAB SUCI AL-QUR’AN YANG DAPAT MENJADI ACUAN ATAU BAROMETER ATAS KEIMANAN KITA.
    YUK, MARI KITA BERPIKIR!

    “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (TQS. Al-Hujurat 15)

    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai (telah Ku-setujui dan Ku-restui) Dinul Islam itu jadi agama (pedoman hidup dan kehidupan) bagimu.” (TQS.Al-Ma’idah 3)

    “Siapa saja mencari (apalagi memakai) agama (pedoman hidup dan kehidupan) selain Dinul Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (tidak bernilai ibadah/pengabdian) daripadanya, dan dia di khirat termasuk orang-orang yang rugi.” (TQS. ‘Ali ‘Imran 85)

    “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik”. (TQS. Al-‘An ‘am 57)

    “Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS. Al-Ma’idah 50)

    “Siapa saja yang memutuskan (suatu perkara) tidak menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir.” (TQS. Al- Ma’idah 44)

    “Siapa saja yang kafir sesudah beriman (karena tidak menerima hukum-hukum Islam) maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.” (TQS. Al-Ma’idah 5)

    “Siapa saja yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan di dunia lebih dari akhirat, dan bahwasanya Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati,pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi. (TQS. An-Nahl 106-109)

    “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang (para pemimpin) yang telah menukar nikmat Allah (Bimbingan Allah) dengan kekafiran (Yang Bukan Bimbingan Allah) dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?, yaitu neraka jahannam; mereka masuk kedalamnya; dan itulah seburuk-buruk tempat kediaman. Orang-orang kafir itu (para pemimpin kafir itu) telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah (tandingan bagi Bimbingan Allah) supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah: “Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka”. (TQS. ‘Ibrahim 28-30)

    “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (TQS. Al-‘Ahzab 36)

    “Apakah kamu beriman (mempercayai dan meyakini) kepada sebahagian Al Kitab (Bimbingan Allah) dan ingkar (tidak mempercayai dan meyakini) terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yangsangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.” (TQS.Al-Baqarah 85-86)

    “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan (berdinul islamlah kamu secara kaffah), dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. Tetapi jika kamu menyimpang (dari jalan Allah) sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (TQS. Al-Baqarah 208-209)

    “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka siapa saja yang ingin (beriman) silahkan ia beriman, dan siapa saja yang ingin (kafir) silahkan ia kafir”. Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (TQS. Al-Kahf 29)

    Adakah Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya serta umat islam yang beriman pada saat itu berdualisme dalam berpedoman, dan berhukum serta berhakim kepada yang bukan hukum-hukum Allah atau Syariat Islam? Apakah Allah swt dan Nabi Muhammad saw masih mencintai kita walaupun kita berdualisme dalam berpedoman, dan tidak berhukum dan berhakim kepada hukum-hukum Allah?

    Apakah Hukum-Hukum Allah atau Syariat Islam memang tidak berlaku atas umat Islam Indonesia?

    Ataukah kita, umat Islam Indonesia, telah diberi dispensasi oleh Allah swt dan rasul-Nya untuk berdualisme dalam berpedoman, yang membuat kita tidak berhukum dan berhakim kepada hukum Allah, tetapi masih dianggap dan dinyatakan sebagai orang-orang islam yang beriman oleh Allah swt?

    Yuk, mari kita bertaubat nasuha dengan berdinul islam secara kaffah, dengan meninggalkan semua yang bukan Ideologi Allah, agar kita selamat di dunia dan akhirat dan , Insya Allah, akan dipersilahkan oleh Allah Swt memasuki Jannah-Nya KARENA KITA TIDAK MENDUAKAN-NYA. Aamiin.

    • Anda akan mendapatkan kebenaran sesuai keyakinan anda …..

      Bila anda meyakini hidup di dunia hanya sekali …. hidup anda didunia (alam semesta) hanya sekali … dan hidpu yang anda jalani saat ini … adalah yang terakhir.
      Bila anda meyakini … kemaitian anda dijemput malaikat maut “Izrail” dengan rasa sakit luar biasa … seperti tusukan 300 pedang … atau 100 kali sakitnya dikuliti hidup2 …. anda akan mendapatkan rasa sakit yang luar biasa disaat anda mati.
      Bila anda meyakini … kelak di alam kubur anda akan mendapatkan siksa kubur hingga kiamat …. anda akan mendapatkan seperti keyakinan anda.
      Bila anda meyakini … di pengadilan akhirat anda akan di hisab … dan kesalahan dan dosa anda akan mendapatkan siksa neraka yang maha kejam dan maha biadab, anda benar .. anda akan masuk neraka terlebih dahulu sebelum masuk surga.
      Dan .. sewaktu anda menjalani siksa neraka yang maha kejam dan maha biadab … siksaan diluar batas kemampuan manusia menahan rasa sakit … dijamin … anda akan menyerah di menit pertama. Dan mohon jiwa anda dilenyapkan, karena tak sanggup menahan rasa sakit yang luar biasa.

      Salam,

      Pillar

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.