Beranda Kisah-Sejarah Kisah Nyata Nenek Renta: Semoga Allah Tidak Berikan Pahala kepada Umar bin Khaththab

Nenek Renta: Semoga Allah Tidak Berikan Pahala kepada Umar bin Khaththab

8
sumber gambar: forskning.no

Sepulangnya dari Suriah, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab menuju ke sebuah pelosok desa yang sangat terpencil. Ia hendak melakukan investigasi terkait kepemimpinannya dengan bertanya langsung kepada rakyatnya. Maka didatangilah sebuah gubuk reot yang dihuni oleh seorang nenek renta.

“Bagaimana pendapat Nenek tentang Khalifah (Umar bin Khaththab) kita?” tanyanya.

“Semoga,” jawab nenek renta penuh emosi, “Allah Ta’ala tidak memberikan ganjaran yang baik kepadanya.”

“Mengapa begitu?” tanyanya menyelidik.

“Dia sangat jauh dari rakyatnya. Sejak menjadi Khalifah, dia tak pernah sekali pun berkunjung ke gubukku ini, apalagi memberi uang.” terang nenek tua penuh emosi.

Umar yang menyamar pun melakukan pembelaan diri. Bukankah tempat tinggal si nenek amat jauh dan terpencil? Bagaimana Khalifah bisa mengetahuinya?

“Subhanallah!” jawab si nenek, “mustahil seorang Khalifah tidak mengetahui keberadaan rakyatnya, di mana pun mereka berada.”

Umar al-Faruq tersentak mendengar jawaban si nenek. Air matanya meleleh. Tangisnya tak bisa dibendung lantaran dorongan rasa takut yang mendesak-desak, memuncak hingga ke rulung jiwanya. Betapa menjadi pemimpin itu bukanlah soalan yang sederhana.

Umar pun menawarkan diri untuk memberikan uang sejumlah 25 dinar kepada nenek tersebut. Ia mengatakan, agar si nenek menganggapnya sebagai ganti atas kezaliman yang dilakukan oleh Khalifah.

Sesaat setelah sang nenek menerima uang, berlalulah Sayyidina Ali bin Abu Thalib dan Abdullah bin Mas’ud. Melihat ada Khalifah Umar, keduanya pun mengucap salam, “Assalamu’alaikum, ya Amirul Mukminin.”

Mendengar ucapan salam dan sapaan dua orang tersebut, si nenek langsung gemetar. Ketakutan. Dia tak tahu bahwa di depannya adalah Amirul Mukminin. Ia takut jika Umar akan menghukumnya lantaran ketidaksopanannya dalam berucap, barusan.

“Celakalah aku dan ampunilah orang tua ini atas kelancangan tadi, wahai Amirul Mukminin.” Pekik si nenek, berharap ampunan. “Aku,” lanjutnya, “telah memaki Khalifah di hadapannya sendiri.”

“Tidak apa-apa, Nek,” sahut Umar, “semoga Allah Ta’ala meridhaimu.”

Amirul Mukminin Umar bin Khaththab pun melepas baju bagian luarnya, lalu menuliskan kalimat nan agung berikut ini:

Bismillahirrahmanirrahim. Dengan ini, Umar telah menebus dosanya atas kezalimannya terhadap nenek yang merasa dizalimi oleh Umar, sejak menjadi Khalifah hingga (kezaliman itu) ditebus dengan 25 dinar. Dengan ini, jika nenek tersebut mendakwa Umar di Mahsyar, maka Umar sudah bebas dan tak ada kaitannya lagi.”

Allahu Rabii… Bagaimana dengan pemimpin-pemimpin kita saat ini?

Wallahu a’lam. [Pirman/BersamaDakwah]

8 KOMENTAR

  1. Pertanyaan yg lebih utama..
    Bagaimana kpemimpinan diri kita terhadap apa-apa yg harus pribadi kita pimpin..
    Bagaimana tanggung jawab kita terhadap apa-apa yg seharusnya kita bertanggung jawab atasnya…
    Kritikan…timbul berawal dari penglihatan…
    Penglihatan umar R.A..
    Adalah pada tanggung jwab pribadinya..
    Mari mrefleksi sesuatu yg mnambah keimanan secara pribadi …
    Pribadi yg baik akan mrubah pemandangan dalam masyarakat..

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.