Beranda Ilmu Islam Fiqih Begini Amalan Sebagian Ulama Salaf di Malam Nisfu Sya’ban

Begini Amalan Sebagian Ulama Salaf di Malam Nisfu Sya’ban

0
malam nisfu syaban
Masjid Nabawi (mantaritravel.com)

Menghidupkan malam nisfu sya’ban merupakan salah satu hal yang diperselisihkan oleh para ulama sejak zaman tabi’in. Bahkan hadits keutamaan nisfu sya’ban pun dinilai shahih oleh sebagian ulama namun dinilai dhaif oleh sebagian ulama lainnya.

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

“Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam nisfu Sya’ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang berbuat syirik atau yang bertengkar dengan saudaranya.” (HR Ibnu Majah; shahih. Dishahihkan Syaikh Albani dalam Silsilah Ash Shahihah dan Shahih Ibnu Majah)

Yang menarik, Ibnu Taimiyah dalam Iqtidha’ ash Shirati al Mustaqim jilid 2 halaman 136 menegaskan bahwa malam nisfu sya’ban memang memiliki keutamaan dan karenanya, sebagian ulama salaf mengkhususkan malam itu dengan memperbanyak ibadah shalat.

Tentu, ada ulama lain yang tidak sependapat dengan Ibnu Taimiyah. Bahkan ada ulama yang menilai menghidupkan malam nisfu sya’ban merupakan bid’ah.

Mengenai perbedaan pendapat ini, kami nukil penjelasan DR Abdul Ilah Bin Husain Al Afraj dalam buku Konsep Bid’ah dan Toleransi Fiqih dengan harapan, meskipun berbeda pendapat, kita bisa tetap saling menghargai dan menghormati serta tetap bersatu dalam persatuan Islam.

___________________________________

Para Salafus Shalih sejak masa tabiin berbeda pendapat tentang keutamaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Sebagian dari mereka seperti tabiin yang hidup di negeri Syam menyatakan malam Nisfu Sya’ban memiliki keutamaan. Maka mereka pun memuliakannya dan beribadah dengan sungguh-sungguh di dalamnya.

Sebagian yang lain seperti tabiin yang hidup di negeri Hijaz tidak menetapkan keistimewaan apapun bagi malam Nisfu Sya’ban, sama seperti malam-malam biasa.

Ibnu Rajab berkata, “para tabiin yang tinggal di negeri Syam semisal Khalid Bin Ma’dan, Makhul dan Luqman bin Amir memuliakan malam nisfu Sya’ban dan beribadah dengan sungguh-sungguh. Dari merekalah manusia meriwayatkan fadhilah malam Nisfu Sya’ban. Dikatakan bahwa riwayat israiliyat sampai kepada tabiin Syam. Ketika riwayat tersebut terkenal di berbagai negeri, manusia berbeda pendapat tentangnya. Sebagian orang menerima riwayat tersebut dari mereka.

Terdapat sekelompok orang yang sepakat dengan mereka dalam hal memuliakan malam Nisfu Sya’ban seperti para para ahli ibadah di kota Basrah.

Namun berbeda dengan mayoritas ulama Hijaz, seperti Atha’ dan Ibnu Abi Malikah. Riwayat ini dinukil oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari para ulama Madinah, semisal imam Malik bin Anas dan lainnya. Para ulama Hijaz menyatakan bahwa memuliakan malam Nisfu Sya’ban adalah perkara Bid’ah.

Diriwayatkan dari Aha’ bin Yasar bahwa beliau berkata, “Tiada suatu malam selain malam Lailatul Qadar yang lebih mulia daripada malam Nisfu Sya’ban. Pada malam ini Allah Subhanahu Wa Ta’ala turun ke langit dunia kemudian memberikan ampunan kepada seluruh hambanya kecuali orang musyrik (berbuat syirik), suka dengki atau pemutus tali persaudaraan.”

Al Fakihi berkata, “Penduduk Mekah sejak zaman dahulu hingga sekarang, ketika malam Nisfu Sya’ban tiba, mayoritas laki-laki dan perempuan keluar menuju Masjidil Haram. Mereka sholat, tawaf dan menghidupkan malam mereka hingga pagi dengan membaca Al Quran hingga khatam di Masjidil Haram. Mereka mengambil air zamzam pada malam Nisfu Sya’ban, meminumnya dan digunakan untuk memandikan orang yang sakit sambil berharap keberkahan dari Allah pada malam ini.

Syaikh Ibnu Taimiyah berkata, “Telah diriwayatkan beberapa hadits marfu dan Atsar yang berkenaan dengan keutamaan malam Nisfu Sya’ban. Semua itu menunjukkan bahwa malam Nisfu Sya’ban memang memiliki keutamaan. Sebagian ulama salaf mengkhususkannya dengan memperbanyak ibadah shalat. Mayoritas ulama dari mazhab kami menyatakan bahwa malam Nisfu Sya’ban memiliki keutamaan sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad. Hal ini berdasarkan banyaknya hadits dan perkataan para Salafus Shalih yang diriwayatkan berkenaan dengan keutamaan malam Nisfu Sya’ban. Sebagian keutamaan tersebut diriwayatkan dalam beberapa kitab Musnad dan Sunan. Namun banyak sekali hadits palsu yang dibuat berkenaan dengan malam Nisfu Sya’ban.”

Di sisi yang berlawanan, Abdurrahman bin Zaid bin Aslam berkata, “Aku tidak pernah menyaksikan seorang pun dari Syaikh dan ulama kita yang memperhatikan malam Nisfu Sya’ban. Kami tidak pernah mendapati seseorang yang menyebutkan hadis Makhul. Dia tidak berpendapat bahwa malam Nisfu Sya’ban memiliki keutamaan atas malam-malam yang lain.”

Imam Ibnu Al Arabi berkata, “Berkenaan dengan malam Nisfu Sya’ban, tidak ada hadits yang bisa dijadikan sebagai landasan bagi yang berkenaan dengan keutamaannya atau yang berkenaan dengan padanya ketentuan ajal diubah. Oleh karena itu janganlah kalian memperhatikannya.” [Bersamadakwah]