Adakah hadits yang menjelaskan bahwa menghadiri pengajian secara rutin minimal 40 pertemuan tanpa terputus memudahkan husnul khatimah? Pertanyaan ini muncul saat pengajian ibu-ibu pada 23 Juni 2026 di Gresik Kota Baru (GKB).
Pertanyaan:
Ustadz, saya mendengar di pengajian lain bahwa ada hadits yang menyatakan salah satu keutamaan majelis ilmu adalah memudahkan husnul khatimah. Apakah benar ada hadits demikian? Karena ini akan membuat ibu-ibu lebih rajin menghadiri majelis taklim.
Yang kedua, beliau juga menyampaikan jika kita rutin menghadiri majelis taklim minimal 40 pertemuan tanpa terputus, kita akan mendapatkan keutamaan tersebut. Apakah ini juga ada haditsnya?
Jawaban:
Banyak hadits keutamaan menuntut ilmu. Tidak ada hadits shahih yang secara tekstual menyebut demikian. Namun ada beberapa hadits shahih yang menjelaskan bahwa menuntut ilmu memudahkan jalan ke surga. Yang berarti juga memudahkan husnul khatimah. Misalnya sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Barangsiapa yang menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga. (HR. Muslim no. 7028)
مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ
Barangsiapa yang keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali. (HR. Tirmidzi no. 2859; hasan)
Untuk hadits tentang 40 hari, yang ada adalah hadits shalat berjamaah. Tidak ada yang secara spesifik menyebut menghadiri majelis ilmu 40 pertemuan.
مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِى جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ التَّكْبِيرَةَ الأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنَ النَّارِ وَبَرَاءَةٌ مِنَ النِّفَاقِ
Siapa yang menjaga shalat berjamaah karena Allah tanpa ketinggalan takbiratul ihram selama 40 hari akan terbebas dari neraka dan kemunafikan. (HR. Tirmidzi no. 241; shahih)
Meskipun secara spesifik hadits ini menyebut 40 hari shalat berjamaah, beberapa ulama berpendapat bahwa 40 hari merupakan fase perubahan karakter dan jiwa.
Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa 40 hari adalah waktu yang dibutuhkan untuk mencabut sebuah kebiasaan buruk dan menanamkan kebiasaan baru ke dalam jiwa (riyadhah an-nafs).
Beliau mengibaratkan hati manusia seperti tanah. Untuk mengubah watak yang keras menjadi lembut, atau malas menjadi rajin, dibutuhkan konsistensi latihan spiritual tanpa putus selama 40 hari. Jika latihan ini terputus di tengah jalan, maka proses pembentukan karakter tersebut harus diulang dari awal karena “akar” kebiasaan lamanya belum sepenuhnya tercabut.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyah juga membahas rahasia angka 40 hari. Mengaitkannya dengan ayat Al-Qur’an tentang masa tirakat Nabi Musa ‘alaihis salam (Surah Al-A’raf: 142).
“Allah mengkhususkan angka 40 hari untuk menyempurnakan janji-Nya kepada Nabi Musa. Ini menunjukkan bahwa jangka waktu tersebut memiliki pengaruh khusus dalam proses pensucian jiwa, memancarnya cahaya makrifat, dan kematangan hati manusia,” kata Ibnu Qayyim.
Beliau menekankan bahwa jika seseorang mampu menjaga konsistensi amal shalih (seperti shalat tepat waktu atau menjaga lisan) selama 40 hari, maka amal tersebut akan berubah dari yang awalnya terasa “berat/terpaksa” menjadi sebuah kebutuhan ruhaniah yang melekat otomatis.
Sedangkan Ibnu Rajab Al-Hanbali menyebutkan bahwa angka 40 hari adalah ujian standar keikhlasan. Orang munafik dinilai tidak akan sanggup berpura-pura taat secara konsisten dan detail (selalu mendapati takbir pertama bersama imam) selama 40 hari berturut-turut. Jika seseorang berhasil melaluinya, itu membuktikan bahwa kebiasaan shalatnya telah murni menjadi bagian dari imannya. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]
