Beranda Ilmu Islam Aqidah Orang Islam Kok Ucapkan “RIP”?

Orang Islam Kok Ucapkan “RIP”?

14
chrisandersondesign.info

Baru saja kita mendengar berita duka, meninggalnya seorang selebriti. Ketika kabar itu tersebar di media sosial banyak yang memakai tanda pagar atau kata-kata RIP. Apa itu RIP?

RIP  kepanjangan dari Requiescat in pace merupakan bagian dari aqidah Katholik, biasa terdapat pada epitaf dan disenandungkan saat Misa Requiem. Keyakinan ini juga terdapat pada agama Yahudi. Epitaf RIP ditemukan pada nisan Bet Shearim, Yahudi, meninggal 1 Abad Sebelum Masehi.

Rest in Peace dalam bahasa Inggris, variasi lainnya adalah Requiescat in pace, penambahan kata “may (semoga)”. Ini terkait keyakinan dosa ditebus. Ungkapan RIP dalam bentuk ringkas maupun panjang digunakan pada upacara pemakaman tradisional Yahudi. Apa pijakannya? Talmud kuno. RIP dalam bahasa Inggris, yakni rest in peace, tak ditemukan pada kuburan sebelum abad VIII Masehi. Meluas penggunaannya setelah abad XVIII.

Ungkapan RIP pada agama Katholik terdapat dalam Misa Requiem (Missa pro Defunctis) yang merupakan bagian dari ritus Tridente. Paus (Emeritus) Benediktus XVI menyatakan Ritus Tridente (Tridentin) merupakan bentuk misa yang luar biasa. Ia keluarkan surat edaran tahun 2007. Ini merupakan surat pribadi (motu proprio) kepada seluruh gereja untuk menggunakan Misa Tridentin. Surat ini bermakna penegasan bahwa ungkapan RIP merupakan bagian tak terpisahkan.

Motu proprio (surat pribadi dengan tanda-tangan pribadi) Paus Benediktus XVI (sekarang emeritus) menegaskan kedudukan misa yang melembaga sejak 1570 tersebut. RIP merupakan bagian penting sebagai semacam “pembersihan dosa secara keseluruhan”. Dalam hal ini menurut penulis Fauzil Adhim, kedudukan RIP saat misa serupa dengan ungkapan “Allahummaghfirlahu…”. Jadi, ini merupakan bagian dari prosesi ibadah. Tentu saja tak sama persis. Dalam Islam, seorang syaikh tak memiliki otoritas penghapusan dosa dan penentuan nasib seseorang jadi ahli surga.

Orang yang sudah diupacarai dengan misa dimana pernyataan RIP ada di dalamnya, dianggap sudah “bersih” dari dosa. Sudah ditebus. Jadi, ungkapan RIP memang tidak dapat dibenturkan dengan kalimat istirja’ (إِنَّا لِلهِ وَإِنَّا إِلَيْهَ رَاجِعُونَ) karena memang sangat berbeda kedudukannya. Ungkapan yang berdekatan, tapi amat berbeda konsep dasarnya dengan istirja’ adalah “telah berpulang ke rumah bapa…”.

Tolong, cermati dengan baik agar tidak menyamakannya.
Lalu bagaimana dengan kalimat innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’un? Kalimat ini bukanlah kalimat doa, kalimat ini juga tidak bermaksud mengirimkan doa orang meninggal, melainkan zikir biasa yang dikaitkan bila ada yang meninggal (padahal milik Allah tidak hanya nyawa manusia).

“Eh yang meninggal kan bukan Islam, kenapa ngucap ‘innalillahi’?
Jika yang meninggal itu orang yang beragama apapun, tidak jadi soal dan tidak perlu dibuat pusing.

Kenapa?

Sebab makna kalimat di atas hanyalah ungkapan bahwa kita ini semua milik Allah dan kita pasti akan kembali kepada-Nya. Bahwa seorang mati dalam keadaan beriman atau tidak beriman, itu urusan “elu-elu, gue-gue”.

Jika lafaz itu tidak bermakna doa, tentu tidak jatuh larangan. Akan tetapi bila diteruskan dengan ungkapan lain, seperti: “semoga arwah diterima di sisi Tuhan”, tentu saja haram hukumnya. Sebab kenapa? Siapapun yang meninggal bukan sebagai muslim, sudah pasti arwahnya tidak akan diterima Allah. Tapi bukan gentayangan, melainkan tidak diterima sebagai hamba yang baik, sebaliknya diterima sebagai hamba yang kafir.

Allah berfirman:
Dan permintaan ampun dari Ibrahim untuk bapaknya tidak lain hanyalah karena suatu janji yang telah diikrarkannya kepada bapaknya itu. Maka, tatkala jelas bagi Ibrahim bahwa bapaknya itu adalah musuh Allah, maka Ibrahim berlepas diri dari padanya. Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang yang sangat lembut hatinya lagi penyantun. (QS. At-Taubah: 114)

Bagaimana jika menggunakan kalimat “Semoga arwahnya tenang di sisi-Nya”?

Tentu saja tidak boleh. Sebab dalam pandangan aqidah Islam, seorang yang mati dalam keadaan kafir (non-muslim), arwahnya tidak akan tenang. Sebab mereka harus berhadapan dengan malaikat azab. Jadi tak layak kalau dimakamnya ditulis: RIP (rest in peace). RIP mungkin lebih tepat diganti RIF. Rest in Fire. Wallahua’lam. (pm)

Twitter: @paramuda

14 KOMENTAR

  1. bukan nya di dunia berbagai macam agama? terus kita di ajari untuk saling meghargai satu sama lain?

    orang yg ngepost kok ga ada sikap saling menghargai nya ?
    apa ga pernah di ajari ya?

  2. apa artikel diatas menghormati non muslim? saya sebagai org muslim aja malu sama apa yang tertulis diatas.semua agama tidak pernah mengajarkan untuk merasa sok paling benar.

  3. mungkin si pembuat artikel ingin berbagi pengetahuannya tentang arti RIP menurut Islam. tapi baiknya membuat artikel yang tidak menjadi provokator merusak hubungan antar agama. kita hidup saling berdampingan. anda pun pasti punya teman beragama lain. apakah anda tidak pernah menegur non muslim? dalam islam juga ada menyebutkan “untukmu agamamu,untukku agamaku”. rasanya tidak layak jika kita sebagai muslim menghina agama orglain. Inilah yang akan menghancurkan dunia. adalah org2 yang tidak bisa menerima perbedaan. JANGAN MENCUBIT KALO TIDAK INGIN DICUBIT. Hargai org lain biar anda pun dihargai. Buat komen2 org yang membenarkan apa yang dikatakan si pembuat artikel,artinya anda terlalu mudah masuk ke rombongan yang gampang di provokasi. Berpikir dengan jernih. berpikir pake logika. Jika Allah berkehendak, semua manusia di bumi akan beragama Islam. Tapi setiap manusia,diberi akal pikiran dan pendapat yang berbeda. jika uda meyakini “tidak boleh” menggunakan RIP, ya cukup sebagai pengetahuan. jangan tulis agama lain kafir dan arwah gentayangan. ckckcck.. picik sekali.

  4. teruslah berdakwah dan saling ingat untuk menghina agama lain ya?? teruskanlah.. teruskanlahhhh.. kau begitu 😀

  5. saudara frans yg lembut hatinya yang santun dan ramah… adakah saudara mengenal saya? jika tidak, tidak apa-apa semoga saudara tidak penasaran:). tapi saya kenal tutur kata saudara dan lingkungan saudara. kalimat yang saudara ucapkan itu bukan “kata-kata” yang biasa di ucapkan oleh seorang Muslim. terimakasih atas perhatian saudara terhadap Islam. berharap Hidayah Allah menyertaimu. 🙂

  6. Emang ini untuk islam..!! Truus apa msalah loo..!! Emang selain islam gk ada yg share..? BANYAK Coooy… Bangt malah.

    Sblm komen introspeksi dulu.
    CONTOH= lo tonjok tuuh orang, pasti dia kesakitan. Tapi sblum lo tonjok tu orang. Tonjok diri lo sndiri.
    MIKIR BROOO…

  7. Sepertinya saya yang bahasa ibunya bahasa Inggris agak tersinggung dengan artikel ini. Jangan mengadili bahasa saya. Jangan sok hebat juga sok bahasa Indonesia yang agan dibesarkan di Indonesia :’)

  8. Komentar:sebaiknya untuk muslim ucapannya sesuai dengan ajaran muslim ( ﺇﻧﺎ ﻟﻠﻪ ﻭﺇﻧﺎ ﺇﻟﻴﻪ ﺭﺍﺟﻌﻮﻥ ) karena tiap agama memiliki aturan masing-masing jangan sok ikut-ikutan kalo anda merasa bangga dilahirkan muslim

  9. Ini artikel yg bagus..
    Hanya Islam agama milik Allah
    Islam itu sudah sempurnya harusnya kita yg mencari tahu..
    Jgn cuma taunya sholat dan zakat..
    Dikasih artikel dakwah seperti ini malah komentar yg nggak”..
    Pahami dulu sebelum komen yg bodoh..

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.