Beranda Ilmu Islam Aqidah Perbedaan Kisah Adam-Hawa di Islam dan di Kristen

Perbedaan Kisah Adam-Hawa di Islam dan di Kristen

5
Ilustrasi: Pinterest

Kisah Adam dan Hawa terdapat pada tiga agama yakni Islam, Kristen dan Yahudi. Adam dan Hawa diberikan tempat yang mulia yaitu surga Adn. Kemudian, mereka diperdaya oleh Iblis sehingga terusir dari tempat indah itu. Adam dan Hawa disuruh turun ke bumi untuk hidup, berketurunan hingga meninggal.

Di dalam ajaran Kristen, dalam Kitab Kejadian (Perjanjian Lama) Pasal III dijelaskan bahwa iblis yang memperdaya Adam dan Hawa menumpang di dalam mulut ular dan dikatakan bahwa ular adalah binatang yang cerdik dan penipu. Dikatakan pula bahwasanya yang tertipu lebih dahulu ialah si istri karena perempuan adalah jenis manusia yang lemah dan lekas terpedaya.

“Maka, dilihat oleh perempuan itu bahwa buah pohon itu baik akan dimakan dan sedap kepada pemandangan mata yaitu sebatang pokok asyik akan mendatangkan budi, maka diambilnya daripada buah, lalu dimakannya serta diberikannya pula pada lakinya, maka ia pun makanlah.” (Kejadian 3:6)

“Dan jawab Adam seketika Tuhan bertanya mengapa dia bertelanjang apakah telah dimakannya buah itu?

Maka sahut Adam, ‘Adapun perempuan yang telah Tuhan karuniakan kepadaku itu, ia itu memberikan daku buah itu lalu dimakan.” (Kejadian 3:12)

Di dalam Perjanjian Baru ditegaskan pula bahwa Adam tidak bersalah, yang salah ialah perempuan itu sebab dia yang terlebih dahulu terpedaya.

Hal tersebut yang dijadikan dasar dalam ajaran Kristen yang dinamai dasar pertama bahwasanya manusia dilahirkan dalam dosa sehingga mereka diusir ke dalam dunia ini. Yang menjadi pangkal timbulnya dosa ialah karena perempuan tersebut yang lebih dahulu terpedaya oleh setan iblis dan perempuan tersebut turut pula memakan buah terlarang.

Perhatikan susunan ayat dalam Kitab Kejadian tersebut tampaklah lemahnya laki-laki yang mudah saja diperdaya oleh perempuan dan perempuan dapat diperdaya oleh lilitan ular iblis. Saat Tuhan bertanya, Adam dengan segera menyatakan diri bahwa dia tidak bersalah, yang salah ialah istrinya sebab dia yang merayu. Lantaran itu, terhimpunlah segala kutukan kepada perempuan.

Lalu, bagaimana kata Alquran tentang kejadian ini? Apakah Alquran menimpakan kesalahan pada perempuan? Apakah Alquran mengatakan bahwa laki-laki berlepas diri?

1. Di dalam surat al-Baqarah ayat 36 jelas benar dinyatakan bahwa keduanya sama-sama digelincirkan oleh setan sehingga keduanya sama-sama dikeluarkan dari surga.

2. Di dalam surat al-A’raaf ayat 20 dijelaskan bahwa yang diperdaya dan diberi waswas oleh setan sehingga memakan buah yang terlarang itu ialah keduanya, artinya sama-sama bertanggung jawab dan sama-sama bersalah.

Di dalam surat Thaahaa lebih dijelaskan lagi bahwa orang pertama di antara keduanya, yang bertanggung jawab atas kesalahannya ialah Adam, tegasnya adalah laki-laki.

Pada ayat 15 surat Thaahaa disebutkan, “Dan sungguh, telah kami pesankan kepada Adam dahulu, tetapi dia lupa dan Kami tidak dapati kemauan kuat padanya.”

Dalam ayat tersebut jelas terlihat tanggung jawab seorang laki-laki dan kepada orang yang bertanggung jawab tersebut dijatuhkan perintah dan diambil janji bahwa tidak akan dimakannya buah yang terlarang. Namun dia lupa akan tersebut. Lalai.

Lalu, datang lagi ayat 120 yang demikian bunyinya, “Kemudian setan membisikkan (pikiran jahat) kepadanya dengan berkata, ‘Wahai Adam! Maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian (khuldi) dan kerajaan yang tidak akan binasa?'”

Dilanjutkan oleh ayat 21, “Lalu keduanya memakannya, lalu tampaklah oleh keduanya aurat mereka dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun yang ada di surga dan telah durhakalah Adam kepada Tuhannya dan sesatlah dia.”

Lanjut di ayat 122, “Kemudian Tuhannya memilih dia, maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk.”

Dari kedua susunan ayat tersebut yaitu terdapat pada Kitab Kejadian (Perjanjian Lama) pegangan orang Yahudi dan Kristen, serta di dalam Surat Thaahaa, dapat kita bandingkan dua gambaran watak pribadi dari seorang yang tengah dikisahkan. Pribadi yang bernama Adam, yang tersebut dalam Kitab Kejadian ialah sosok yang lemah, lekas jatuh dirayu istri. Akan tetapi, ketika ditanya tentang mengapa apa sebab dia salah, dilemparkan tanggung jawab kepada istrinya, yang dituduh memperdayainya. Tampaklah di situ bahwa ketika istri merayu, ia tidak berusaha membela sama sekali.

Dalam Alquran memperlihatkan pribadi dari seorang laki-laki berakal yang telah menerima janji atau mengikat janji dengan Allah SWT, yang karena tipu daya hawa nafsu dan keinginan yang dirayu oleh setan dia lupa akan janjinya. Ia menjadi lemah, tak kuat bertahan ketika menghadapi tipu muslihat.

Dijelaskan pada ayat 120 bahwa yang memperdaya adalah setan sendiri, langsung dari setan bukan dari rayuan istri. Di ayat tersebut tegas disebutkan seruan setan, “Ya Adam!”

Setelah suami terpesona, istri pun menurut, keduanya sama-sama melakukan kesalahan. Pada ayat 121 dijelaskan bahwa keduanya sama-sama memakan buah tersebut dan keduanya sama-sama terbuka kemaluannya, sama-sama tanggal pakaian surganya dan sama-sama terpaksa mencari daun kayu alam surga untuk menutupi auratnya.

Jalan keluar pun ditunjukkan Allah SWT sebab di samping menghukum siapa yang bersalah, Allah pun kasih sayang kepada hambaNya. Allah pun menunjukkan jalan keluar dari kemurungan perasaan merasa bersalah. Hal itu diabadikan dalam al-Baqarah ayat 37, “Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya lalu Dia pun menerima taubatnya. Sungguh Allah Maha Penerima Taubat, Maha Penyayang.

Ayat 122 surat Thaahaa dijelaskan bahwa setelah Adam terlanjur bersalah lalu taubat, Allah menerima taubatnya. Lalu diturunkan insan atau basyar yang menerima tugas berat yakni menjadi wakil Allah dan Khalifatullah di muka bumi.

Dari perbandingan ayat-ayat dalam Bible dan Alquran dapat dipahami bahwa bagaimana penghargaan Kristen perempuan dan bagaimana pula dalam kacamata Islam. Wallahu A’lam. [Paramuda/BersamaDakwah]

5 KOMENTAR

  1. Saya kurang paham dengan pernyataan dalam tulisan di atas bahwa “Di dalam Perjanjian Baru ditegaskan pula bahwa Adam tidak bersalah, yang salah ialah perempuan itu sebab dia yang terlebih dahulu terpedaya”. Di bagian manakah didalam Perjanjian Baru yang menyatakan hal itu?

    Alkitab tidak pernah menyatakan bahwa perempuan lebih bersalah daripada laki-laki. Didalam Alkitab, baik perempuan maupun laki-laki sama-sama bersalah. Dan iblis-pun bersalah. Ketiga-nya sama-sama mendapatkan hukuman dari Tuhan. Pada saat Tuhan menanyakan kepada mereka karena mereka memakan buah terlarang, mereka ketakutan dan saling menyalahkan. Adam menyalahkan Hawa, Hawa menyalahkan ular. (bahkan didalam Kejadian 3:12, Adam menyalahkan Tuhan, yang memberikan Hawa baginya).
    Namun di mata Tuhan, mereka semua salah. Tidak ada yang benar.

    Setelah manusia memakan buah terlarang tersebut, mata manusia terbuka, dan mereka melihat bahwa diri mereka telanjang. Mereka berusaha membuat cawat dari daun pohon ara, untuk menutupi ketelanjangan mereka. Namun, daun pohon yang dibuat oleh mereka tidak bisa menjadi pakaian yang dapat menutupi tubuh mereka dengan baik, karena daun mudah sobek dan tidak bisa disambung.
    Upaya manusia untuk menutupi ketelanjangan-nya karena dosa, dengan membuat cawat dari daun pohon ara, ini menjadi sia-sia belaka.

    Dalam Injil, Tuhan sangat mengasihi manusia. Setelah perbuatan dosa yang dilakukan manusia, dan membuat mereka menyadari ketelanjangan mereka, Tuhan sendiri membuatkan pakaian bagi mereka dari kulit binatang.
    Disini terlihat bahwa Tuhan sangat mengasihi manusia dan mengampuni kesalahan mereka, dan Tuhan melakukan upaya-Nya untuk menyelamatkan manusia.

    Cawat dari daun pohon ara, melambangkan upaya manusia sendiri, untuk menutupi dosa-nya. Namun upaya manusia itu sia-sia belaka. Manusia tidak mampu menutupi dosa-nya dengan upaya-nya dia sendiri (walaupun manusia berupaya untuk menutupi dosa-dosanya dengan beribadah, berdoa dan berpuasa, seluruh upaya manusia tidak mampu menyelamatkan jiwanya).

    Kulit binatang, disini, berarti ada binatang yang dibunuh, dikorbankan, dan kulitnya di-ambil untuk dijadikan pakaian bagi manusia itu. Karena manusia sudah berdosa, maka Tuhan sendiri yang turun tangan, Ia membunuh binatang, dan membuatkan pakaian bagi manusia, sehingga ketelanjangan manusia yang memalukan (lambang dosa) menjadi tertutupi. Binatang yang dibunuh ini, dalam Perjanjian Baru, adalah lambang dari Yesus, yang mati di kayu salib, untuk menebus dosa-dosa manusia. Upaya Tuhan-lah yang sanggup menyelamatkan manusia. Jadi manusia bisa selamat, apabila manusia menerima Yesus, yang mati bagi mereka untuk menutupi dosa mereka.

    Berikut adalah isi Kitab Kejadian Pasal 3 (Kitab Kejadian merupakan kitab pertama dalam Perjanjian Lama) – menurut kitab ini, baik laki-laki maupun perempuan sama-sama bersalah:

    3:1 Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”
    3:2 Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan,
    3:3 tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.”
    3:4 Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati,
    3:5 tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”
    3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminyapun memakannya.
    3:7 Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.
    3:8 Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.
    3:9 Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?”
    3:10 Ia menjawab: “Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.”
    3:11 Firman-Nya: “Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?”
    3:12 Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.”
    3:13 Kemudian berfirmanlah TUHAN Allah kepada perempuan itu: “Apakah yang telah kauperbuat ini?” Jawab perempuan itu: “Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.”
    3:14 Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu.
    3:15 Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”
    3:16 Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.”
    3:17 Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu:
    3:18 semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu;
    3:19 dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.”

  2. Ada2 aja buat tanggapan begitu di kitab kristen..
    Mereka ber3 semua salah dan mendapat hukuman masing2 dari Tuhan.

    • Quran tidak dapat menjelaskan mengapa laki2 harus bekerja keras untuk hidup, dan perempuan menderita kesakitan saat melahirkan. Mereka beranggapan perempuan kesakitan berarti dosa nya luruh, ga ada satu pun muslim yang bisa menjelaskan, padahal tidak ada satu hewan pun yang menderita saat melahirkan. Saya tidak pernah melihat dan mendengar anjing meraung kesakitan saat melahirkan, juga hewan hewan yang lain, allah swt ternyata tidak maha tahu

      • Maaf…siapa bilang hewan melahirkan tidak sakit.anda kurang referensi.landak contohnya sejak bayi udah ada duri kalau induknya kontraksi pasti sakit.banyak contoh lain silahkan cek google.Ibu melahirkan memang sakit tp itu bukan karena hawa salah dihukum melahirkan sakit.hikmahnya melahirkan sakit biar anak semakin hormat sama ibu,mengetahui kapan lahiran,dan sebuah pengorbanan yang tulus cinta pada buah hatinya ,dan apabila ibu itu mati dalam melahirkan ,ibu tersebut sudah berjuang dan akan mendapat ganti kenikmatan di jannah insyaAllah

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.