Barcelona, 12 April
Pagi itu saya berdiri di tepi dermaga Barcelona. Chiki, Adhin dan lain-lain ada di sekitar.
Laut Mediterania membentang tenang. Angin musim semi berembus sejuk, sementara matahari perlahan naik, mengubah langit menjadi biru yang nyaris sempurna.
Sedikit demi sedikit pelabuhan mulai sesak. Ribuan orang berdatangan dengan satu denyut yang sama, cinta pada Palestina.
Mereka memenuhi dermaga sampai ke bibir laut. Suara tambur bersahut-sahutan. Musik dari panggung bercampur dengan percakapan dalam berbagai bahasa. Sesekali seseorang memulai yel-yel.
“Free… Free Palestine!”
Dalam hitungan detik, ribuan orang menyambung. “Free… Free Palestine!”
Suara itu bergulung seperti ombak, memantul dari kapal ke kapal. Sebentar lagi puluhan kapal Global Sumud Flotilla akan berlayar menuju Gaza.
Matahari mulai terasa hangat di kulit ketika saya harus berpindah ke kapal Safsaf.
Ada celah sekitar setengah meter antara dermaga dan kapal. Terlihat pendek, tetapi cukup membuat saya berhitung. Kalau terpeleset, masalahnya bukan sekadar tercebur ke laut. Yang lebih mengkhawatirkan justru jika tubuh terjepit di antara badan kapal dan dermaga.
Seorang rekan laki-laki yang bahkan belum saya ketahui namanya mengulurkan tangan.
“Give me your hand.”
Nah, dimulai lagi pelajaran tentang perbedaan budaya.
Bagi banyak teman dari Eropa atau Amerika, mengulurkan tangan untuk membantu perempuan dalam situasi seperti ini adalah sesuatu yang sangat wajar. Bahkan jika mereka tidak melakukannya, bisa dianggap tidak peduli atau tidak sopan.
Sebaliknya, saya dibesarkan dalam budaya yang sebisa mungkin menghindari sentuhan dengan lawan jenis.
Dulu, waktu masih muda, saya biasa naik gunung. Sejak kecil Mamak juga melatih kami bersilat. Tapi itu dulu. Sekarang usia sudah setengah abad, ditambah bonus berat badan setengah kuintal dibanding masa muda. Kepercayaan diri tentu tidak sama lagi.
Bismillah. Mari kita coba tanpa harus bersentuhan.
Saya mengencangkan tali ransel. Kaki kanan menginjak pagar kapal. Tangan kanan meraih atap kabin. Badan diayun perlahan, sementara tangan kiri mencari pegangan berikutnya.
Alhamdulillah. Berhasil.
Begitu kaki benar-benar berpijak di atas Safsaf, rasanya seperti memenangkan pertandingan kecil melawan diri sendiri.
Di dalam kapal saya melihat banyak wajah yang belum saya kenal. Yang tampak hanya satu ekspresi yang sama. Bersemangat. We are going.
Susan dan Thiago sudah berada di geladak atas. Pak Nadir dari Malaysia juga terlihat di sana. Saya pun memilih naik, tapi muncul tantangan kedua.
Tangga menuju geladak ternyata hanya berupa enam pijakan kayu yang tegak hampir lurus. Ini benar-benar musuh emak-emak obes yang sedang memanggul ransel.
Baru perjuangan segini saja sudah begini?
Sambil mengatur napas saya naik satu demi satu.
Sesampainya di atas, Susan, SC asal Norwegia, langsung memeluk saya. Thiago SC asal Brazil, menyapa dengan senyum lebarnya. Pak Nadir SC asal malaysia mengangguk ramah.
Bersama seperti ini, dalam ruang demikian kecil, kebiasaan teman-teman satu kapal mulai terlihat.
Lucu. Beberapa orang justru sengaja berdiri di bawah matahari, menikmati setiap sinarnya. Sementara saya, Chiki bertopi melindungi diri. Kemungkinan besar, teman ini berasal dari negeri-negeri yang jarang mendapat matahari.
Dulu di Dundee, kota kecil di Skotlandia tempat saya menempuh studi magister Islamic Jerusalem Studies (Kajian Baitul Maqdis dalam Islam) masyarakatnya juga begini. Matahari terasa sebagai barang mewah. Langit lebih sering abu-abu daripada biru.
Di banyak sudut kota terdapat tanning booth, semacam lemari pemanas kulit. Orang-orang masuk beberapa menit. Keluar dengan kulit memerah seperti udang rebus. Kalau beruntung, warna kulit mereka berubah menjadi lebih cokelat, warna yang mereka dambakan.
Kalau tidak sabar menunggu hasil, ada pula krim penggelap kulit. Donald Trump bahkan sering menjadi bahan candaan karena warna kulit oranyenya yang dianggap berasal dari produk semacam itu. Julukannya the orange man.
Di Indonesia, orang mati-matian menghindari matahari agar kulit tidak gelap. Di Eropa, orang justru membayar untuk terlihat lebih cokelat.
Baru satu jam berada di kapal yang sama, sudah demikian banyak perbedaan. Ada yang sengaja mencari matahari. Ada yang menghindarinya.
Ada yang spontan mengulurkan tangan kepada lawan jenis. Ada yang menjaga agar tidak terjadi sentuhan fisik.
Ada perempuan yang menutup tubuhnya karena keyakinan agama. Ada pula yang berpakaian sangat terbuka.
Kulit pun seperti peta dunia. Hitam legam. Cokelat. Sawo matang.Kuning langsat. Putih pucat. Putih kemerahan.
Rambut beragam. Lurus, keriting rapat, ikal, pirang, hitam, merah. Sebagian kulit penuh tato, sebagian tanpa satu pun gambar di kulitnya.
Bahasa yang terdengar lebih berwarna lagi. Spanyol. Portugis Brasil. Prancis. Melayu. Turki. Arab. Inggris. Dan tentu saja Bahasa Indonesia.
Sebagian besar percakapan itu bahkan tidak saya mengerti. Yel-yel yang mereka teriakkan terdengar asing di telinga saya. Aneh, lucu, bahkan kadang sulit diikuti. Tetapi ribuan orang lain menyambungnya tanpa ragu.
Saya memandang matahari sekali lagi.
Matahari yang sama menyinari seluruh manusia di pelabuhan itu. Ia tidak memilih warna kulit. Tidak memilih bangsa. Tidak memilih agama. Cahayanya jatuh sama rata kepada semua orang. Yang berbeda hanyalah cara manusia menerimanya.
Orang-orang dari khatulistiwa seperti Indonesia merasa matahari sudah lebih dari cukup. Sebagian orang Eropa justru menunggu musim panas sepanjang tahun hanya untuk bisa berjemur beberapa minggu.
Alam memberi dengan adil. Budaya membuat manusia memaknainya secara berbeda. Lalu, mengapa mereka berada di sini?
Saya mengerti mengapa Cat dari Irlandia begitu kokoh membela Palestina. Bangsa Irlandia baru benar-benar lepas dari kolonialisme Inggris pada 1949. Sebelumnya mereka mengalami luka panjang, termasuk The Great Famine yang merenggut sekitar satu juta nyawa dan memaksa jutaan lainnya bermigrasi.
Saya juga memahami semangat teman-teman dari Afrika Selatan.
Mereka hidup dalam bayang-bayang apartheid selama puluhan tahun. Mereka tahu seperti apa rasanya ketika hukum membedakan manusia berdasarkan warna kulit.
Saya masih penasaran dengan teman-teman dari Italia dan Spanyol.
Mengapa mereka begitu kuat membela Palestina?
Pada Oktober 2025, jutaan warga Italia turun ke jalan di lebih dari seratus kota untuk menunjukkan solidaritas kepada Palestina. Pemerintah Spanyol pun termasuk yang paling konsisten di Eropa mengkritik tindakan Israel dan menjadi negara Eropa pertama yang menerapkan embargo senjata secara menyeluruh pada 2025.
Saya belum mengetahui seluruh jawabannya. Mungkin jawabannya akan saya temukan selama hidup bersama mereka, makan bersama mereka, berlayar bersama mereka, dan mendengar kisah hidup mereka satu per satu.
Perjalanan menuju Gaza ini sepertinya adalah perjalanan untuk belajar memahami mereka dan Palestina.[]
Penulis:
Maimon Herawati, Dosen Unpad dan SC Global Sumud Flotilla
