Home Tazkiyah Akhlak Mengapa Muslim di Kota Kudus Tidak Menyembelih Sapi?

Mengapa Muslim di Kota Kudus Tidak Menyembelih Sapi?

11493
0
Menara Kudus (dok: Panoramio)

Di hari raya Idul Adha, umat muslim sangat dianjurkan untuk melaksanakan kurban sebagai wujud ketaqwaan terhadap Allah Swt.

Tiga perkara yang bagiku hukumnya fardhu tapi bagi kalian hukumnya tathawwu’ (sunnah), yaitu shalat witir, menyembelih udhiyah dan shalat dhuha. (HR. Ahmad dan Al-Hakim)

Musim kurban tentu sangat menyenangkan bagi umat muslim, karena bisa berbagi daging terhadap mereka yang jarang atau tak pernah merasakan makan daging. Sebuah ibadah yang menekankan tentang kepekaan social. Sampai-sampai orang yang di luar Islam pun ingin melaksanakan kurban, namun sayang, kurbannya ditolak oleh warga sebab si pengkurban suka main gusur. Lagi pula syarat untuk berkurban ya harus muslim. Di luar itu tidak sah kurbannya.

Hewan yang bisa dikurbankan salah satunya sapi. Bisa kita lihat di beberapa kota di Indonesia banyak sapi yang menjadi alternatif hewan kurban setelah kambing. Namun berbeda dengan muslim di kota Kudus, Jawa Tengah. Mereka lebih memilih tidak menyembelih sapi. Mengapa kah?

Di Kudus, sebagai kota santri yang terletak lebih kurang 500 km sebelah timur kota Jakarta, umat Islam memang tidak menyembelih sapi untuk kurban di Idul Adha. Mereka memilih menyembelih kerbau. Sebab, hal ini berdasarkan ajaran toleransi yang diajarkan oleh ulama penyebar Islam di kalangan Jawa yakni Sunan Kudus.

Sunan Kudus sangat menghargai umat Hindu yang menghormati hewan sapi. Demi menjaga perasaan Hindu, maka umat Islam diminta tidak menyembelih sapi, tapi diminta menyembelih kerbau. Hal itu menjadi tradisi dari dulu hingga sekarang.

Dari tradisi ini dapat disimpulkan bahwa ini adalah bukti tak terbantahkan akan toleransi umat Islam– bentuk toleransi lain bisa dilihat dari akulturasi Menara Masjid Kudus yang menyerupai candi Hindu. Toleransi ini terbit karena kedalaman ilmu agama Sunan Kudus dan kedalaman imannya. Semakin paham Islam, maka semakin kuat iman, semakin subur kasih sayang dan toleransi dalam jiwa seorang muslim. Tidak malah ‘memaksa Tuhan’ dengan mengganti dana yang harusnya kurban digantikan untuk pembangunan sekolah, atau menuding Islam melakukan pembantaian terhadap hewan tiap tahun.  [Paramuda/BersamaDakwah]