Beranda Dasar Islam Al Quran Surat Al-Baqarah Ayat 30: Arab, Latin, Arti, dan Tafsir

Surat Al-Baqarah Ayat 30: Arab, Latin, Arti, dan Tafsir

0
surat al baqarah ayat 30

Surat Al-Baqarah ayat 30 adalah ayat tentang khalifatullah. Bahwa salah satu tugas manusia adalah menjadi khalifah di muka bumi.

Surat Al Baqarah (البقرة) termasuk madaniyah. Menurut Syaikh Adil Muhammad Khalil, tema utama surat terpanjang dalam Al-Qur’an ini adalah pengangkatan khalifah di bumi dengan Manhaj Ilahi. Surat Al-Baqarah menjelaskan manhaj tersebut dengan urut dan bahasa yang indah sehingga bisa sampai pada hati dan akal dengan mudah.

Ayat 30 ini juga madaniyah. Ayat ini menjelaskan tentang tentang penciptaan manusia pertama (Nabi Adam ‘alaihis salam) dan peran manusia di bumi.

Surat Al-Baqarah Ayat 30 dan Artinya

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

(wa idz qoola robbuka lil malaa’ikati innii jaa’ilung fil ardli kholiifah. Qooluu ataj’alu fiihaa mayyifsidu fiihaa wayasfikud dimaa’a wa nahnu nusabbihu bihamdika wanuqoddisu laka. Qoola innii a’lamu maalaa ta’lamuun)

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah: 30)

Baca juga: Surat Al-Waqiah

Tafsir Al-Baqarah Ayat 30

Tafsir Surat Al-Baqarah ayat 30 ini kami sarikan dari Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Fi Zhilalil Quran, Tafsir Al Azhar, Tafsir Al Munir, dan Tafsir Al Misbah. Harapannya, agar bisa terhimpun banyak faedah yang kaya khazanah tetapi ringkas.

Kabar Penciptaan Khalifah di Bumi

Surat Al-Baqarah ayat 30 menjelaskan bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala menyampaikan rencananya menjadikan khalifah di bumi.

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.”

Kata idz (إذ) adalah zharaf zaman (keterangan waktu) yang berarti “ketika” atau “saat itu.” Lalu mengapa dalam terjemah, ada tambahan “ingatlah”? Bahkan dalam terjemah Kemenag terbaru, tidak pakai tanda kurung.

Penyematan makna “ingatlah” memiliki beberapa tujuan filosofis dan teknis. Dalam tradisi sastra Arab Al-Qur’an, perintah “ingatlah” kepada Rasulullah (dan umatnya) bukan berarti memanggil memori pribadi, melainkan perintah untuk menghadirkan gambaran peristiwa tersebut di dalam benak seolah-olah sedang menyaksikannya. Meskipun Rasulullah tidak hadir saat dialog itu terjadi, Allah menyampaikan wahyu ini agar peristiwa penciptaan tersebut menjadi “memori kolektif” umat manusia. Tujuannya agar kita menyadari asal-usul dan amanah sebagai khalifah.

Dalam aqidah, berita yang datang dari Allah (wahyu) kedudukannya setara atau bahkan lebih tinggi daripada penyaksian mata kepala sendiri. Ketika Allah berfirman “Ingatlah ketika…”, itu adalah ajakan untuk meyakini kebenaran sejarah tersebut sekuat kita meyakini ingatan kita sendiri.

Secara tata bahasa (nahwu), para ahli tafsir menjelaskan bahwa kata idz di awal ayat sering kali didahului oleh kata kerja yang disimpan (muqaddar), yaitu “udzkur” (أذكر). Jadi, struktur lengkapnya dibayangkan sebagai: “Wahai Muhammad, sampaikanlah kepada kaummu, dan ingatlah/ingatkanlah (kejadian) ketika Tuhanmu berfirman…”

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir rahimahullah juga menjelaskan demikian. “Maknanya adalah ‘Hai Muhammad, ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat dan ceritakanlah hal ini kepada kaummu.”

Khalifah (خليفة), lanjut Ibnu Katsir, adalah suatu kaum yang sebagiannya menggantikan sebagian yang lain silih berganti, abad demi abad, generasi demi generasi. Sebagaimana firman-Nya:

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَكُمْ خَلَائِفَ الْأَرْضِ

Dan Dialah yang menjadikan kalian sebagai khalifah-khalifah di bumi… (QS. Al-An’am: 165)

وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ

Dan menjadikan kalian (manusia) sebagai khalifah di bumi? (QS. An-Naml: 62)

Menurut Quraish Shihab, kata khalifah (خليفة) pada mulanya berarti yang menggantikan atau yang datang sesudah siapa yang datang sebelumnya. Atas dasar ini, ada yang memahami kata khalifah di sini berarti menggantikan Allah dalam menegakkan kehendak-Nya dan menetapkan ketetapan-Nya, tetapi bukan karena Allah tidak mampu atau menjadikan manusia berkedudukan sebagai Tuhan, namun karena Allah bermaksud menguji manusia dan memberinya penghormatan.

“Ada pula yang memahaminya dalam arti menggantikan makhluk lain dalam menghuni bumi ini,” kata Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah.

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan, khalifah (خليفة) artinya orang yang menggantikan orang lain dalam pelaksanaan hukum. Yang dimaksud dengan khalifah di sini adalah Adam ‘alaihis salam.

“Wahai Muhammad, tuturkan kepada kaummu tentang kisah penciptaan kakek moyang mereka, Adam, ketika Allah berfirman kepada para malaikat, ‘Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi, yang akan menempati dan mendiaminya, melaksanakan hukum-hukum-Ku terhadap umat manusia di sana, dan generasi demi generasi setelahnya akan bergantian melaksanakan semua misinya hingga alam menjadi berpenghuni,’” tulis Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir.

Kekhawatiran Malaikat

Mendengar firman Allah tentang rencana penciptaan khalifah itu, malaikat mengutarakan kekhawatirannya.

قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ

Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?”

Menurut Ibnu Katsir, malaikat bertanya bukan untuk menentang atau memprotes Allah, bukan pula karena dengki terhadap manusia. Sebab Allah mensifati para malaikat tidak mendahului firman Allah yakni tidak pernah menanyakan sesuatu kepada-Nya yang tidak Ia izinkan.

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, juga menafsirkan demikian. Malaikat bertanya bukan untuk memprotes, melainkan karena heran dan ingin tahu mengapa Allah mengangkat manusia sebagai khalifah. Mereka khawatir manusia akan berbuat kerusakan dan menumpahkan darah akibat dorongan nafsu dan unsur tanah dalam diri mereka. Malaikat merasa lebih layak karena sifat mereka yang maksum dan senantiasa bertasbih serta menyucikan Allah.

Ada beberapa pendapat mengenai bagaimana malaikat mengetahui hal gaib tersebut:

  1. Pemberitahuan Langsung: Allah telah memberitahu mereka sebelumnya atau mereka melihatnya di Lauhul Mahfuzh.
  2. Tabiat Makhluk: Malaikat paham bahwa hanya mereka yang maksum, sedangkan makhluk lain memiliki potensi salah.
  3. Analogi dengan Jin: Mereka mengibaratkan manusia dengan bangsa Jin yang telah berbuat kerusakan di bumi sebelum penciptaan manusia.
  4. Analogi dengan Makhluk Terdahulu: Ada pendapat bahwa sebelum Nabi Adam, sudah ada makhluk lain yang mendiami bumi dan sering bertikai. Malaikat menganggap manusia akan melakukan hal serupa.
  5. Tabiat Bahan Baku: Malaikat memahami bahwa unsur tanah pada manusia mengandung potensi kebaikan sekaligus kejahatan.

Menurut Sayyid Quthb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an, malaikat memprediksi bahwa manusia akan merusak bumi dan menumpahkan darah berdasarkan beberapa kemungkinan: bukti-bukti keadaan, pengalaman masa lalu di bumi, ilham batin, atau pemahaman atas tabiat dasar manusia.

Sebagai makhluk suci, malaikat memandang bahwa tujuan mutlak penciptaan hanyalah untuk beribadah, bertasbih, dan menyucikan Allah—hal yang sudah mereka lakukan sepenuhnya secara konsisten.

Jawaban Allah

Pada ujung ayat 30 Surat Al-Baqarah, Allah menjawab kekhawatiran malaikat dengan singkat.

قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”

“Maksudnya, keberadaan iblis di antara kalian dan keadaan penciptaan ini tidaklah sebagaimana yang kalian gambarkan itu,” terang Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Buya Hamka menjelaskan, dengan jawaban ini, Allah Ta’ala tidak membantah pendapat dari malaikat-Nya, cuma menjelaskan bahwasanya pendapat dan ilmu mereka tidaklah seluas dan sejauh pengetahuan Allah.

“Bukanlah Allah memungkiri bahwa kerusakan pun akan timbul dan darah akan tertumpah, tetapi ada maksud lain yang lebih jauh dari itu sehingga kerusakan hanya sebagai pelengkap saja dari pembangunan dan pertumpahan darah hanyalah satu tingkat perjalanan hidup saja di dalam menuju kesempurnaan. Mendapati jawaban Allah ini, malaikat menerima dengan penuh ketaatan,” tulis Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar.

Sayyid Quthb menjelaskan, malaikat belum memahami hikmah tinggi Allah dalam menciptakan manusia, yaitu:

  1. Memakmurkan Bumi: Mengembangkan dan memvariasikan kehidupan melalui peran khalifah.
  2. Kebaikan yang Lebih Besar: Di balik potensi kerusakan dan pertumpahan darah, terdapat dinamika pertumbuhan, usaha, penelitian, dan kemajuan peradaban yang konstan.
  3. Dinamika Kehidupan: Proses “kerusakan dan pembangunan” merupakan bagian dari undang-undang alam untuk mencapai kesempurnaan dalam kerajaan alam semesta.

Baca juga: Surat Yasin

Kesimpulan

Surat Al-Baqarah ayat 30 mengabadikan momen saat Allah menyampaikan rencana penciptaan manusia sebagai khalifah kepada para malaikat. Penggunaan kata idz yang bermakna “ingatlah” mengajak kita menghadirkan peristiwa ini dalam kesadaran sebagai memori kolektif tentang amanah besar untuk memakmurkan bumi secara turun-temurun.

Malaikat merespons dengan pertanyaan yang didasari rasa heran, bukan protes. Mereka mengkhawatirkan potensi manusia merusak bumi dan menumpahkan darah, sebagaimana kecenderungan makhluk berbahan dasar tanah atau berdasarkan pengalaman masa lalu. Bagi malaikat, tujuan utama penciptaan adalah ibadah suci yang telah mereka jalankan dengan sempurna.

Namun, Allah menegaskan bahwa ilmu-Nya melampaui segala pengetahuan makhluk. Di balik potensi kekhilafan manusia, terdapat hikmah agung untuk membangun peradaban melalui ilmu dan dinamika kehidupan. Potensi kerusakan hanyalah bagian kecil dari proses besar menuju kesempurnaan alam semesta, di mana manusia berperan sebagai kahilaf yang mengelola bumi sesuai dengan syariat-Nya. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

SILAKAN BERI TANGGAPAN

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini