Beranda Suplemen Khutbah Jumat Khutbah Jumat: Ilmu Tanpa Adab

Khutbah Jumat: Ilmu Tanpa Adab

0
khutbah jumat ilmu tanpa adab

Pekan ini, jagat media sosial dihebohkan ulah sembilan siswa di sebuah SMA yang mengacungkan jari tengah sambil menjulurkan lidah dari belakang kepada seorang guru. Bisa jadi, kasus tersebut adalah fenomena gunung es tentang matinya adab di sekolah yang membuat ilmu tidak berkah.

Oleh karena itu, Khutbah Jumat edisi 7 Dzulqa’dah 1447 bertepatan 24 April 2026 ini mengambil tema Ilmu Tanpa Adab.

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا . مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ . وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah Shalat Jum’at hafidhakumullah,
Marilah kita bersyukur kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah mengutus Rasul-Nya untuk menyempurnakan akhlak manusia. Mari kita tingkatkan taqwa antara lain dengan memperbaiki akhlak kita dan mengajarkan adab kepada anak-anak kita.

Pekan ini, viral di media sosial, sembilan siswa di sebuah SMA mengacungkan jari tengah sambil menjulurkan lidah kepada seorang guru. Karena mereka melakukannya dari belakang, sang guru tidak tahu. Sang guru baru tahu setelah video itu viral. Beliau sudah memaafkan murid-muridnya tetapi kasus ini mengundang keprihatinan masyarakat Indonesia soal akhlak generasi muda dan adab mereka kepada guru.

Akhlak dan Adab

Akhlak mulia adalah karakter (muwashofat) seorang muslim. Selain aqidah yang bersih (salimul aqidah), ibadah yang benar (shahihul ibadah), seorang muslim harus memiliki akhlak yang kokoh dan mulia (matinul khuluq). Bahkan menyempurnakan akhlak merupakan misi risalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana sabda beliau:

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ

Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kesalehan akhlak. (HR. Ahmad; shahih)

Adab kepada guru merupakan bagian penting dari akhlak yang harus kita jaga. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا

Tidak termasuk golongan umatku orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengerti hak ulama (guru) kami. (HR. Ahmad; hasan)

Para ulama terdahulu dengan tegas menyatakan bahwa adab adalah fondasi, sedangkan ilmu adalah bangunan di atasnya. Tanpa fondasi yang kokoh, bangunan ilmu itu akan runtuh dan tidak membawa manfaat bagi pemiliknya maupun orang lain. Imam Abdullah bin Mubarak rahimahullah mengatakan:

نَحْنُ إِلَى قَلِيلٍ مِنَ الْأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيرٍ مِنَ الْعِلْمِ

“Kami lebih membutuhkan adab yang sedikit daripada ilmu yang banyak.”

Hal ini dipertegas oleh Imam Malik bin Anas saat memberikan nasihat kepada seorang pemuda Quraisy:

تَعَلَّمِ الْأَدَبَ قَبْلَ أَنْ تَتَعَلَّمَ الْعِلْمَ

“Pelajarilah adab sebelum kamu mempelajari ilmu.”

Mengapa para ulama begitu menekankan hal ini? Karena ilmu yang didapat tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan, sebagaimana iblis yang berilmu tinggi namun dilaknat karena keangkuhannya. Dalam sejarah, kita mengenal betapa mulianya adab para ulama salaf terhadap guru mereka. Lihatlah bagaimana Imam Syafi’i yang sangat berhati-hati saat membuka lembaran kitab di depan gurunya, Imam Malik, agar suara gesekan kertas tidak terdengar dan mengganggu sang guru. Beliau berkata:

كُنْتُ أُصَفِّحُ الْوَرَقَ بَيْنَ يَدَيْ مَالِكٍ صَفْحًا رَفِيقًا هَيْبَةً لَهُ لِئَلَّا يَسْمَعَ وَقْعَهَا

“Dahulu aku membalikkan kertas di depan Imam Malik dengan sangat lembut karena rasa segan kepadanya, agar beliau tidak mendengarnya.”

Begitu pula Imam Ahmad bin Hanbal, meskipun beliau adalah seorang ulama besar, beliau tetap menghormati gurunya dengan luar biasa. Inilah rahasia mengapa ilmu mereka abadi dan penuh berkah hingga hari ini. Mereka memahami bahwa keberkahan ilmu hanya mengalir melalui jalur penghormatan dan keridhaan seorang guru. Tanpa adab dan ridha guru, ilmu yang tinggi hanya akan menjadi hujah yang memberatkan kita di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Fenomena Gunung Es dan Penyebabnya

Secara jujur, kita harus melihat kasus sembilan oknum siswa ini sebagai Fenomena Gunung Es. Kasus tersebut hanyalah puncak yang terlihat karena terekam kamera. Di bawah permukaan, ada ribuan kejadian serupa: siswa yang menggerutu di belakang guru, mengabaikan instruksi di kelas, hingga merundung guru melalui grup WhatsApp.

Digitalisasi pendidikan pasca-pandemi membuat batas antara ruang privat dan publik kabur. Anak-anak merasa memiliki “power” lebih besar di dunia digital, yang kemudian mereka bawa ke ruang kelas fisik.

Apa penyebab fenomena ini? Pertama, krisis keteladanan (qudwah hasanah). Anak-anak kehilangan figur yang bisa ditiru di dunia nyata. Mereka lebih sering melihat konten pembangkangan yang dianggap “keren” atau “lucu” di media sosial, sehingga standar moral mereka bergeser dari standar agama ke standar trending.

Kedua, dominasi mentalitas “konsumen” pendidikan. Banyak orang tua dan siswa memandang sekolah hanya sebagai penyedia jasa. Karena merasa sudah “membayar”, muncul rasa superioritas di mana guru dianggap sebagai pelayan, bukan lagi sebagai “orang tua kedua” yang harus dimuliakan.

Ketiga, haus validasi digital. Tindakan tidak sopan sengaja direkam demi mendapatkan pengakuan (likes/views). Ini adalah penyakit hati yang sudah masuk ke ruang kelas.

Solusi Konkret

Jamaah Jum’at hafidhakumullah,
Fenomena ini tidak boleh dibiarkan apalagi dinormalisasi. Kita harus mengambil langkah untuk kembali mengarusutamakan akhlak dan adab. Baik sebagai seorang ayah maupun seorang guru.

Sebagai pemimpin keluarga, ayah adalah pemegang kendali utama dalam menentukan warna akhlak anak-anaknya. Fenomena krisis adab di sekolah sering kali berakar dari “absennya” sosok Ayah dalam pendidikan karakter di rumah.

Wahai para Ayah, tanggung jawab mendidik anak bukan hanya terletak di pundak ibu, dan bukan pula sepenuhnya tugas guru. Di dalam Al-Qur’an, yang Allah berikan tanggung jawab untuk mendidik keluarga adalah para ayah. Sebagaimana firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا

Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka. (QS. At-Tahrim: 6)

Di dalam Al-Qur’an, Allah juga mengabadikan dialog-dialog pendidikan yang mayoritas dilakukan oleh seorang Ayah. Ini adalah pesan bagi kita bahwa seorang laki-laki harus menjadi “Imam Akhlak” bagi anak-anaknya.

Anak yang berani menantang gurunya di sekolah, sering kali adalah anak yang kehilangan wibawa ayahnya di rumah, atau anak yang tidak pernah melihat ayahnya memuliakan ilmu. Ayah adalah teladan pertama. Jika seorang Ayah berbicara kasar, maka jangan heran jika anak membawa lisan yang tajam ke hadapan gurunya. Jika Ayah hanya peduli pada nilai rapor, maka jangan kaget jika anak menghalalkan segala cara demi sebuah pengakuan.

Maka, berikan keteladanan terbaik kepada anak-anak dan didik mereka agar memiliki akhlak mulia. Sungguh sebaik-baik pemberian ayah kepada anaknya adalah akhlak mulia. Sebagaimana sebuah hadits:

مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدًا مِنْ نُحْلٍ أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ

Tidak ada pemberian orang tua kepada anak yang lebih utama daripada adab yang baik. (HR. Tirmidzi)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ . أَقُوْلُ قَوْلِ هَذَا وَاسْتَغْفِرُوْاللَّهَ الْعَظِيْمِ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ . أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Maa’syiral muslimin rahimakumullah,
Bagi para guru dan pendidik, fenomena ini adalah ujian kesabaran sekaligus panggilan untuk kembali ke khittah pendidikan Islam. Guru bukan sekadar profesi untuk mencari nafkah, melainkan tugas kenabian. Tugas guru bukan hanya memastikan siswa hafal rumus atau teks, tetapi memastikan hati mereka tersentuh oleh nilai-nilai kebenaran.

Di tengah siswa yang haus akan validasi dan viralitas, guru harus hadir dengan kewibawaan yang lahir dari ketulusan. Guru perlu melakukan pendekatan yang melampaui sanksi administratif; yaitu pendekatan hati. Ketika seorang siswa kehilangan adab, guru dipanggil untuk membalasnya dengan ketegasan yang mendidik, bukan amarah yang merusak. Guru harus menjadi oase di tengah gersangnya keteladanan yang dilihat siswa di dunia digital. Guru harus menjadi teladan, bukan hanya mengajarkan kebenaran.

أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ أَنْفُسَكُمْ

Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri? (QS. Al-Baqarah: 44)

Maka pada khutbah yang kedua ini, marilah kita berdoa semoga Allah menjaga kita, anak-anak kita, murid-murid kita. Semoga semuanya Allah istiqomahkan di atas jalan-Nya. Semoga Allah kuatkan iman kita, Allah perbaiki akhlak kita, dan Allah masukkan kita ke surga-Nya kelak bersama anak-anak dan murid-murid kita.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ . رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ. اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ . رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

 < Khutbah LainnyaDownload versi PDF >
Khutbah Jumat 2026Telegram BersamaDakwah

SILAKAN BERI TANGGAPAN

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini