Surat Al-An’am Ayat 1 dan Artinya
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ (۱)
Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka. (QS. Al-An’am: 1)
| < Al-Maidah ayat 120 | Al-An’am ayat 2 > |
Surat Al-An’am Ayat 1 Arti per Kata
| segala puji | الْحَمْدُ |
| untuk Allah | لِلَّهِ |
| yang | الَّذِي |
| telah menciptakan | خَلَقَ |
| langit | السَّمَاوَاتِ |
| dan bumi | وَالْأَرْضَ |
| dan Dia telah menjadikan | وَجَعَلَ |
| kegelapan | الظُّلُمَاتِ |
| dan cahaya | وَالنُّورَ |
| kemudian, namun | ثُمَّ |
| orang-orang yang | الَّذِينَ |
| mereka kafir | كَفَرُوا |
| terhadap tuhan mereka | بِرَبِّهِمْ |
| mereka menyamakan (menyekutukan) | يَعْدِلُونَ |
Baca juga: Hukum Tajwid Surat Ali Imran Ayat 190-191
Tafsir Surat Al An’am Ayat 1
Berikut ini tafsir Surat Al An’am ayat 1 dari Tafsir Al-Muyassar karya Syekh ‘Aidh Al-Qarni. Lalu Tafsir Jalalain karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti. Terakhir, Tafsir Al-Wajiz karya Syekh Wahbah Az-Zuhaili.
Tafsir Al-Muyassar
Allah Subhanahu wa Ta’ala mengajarkan manusia agar memuji-Nya atas kesempurnaan nikmat dan kebaikan-Nya. Juga keindahan dan keahlian ciptaan-Nya. Karena Allah memang berhak mendapatkan pujian paling sempurna dan sanjungan paling agung.
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan langit dan bumi. Keduanya adalah makhluk yang sangat besar, kokoh, indah, lagi tertata rapi. Dia juga menciptakan malam dan siang serta segala sesuatu yang terdapat di dalamnya. Seperti kegelapan dan cahaya untuk tidur, istirahat, kerja, mencari nafkah, menuntut ilmu, dan berkarya.
Setelah penciptaan semua makhluk tampak dengan tanda-tanda yang begitu jelas, datanglah orang-orang kafir menyekutukan Allah dengan berhala-berhala yang tidak bisa mencipta, tidak bisa memberi rezeki, tidak bisa mengatur, tidak menghidupkan, dan tidak pula mematikan. Celakalah mereka akibat kebodohan ini.
Baca juga: Surat Al Maidah Ayat 48
Tafsir Jalalain
Segala puji bagi Allah yaitu pujian dengan segala sifat yang indah yang benar-benar milik Allah. Apakah maksud ungkapan ini adalah untuk memberitahukan hal tersebut agar diimani, atau untuk memuji-Nya, ataukah mencakup keduanya? Ada beberapa kemungkinan. Pendapat yang paling kuat adalah yang ketiga, yaitu mencakup keduanya. Hal ini telah dijelaskan oleh Syaikh (Jalaluddin al-Mahalli) dalam tafsir Surah Al-Kahfi ayat 1.
Yang telah menciptakan langit dan bumi. Allah mengkhususkan penyebutan langit dan bumi karena keduanya merupakan makhluk yang paling agung menurut pandangan manusia.
Dan menjadikan (menciptakan) gelap dan terang. Maksudnya, Allah menciptakan setiap bentuk kegelapan dan setiap bentuk cahaya. Kata “kegelapan” (الظلمات) disebut dalam bentuk jamak karena banyaknya sebab dan ragamnya, sedangkan “cahaya” (النور) disebut dalam bentuk tunggal. Semua itu merupakan salah satu bukti keesaan Allah.
Kemudian orang-orang yang kafir… meskipun bukti yang begitu nyata telah ditegakkan, …mereka mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka. Maksudnya, mereka menyamakan selain Allah dengan-Nya dalam hal ibadah.
Baca juga: Tajwid Al Baqarah Ayat 155-156
Tafsir Al-Wajiz
Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan langit dan bumi serta menjadikan kegelapan-kegelapan dan cahaya, yakni menciptakan malam dan siang. Kemudian orang-orang yang kafir, setelah tegaknya dalil atas keesaan-Nya melalui apa yang telah disebutkan dari ciptaan-Nya, mempersekutukan dengan Tuhan mereka, yaitu mereka menyamakan batu-batu dan berhala-berhala dengan-Nya, lalu mereka menyembahnya bersama-Nya.
Baca juga: Tajwid Al Baqarah Ayat 143
Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir
Surah Al-An’am merupakan surah Makkiyah yang terdiri dari 165 ayat. Ibnu Katsir menyebutkan beberapa riwayat bahwa surah ini diturunkan sekaligus pada malam hari dan diiringi oleh tujuh puluh ribu malaikat yang memenuhi ufuk sambil bertasbih dan bertahmid kepada Allah.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun ikut mengagungkan Allah ketika surah ini diturunkan. Meskipun terdapat perbedaan pendapat mengenai kekuatan riwayat-riwayat tersebut, semuanya menunjukkan keagungan kandungan Surah Al-An’am yang berisi penegasan tauhid dan bantahan terhadap kesyirikan.
1. Allah Satu-satunya Yang Berhak Dipuji
الْحَمْدُ لِلَّهِ
“Segala puji bagi Allah.”
Allah membuka Surah Al-An’am dengan memuji diri-Nya sendiri. Menurut Ibnu Katsir, pujian ini sekaligus menjadi pengajaran bagi hamba-hamba-Nya agar mereka senantiasa memuji Allah. Dia berhak menerima segala pujian karena seluruh nikmat dan kesempurnaan berasal dari-Nya. Dengan pembukaan ini, Allah menanamkan bahwa segala bentuk sanjungan dan pujian yang sempurna hanya layak ditujukan kepada-Nya.
2. Langit dan Bumi Bukti Keagungan Pencipta
الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
“Yang telah menciptakan langit dan bumi.”
Allah berhak dipuji karena Dialah yang menciptakan langit dan bumi, dua makhluk terbesar yang dapat disaksikan manusia. Keduanya menjadi tempat kehidupan sekaligus menyimpan berbagai tanda kekuasaan, hikmah, dan nikmat Allah yang tidak terhitung. Penyebutan langit dan bumi mengingatkan manusia bahwa seluruh alam semesta memiliki satu Pencipta, sehingga hanya Dia yang berhak disembah.
3. Cahaya Petunjuk dan Beragam Kegelapan
وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ
“Dan Dia menjadikan kegelapan-kegelapan dan cahaya.”
Allah menciptakan berbagai bentuk kegelapan dan cahaya sebagai nikmat bagi kehidupan manusia. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kata “kegelapan” disebut dalam bentuk jamak, sedangkan “cahaya” dalam bentuk tunggal. Hal ini menunjukkan bahwa jalan kebatilan memiliki banyak bentuk, sedangkan jalan kebenaran hanya satu.
Penggunaan bentuk tunggal untuk cahaya sejalan dengan firman Allah pada akhir Surah Al-An’am yang menyebut jalan Allah sebagai jalan yang lurus, sedangkan jalan-jalan kesesatan disebut dalam bentuk jamak. Selain dimaknai sebagai malam dan siang, para ulama juga menafsirkan kegelapan dan cahaya sebagai kekafiran dan keimanan, kebodohan dan ilmu, bahkan neraka dan surga. Semua makna tersebut menunjukkan bahwa Allah adalah Pencipta segala sesuatu, baik yang bersifat fisik maupun maknawi.
4. Kesyirikan di Tengah Bukti Tauhid yang Nyata
ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ
“Kemudian orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.”
Setelah memaparkan bukti-bukti yang sangat jelas tentang keesaan-Nya, Allah menyatakan keheranan terhadap sikap orang-orang kafir. Meskipun mereka menyaksikan tanda-tanda kekuasaan Allah dalam penciptaan langit, bumi, kegelapan, dan cahaya, mereka tetap menyekutukan-Nya.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa makna ﴿يَعْدِلُونَ﴾ adalah menjadikan tandingan bagi Allah, yaitu menyamakan makhluk dengan Sang Pencipta dalam ibadah. Mereka menjadikan sekutu bagi Allah, bahkan menganggap Allah memiliki pasangan dan anak. Padahal seluruh bukti penciptaan menunjukkan bahwa hanya Allah semata yang berhak diibadahi.
Penutup ayat ini merupakan celaan keras terhadap orang-orang musyrik. Setelah Allah memperlihatkan tanda-tanda rububiyah-Nya yang begitu nyata, mereka tetap berpaling dari tauhid menuju kesyirikan. Karena itu, ayat pertama Surah Al-An’am menjadi pembukaan yang sangat kuat dalam menegaskan akidah Islam bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pengatur, dan satu-satunya Tuhan yang berhak menerima segala bentuk ibadah.
| < Sebelumnya | Surat | Berikutnya > |
| Al-Maidah ayat 120 | Al-An’am | Al-An’am ayat 2 |
