Kapal Global Sumud Flotilla terpaksa kembali merapat ke dermaga. Bukan pelabuhan yang sama. Cuaca tidak bersahabat. Kalau perjalanan keluar Barcelona diteruskan, laut bisa berubah menjadi berbahaya.
Akhirnya semua kapal menepi.
Chiki dan saya kemudian mencari hotel untuk bermalam di darat. Ada sih pilihan untuk tidur di kapal, tetapi rasanya lebih baik mencari penginapan yang tidak jauh dari pelabuhan. Bisa istirahat dengan lebih layak, sambil menambah perbekalan.
Mbak Cahya, saudara sebangsa yang mukim di Barcelona, datang membawakan nasi dan dendeng balado dalam jumlah banyak.
Nasi. Dendeng balado. Sebagian kami sisihkan untuk dibawa naik kapal.
Mbak Cahya juga menemani kami membeli perlengkapan untuk membersihkan toilet. Thiago dan saya sepakat menjadi tim toilet.
Sarung tangan. Tisu kering. Tisu basah. Cairan pembersih toilet. Lap. Lengkap.
Esoknya cuaca masih belum bersahabat. Langit seperti belum memberikan izin.
Sambil menunggu waktu yang aman untuk berlayar, kami kembali berlatih menghadapi intersepsi. Kami membicarakan apa yang harus dilakukan jika IDF mendekat.
Kapan HP dibuang. Siapa duduk di mana. Siapa di sebelah siapa. Bagaimana posisi kami. Apa yang harus dilakukan jika kapal dihentikan. Apa yang harus diamankan. Apa yang justru harus dilepaskan.
Ari, asal Brazil, menjelaskan berbagai mekanisme keamanan di kapal. Saya mendengarkan sambil mencoba membayangkan laut di depan sana.
Pada 14 April, cuaca membaik.
Pesan datang. Segera ke kapal.
Geret-geret tas deh.
Chiki dan saya berjalan menuju pelabuhan dengan ransel yang terasa makin berat.
Begitu naik ke Safsaf, kami langsung melakukan apa yang dilakukan hampir semua orang yang baru datang ke kapal, mencari pojok untuk menaruh barang.
Di tengah geladak buritan ada meja yang penuh barang. Di bawahnya juga penuh barang. Kiri-kanan geladak dipenuhi kursi yang berjejer.
Saya memandang sekeliling.
Ini kapal kami?
Safsaf berisi lebih dari dua puluh orang. Saya baru hafal Thiago, Nadir, Arif, dan Chiki.
Yang lain masih berupa wajah-wajah asing yang sesekali saya lihat dalam rapat online. Wajah yang selama ini hanya muncul sebagai kotak kecil di layar. Sekarang mereka ada di depan mata.
Saya masuk ke ruang duduk.
Dan…. Haduh….
Ada sepeda di depan dapur. Barang di mana-mana. Kabel. Jaket. Sepatu sebelah. Kardus kosong. Kardus setengah berisi. Botol minum.
Barang-barang seperti tumbuh sendiri dari lantai, meja, kursi, rak, bahkan dari sudut-sudut yang seharusnya tidak bisa menyimpan apa-apa. Kapal yang benar-benar kayak kapal pecah.

Kalau sahabat saya yang OCD melihat ini, mungkin dia akan langsung turun kapal.
Debu di mana-mana. Bau laut bercampur dengan bau pakaian, makanan, kardus, dan ruang tertutup.
Saya melihat Chiki.
“Kita beresin yuk, Chiki.”
“Ayo Uni,” sambut Chiki semangat.
Kami mulai dari lemari. Roti digabungkan dengan roti. Pasta kering disusun. Kabel digabungkan dengan kabel. Charger satu kotak dengan charger. Gelas dan piring kotor dibawa ke dapur. Dicuci.
Lelaki berbaju kuning yang ternyata salah satu rekan yang sering bertemu dalam rapat online ikut beberes.
Namanya Javi. Dibaca Havi.
Sahabat baru ini gesit dan teliti. Ia punya cara sendiri mengatur barang. Cepat, tetapi tidak asal. Kami bekerja tanpa banyak bicara.
Meja dilap. Sekali. Dua kali. Sampai permukaannya mulai mengilap.
Jendela kapal kami lap dengan kain basah. Setelah itu dikeringkan dengan tisu dapur.
Lantai dipel.
Pelan-pelan, Safsaf mulai terlihat seperti kapal yang dihuni manusia, bukan gudang yang kebetulan bisa berlayar.
Kinclonglah.
Teman-teman lain lalu-lalang mempersiapkan keberangkatan. Suasana kapal semakin ramai.
Saya dan Chiki baru saja mulai duduk untuk beristirahat ketika tiba-tiba terdengar suara Maria, kapten, dan kru.
“Clear this space now!”
Ups.
Kami saling berpandangan. Senyum. Lalu menyingkir.
Tali-tali mulai ditarik. Safsaf akan berlayar. Daerah tempat kami tadi duduk berubah menjadi area kerja.
Proses menarik jangkar bukan pekerjaan yang aman jika terlalu banyak orang berkeliaran di sekitarnya. Ada tali. Ada beban. Ada gerakan yang tidak bisa ditebak. Semua orang harus mengosongkan area. Kecuali kapten dan kru.
Lizi dan Chiki naik ke geladak atas.
Di depan kami, satu per satu kapal mulai meninggalkan dermaga. Setiap kapal yang melintas disambut teriakan.
“LET’S GO!”
Suara manusia bercampur dengan suara mesin. Tali ditarik. Air bergolak di belakang kapal. Satu demi satu bergerak meninggalkan pelabuhan. Di antara kapal layar kecil-kecil itu, ada kapal besar Open Arms merah.
Angin siang itu terasa lembut di wajah. Air laut begitu jernih.
Di sekitar kami puluhan kapal kecil bergerak dengan layar yang berkembang, penuh warna dan lukisan. Di bibir pantai, orang-orang melambaikan tangan.
Saya kembali ke ruang duduk. Thiago ada di sana. Wajahnya lelah.
Saya tahu dia sedang menghadapi masalah besar. Tetapi kami bersama dengannya.
“Are you okay?”
“Yes, I am fine, Maimon. Thank you.”
“Have you had lunch?”
“There are lunch outside. Have you had one?”
Di meja luar ada kantong plastik berisi kotak-kotak makanan.
Saya mengambil satu.
“It’s vegan,” jelas Thiago. Artinya halal.
Saya tidak tahu makanan apa itu.
Chiki mencicipinya. “Enak, Uni.”
Saya tersenyum.
Hidup bersama Chiki membuat saya belajar satu hal. Chiki demikian santun dan humble. Apa pun yang diberikan kepadanya, selalu ada sesuatu yang bisa dipuji. Makanan yang menurut lidah saya biasa saja, bagi Chiki enak.
Lidah Padang saya tentu saja tidak selalu sepakat.
Saat kami sedang duduk, Fix datang.
Dia membuka laci satu demi satu.
“Anybody see…”
Saya tidak menangkap apa yang sedang dicari.
O o.
Jangan-jangan barang yang termasuk kami rapikan.
Javi dan saya berpandangan.
Wajah Fix semakin keruh.
Dia membuka laci paling bawah.
Saya menahan napas sedikit.
Kami tidak menyentuh isi laci. Tetapi kalau barangnya diletakkan di luar, kemungkinan besar sudah kami pindahkan. Saya menunjukkan lokasi barang-barang yang kami rapikan.
Tidak ada.
Saya menyerah. Kembali duduk. Jangan sampai saya justru mengganggu orang yang sedang mencari sesuatu.
Chiki masih ngobrol dengan beberapa orang.
Sore itu Musa, organizer kapal, mengajak kami berkumpul. Berkenalan. Satu per satu.
Isi kapal ini 21 orang. Ada Syuaib, suami Sumaira. Dua bapak Turki. Salah satunya bintang film yang ikut dalam drama Ertugrul. Keduanya sepertinya bekerja di media.
Ada CEO Ahmad asal Malaysia, salah satu kru kapal. Paddy dari Irlandia. Dokter Peter. Haha, bangsa Maori yang penuh tato dan pintar menari haka.

Dua puluh satu manusia yang entah bagaimana akhirnya bertemu di satu kapal kecil.
Musa mulai membagi tugas. Malam ini piket masak, Chloe dibantu Javi.
Piket bersih-bersih toilet, Thiago dan saya.
Ronda malam dibagi dua jam. Saya kebagian jam empat pagi.
Selain membagi tugas, kami juga membagi kamar.
“We should have one hijab-free room for Maimon and Chiki,” kata Thiago.
Saya langsung menoleh.
Jadi satu kamar akan dikhususkan untuk saya dan Chiki. Karena kamar itu sebenarnya untuk berempat, Thaina juga ikut. Thaina adalah mantan putri Brazil yang pernah ikut Miss World.
Thiago juga meminta Musa menempatkan satu perempuan dalam piket malam sebelum jadwal saya dan Chiki. Perempuan itu nanti akan mengetuk pintu kamar kami ketika tiba giliran ronda.
Wah. So, so sweet.
Saya dan Chiki membawa ransel ke kamar. Kamar itu tepat di depan toilet.
Alhamdulillah. Tioletnya ada bidet.
Oh iya, toilet di kapal ini juga punya cara kerja yang unik.
Tinggal tekan tombol. Ada tekanan yang menghisap apa pun yang ada di toilet. Airnya hanya dikucurkan sedikit.
Praktis.
Kamar kami sendiri menarik. Ada pintu. Kamar lain tanpa pintu. Sempit. Sangat sempit. Ruang lantainya hanya tersisa sedikit. Cukup untuk berdiri shalat satu orang.
Selebihnya kasur. Satu kasur dobel. Di atasnya, melintang rapat ke jendela, satu kasur single. Di dinding yang lain, satu kasur single lagi.
Empat orang bisa masuk.
Tetapi kalau salah satu bergerak, mungkin yang lain ikut bergerak.
Chiki kembali ke atas.
Saya memilih istirahat sebentar. Karena malam nanti saya kebagian ronda.
“Kita ada rapat.” Thiago mengatakan itu ketika saya naik ke ruang duduk selepas Maghrib.
Langit baru saja memerah. Sisa cahaya matahari menggantung di ufuk. Warna merahnya memantul di laut yang perlahan menjadi gelap.
Ruang duduk penuh.
Kami naik ke geladak atas. Ada pembicaraan yang cukup sensitif. Hanya untuk tim SC.
Di pojok sudah ada Nadir. Seperti biasa. Rapat panjang.
Empat SC saat ini berada di tengah laut. Selain kami bertiga di Safsaf, ada Saif yang berlayar dengan Open Arms.
SC lainnya tersebar di berbagai tempat. Tony dan Maria Elena di Italia. Sumaira, Shabnam, dan Patricia di Turki. Patrick seharusnya di Yunani.
Saya mulai memahami posisi Safsaf. Kapal ini bukan sekadar salah satu kapal. Safsaf menjadi salah satu pusat komunikasi. Tempat koordinasi, berbagi informasi, memutuskan sesuatu.
Dengan demikian, risikonya juga lebih besar. Safsaf bisa menjadi target utama. Pada misi sebelumnya, mothership dan kapal utama lainnya dijatuhi bahan peledak. Oleh karena itu, malam-malam harus dijaga bersama. Ronda.
Supaya tidak terlambat ronda, saya segera tidur setelah rapat. Alarm dipasang.
Chiki sudah lelap di kasur yang merapat ke dinding, di atas kasur dobel. Thaina juga sudah tidur di kasur satunya.
Tubuh diayun-ayun ombak. Mesin kapal berdengung dari bawah. Getarannya terasa sampai ke kasur.
Saya memejamkan mata. Mencoba menghilangkan semua pikiran tentang anak-anak di rumah.Mereka akan baik-baik saja.
Sebelum alarm berbunyi, saya sudah terbangun. Saya melirik Chiki. Masih tidur.
Kasihan.
Pelan-pelan bangun, masuk toilet. Toilet yang sore tadi dibersihkan bersama Thiago. Jadi ada empat toilet, saya membersihkan dua. Thiago dua.
Di lantai berjejer galon-galon air. Air laut yang disimpan untuk bebersih.
Saya gosok gigi. Wudhu. Merapikan jilbab. Lalu menaiki tangga.
Suara mesin kapal menyambut saya. Ruang duduk gelap. Kosong.
Saya keluar ke geladak belakang. Yang namanya ronda, ya naik ke geladak atas supaya luas memandang.
“Hai.”
Tiger menyapa ketika saya sampai.
Waaah.
Langit laut. Penuh bintang. Di sekeliling, puluhan kapal terlihat sebagai titik-titik cahaya. Lampu mereka berkelip di atas laut.
“Beautiful, isn’t it?”
Betul-betul indah.
“My heart is so happy,” kata Tiger.
Tiger ini perempuan dengan tato di mana-mana. Rambutnya sebagian dicukur pendek, sebagian dibiarkan panjang.
Tomboy.
Sebelum ikut GSF, dia bekerja di kapal besar. Katanya, malam-malam dalam pekerjaannya dulu semuanya gelap gulita. Hanya ada satu kapal. Sepanjang malam.
Sekarang berbeda. Safsaf berada di tengah puluhan kapal. Lampu ada di mana-mana.
Seperti sebuah kota kecil yang mengapung di laut.
Kapal terus bergoyang pelan. Mesin berdengung di bawah kaki.
Berdiri bersama Tiger, saya mulai belajar satu per satu teman sekapal ini. Walau angin musim semi penghujung malam ini demikian dingin, hati terasa hangat karena perjalanan bersama teman satu misi, menuju Gaza.[]
Penulis:
Maimon Herawati, Dosen Unpad dan SC Global Sumud Flotilla
| < Seri GSF Bagian 1 | Seri GSF Bagian 3 > |
| Warna-warni Pro Palestina |
