Beranda Quran 008 Al-Anfal Surat Al-Anfal Ayat 10: Arti per Kata dan Tafsir

Surat Al-Anfal Ayat 10: Arti per Kata dan Tafsir

0
surat al-anfal ayat 10

Surat Al-Anfal Ayat 10 dan Artinya

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَى وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (١۰)

Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Anfal: 10)

< Al-Anfal ayat 9Al-Anfal ayat 11 >

Surat Al-Anfal Ayat 10 Arti per Kata

dan tidaklahوَمَا
Dia menjadikannyaجَعَلَهُ
Allahاللَّهُ
kecualiإِلَّا
kabar gembiraبُشْرَى
dan untuk menenangkanوَلِتَطْمَئِنَّ
dengannyaبِهِ
hatimuقُلُوبُكُمْ
dan tidak adaوَمَا
kemenanganالنَّصْرُ
kecualiإِلَّا
dariمِنْ
sisiعِنْدِ
Allahاللَّهِ
sesungguhnyaإِنَّ
Allahاللَّهَ
Maha Perkasaعَزِيزٌ
Maha Bijaksanaحَكِيمٌ

Baca juga: Surat Yasin

Tafsir Surat Al-Anfal Ayat 10

Berikut ini tafsir Surat Al-Anfal ayat 10 dari Tafsir Al-Muyassar karya Syekh ‘Aidh Al-Qarni serta Tafsir Jalalain karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti. Lalu, Tafsir Al-Wajiz karya Syekh Wahbah Az-Zuhaili dan Tafsir Zadul Masir karya Ibnu Jauzi. Terakhir, Tafsir Ibnu Katsir.

Tafsir Al-Muyassar

Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menurunkan para malaikat itu bersama kalian melainkan hanya sebagai berita gembira kemenangan supaya hati kalian tenang dari rasa takut. Hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menolong, bukan yang lain. Bukan kalian dan bukan pula para malaikat yang menentukan kemenangan di Perang Badar melainkan Allah Subhanahu wa Ta’ala semata. Pertempuran kalian hanya sekadar usaha.

Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Kuat dan tidak terkalahkan. Dialah pemilik kekuasaan tertinggi yang tidak bisa diperangi. Dia Maha Bijaksana dalam perbuatannya. Dia meletakkan setiap perkara pada tempatnya karena ilmu-Nya yang sempurna dan hikmah-Nya yang paripurna.

Ayat ini menggabungkan antara tawakal dan usaha. Tidak bertawakal berarti cacat pada keyakinan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sedangkan tidak berusaha berarti kekurangan pada akal.

Tafsir Jalalain

Dan Allah tidak menjadikannyabala bantuan tersebut melainkan sebagian berita gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Tafsir Al-Wajiz

Allah tidak menjadikan kiriman bala bantuan itu, melainkan sebagai kabar gembira bagimu dan agar hatimu menjadi tenteram dari ketakutan yang menghantui. Kemenangan dan pertolongan itu hanyalah dari sisi Allah, bukan dari lain-Nya.

Kehendak Allah bisa terwujud dengan adanya kejadian sebab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana dalam segala perbuatannya. Yang Maha Meletakkan sesuatu sesuai tempatnya.

Tafsir Zadul Masir

Penjelasan mengenai firman Allah,

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَى

Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira…

telah disebutkan sebelumnya dalam tafsir Surah Ali ‘Imran (ayat 126).

Mujahid berpendapat bahwa Allah tidak memberikan bala bantuan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebih dari seribu malaikat yang disebutkan dalam QS. Al-Anfal: 10. Adapun penyebutan tiga ribu dan lima ribu malaikat, menurutnya, hanyalah sebagai kabar gembira, bukan berarti mereka benar-benar dikirim sebagai bala bantuan.

Mayoritas ulama berpendapat berbeda dengan Mujahid. Kami telah menjelaskan perbedaan pendapat mereka mengenai jumlah malaikat dalam tafsir QS. Ali ‘Imran: 126.

Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah Ta’ala:

وَمَا جَعَلَهُ اللَّهُ إِلَّا بُشْرَى وَلِتَطْمَئِنَّ بِهِ قُلُوبُكُمْ وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ

Dan Allah tidak menjadikannya (mengirim bala bantuan itu), melainkan sebagai kabar gembira dan agar hatimu menjadi tenteram karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. (QS. Al-Anfal: 10)

Maksudnya, Allah tidak menjadikan pengiriman para malaikat dan pemberitahuan-Nya kepada kalian tentang keberadaan mereka, melainkan sebagai kabar gembira dan agar hati kalian menjadi tenteram karenanya. Jika tidak demikian, sesungguhnya Allah Ta‘ala Maha Kuasa untuk memberikan kemenangan kepada kalian atas musuh-musuh kalian tanpa hal tersebut.

Karena itulah, Allah berfirman,

وَمَا النَّصْرُ إِلَّا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ

“Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah.”

Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

فَإِذا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّى إِذَا أَثْخَنْتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّى تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا ذَلِكَ وَلَوْ يَشَاءُ اللَّهُ لانْتَصَرَ مِنْهُمْ وَلَكِنْ لِيَبْلُوَ بَعْضَكُمْ بِبَعْضٍ وَالَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَلَنْ يُضِلَّ أَعْمَالَهُمْ . سَيَهْدِيهِمْ وَيُصْلِحُ بَالَهُمْ . وَيُدْخِلُهُمُ الْجَنَّةَ عَرَّفَهَا لَهُمْ

“Apabila kalian bertemu dengan orang-orang kafir di medan perang, maka tebaslah leher mereka. Setelah kalian berhasil mengalahkan mereka, tawanlah mereka dengan kuat. Setelah itu, kalian boleh membebaskan mereka tanpa tebusan atau dengan mengambil tebusan, sampai perang berakhir. Demikianlah ketentuannya. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia membinasakan mereka, tetapi Dia hendak menguji sebagian kalian dengan sebagian yang lain. Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Dia tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Dia akan memberi mereka petunjuk, memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka.” (QS. Muhammad: 4–6).

Allah Ta‘ala juga berfirman:

وَتِلْكَ الأيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ وَلِيُمَحِّصَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَمْحَقَ الْكَافِرِينَ

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia agar Allah mengetahui orang-orang yang beriman dan agar Dia menjadikan sebagian kalian sebagai syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang zalim. Dan agar Allah membersihkan orang-orang yang beriman serta membinasakan orang-orang kafir.” (QS. Ali ‘Imran: 140–141).

Inilah hikmah-hikmah yang menjadi dasar Allah mensyariatkan jihad melawan orang-orang kafir melalui tangan kaum mukminin.

Adapun umat-umat terdahulu yang mendustakan para nabi, Allah menghukum mereka dengan berbagai bencana dahsyat yang menimpa seluruh kaum yang mendustakan tersebut. Allah membinasakan kaum Nuh dengan banjir besar, kaum ‘Ad yang pertama dengan angin yang sangat dingin, kaum Tsamud dengan suara yang mengguntur, kaum Lut dengan bumi yang dibalik dan hujan batu dari tanah yang terbakar, serta kaum Syu‘aib dengan azab pada hari naungan.

Ketika Allah Ta‘ala mengutus Musa ‘alaihis salam dan membinasakan musuhnya, Fir‘aun beserta kaumnya, dengan menenggelamkan mereka di laut, kemudian menurunkan Taurat kepada Musa, Allah mensyariatkan di dalamnya perintah untuk memerangi orang-orang kafir. Ketentuan ini terus berlaku dalam syariat-syariat sesudahnya.

Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ مِنْ بَعْدِ مَا أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ الأولَى بَصَائِرَ لِلنَّاسِ

“Sungguh, Kami telah menganugerahkan Kitab (Taurat) kepada Musa setelah Kami membinasakan generasi-generasi terdahulu, sebagai bukti-bukti yang menerangi bagi manusia.” (QS. Al-Qashash: 43).

Terbunuhnya orang-orang kafir di tangan kaum mukminin merupakan penghinaan yang lebih berat bagi orang-orang kafir dan lebih melegakan hati kaum mukminin. Sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman kepada kaum mukminin dari umat ini:

قَاتِلُوهُمْ يُعَذِّبْهُمُ اللهُ بِأَيْدِيكُمْ وَيُخْزِهِمْ وَيَنْصُرُكُمْ عَلَيْهِمْ وَيَشْفِ صُدُورَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَيُذْهِبْ غَيْظَ قُلُوبِهِمْ

“Perangilah mereka! Niscaya Allah akan mengazab mereka dengan tangan kalian, menghinakan mereka, menolong kalian untuk mengalahkan mereka, dan melegakan hati orang-orang yang beriman. Dan Dia menghilangkan kemarahan dari hati mereka.” (QS. At-Taubah: 14–15)

Oleh karena itu, terbunuhnya para pemimpin Quraisy di tangan musuh-musuh mereka yang memandang mereka dengan tatapan merendahkan merupakan sesuatu yang lebih menyakitkan bagi mereka dan lebih melegakan hati golongan yang beriman.

Terbunuhnya Abu Jahl dalam pertempuran, di tengah berkecamuknya peperangan, merupakan penghinaan yang jauh lebih berat baginya daripada jika ia meninggal di atas tempat tidurnya akibat suatu bencana, sambaran petir, atau semacamnya.

Hal ini berbeda dengan Abu Lahab—semoga Allah melaknatnya—yang meninggal karena penyakit al-‘adasah (sejenis penyakit lepra atau penyakit kulit yang mematikan). Tidak seorang pun dari kerabatnya berani mendekatinya. Mereka hanya menyiramkan air kepadanya dari kejauhan, lalu melemparinya dengan batu hingga ia terkubur.

Karena itulah Allah Ta‘ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Allah Maha Perkasa.” (QS. Al-Anfal: 10)

Maksudnya, kemuliaan dan keperkasaan adalah milik Allah, Rasul-Nya, serta orang-orang yang beriman kepada keduanya, baik di dunia maupun di akhirat.

Sebagaimana firman Allah Ta‘ala:

إِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الأشْهَادُ يَوْمَ لا يَنْفَعُ الظَّالِمِينَ مَعْذِرَتُهُمْ

“Sesungguhnya Kami pasti menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya para saksi, yaitu pada hari ketika alasan orang-orang zalim tidak lagi berguna bagi mereka.” (QS. Ghafir: 51–52).

حَكِيمٌ

“Maha Bijaksana.” (QS. Al-Anfal: 10)

Maksudnya, Allah Maha Bijaksana dalam menetapkan syariat untuk memerangi orang-orang kafir, padahal Dia Mahakuasa untuk menghancurkan dan membinasakan mereka dengan daya dan kekuatan-Nya. Maha Suci Allah lagi Maha Tinggi.

< SebelumnyaSuratBerikutnya >
Al-Anfal ayat 9Al-AnfalAl-Anfal ayat 11

SILAKAN BERI TANGGAPAN

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini