Daftar Isi
Surat Al-Anfal Ayat 9 dan Artinya
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ (٩)
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfal: 9)
Surat Al-Anfal Ayat 9 Arti per Kata
| ketika | إِذْ |
| kalian memohon pertolongan | تَسْتَغِيثُونَ |
| (kepada) Tuhan kalian | رَبَّكُمْ |
| maka Dia mengabulkan | فَاسْتَجَابَ |
| untuk kalian | لَكُمْ |
| sesungguhnya Aku | أَنِّي |
| menolong kalian | مُمِدُّكُمْ |
| dengan seribu | بِأَلْفٍ |
| dari | مِنَ |
| malaikat | الْمَلَائِكَةِ |
| datang berbondong-bondong | مُرْدِفِينَ |
Baca juga: Surat Yasin
Tafsir Surat Al-Anfal Ayat 9
Berikut ini tafsir Surat Al Anfal ayat 9 dari Tafsir Al-Muyassar karya Syekh ‘Aidh Al-Qarni serta Tafsir Jalalain karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti. Lalu, Tafsir Al-Wajiz karya Syekh Wahbah Az-Zuhaili dan Tafsir Zadul Masir karya Ibnu Jauzi. Terakhir, Tafsir Ibnu Katsir.
Tafsir Al-Muyassar
Ingatlah pula ketika kalian memohon kepada Tuhan kalian dengan sungguh-sungguh agar memenangkan kalian atas musuh. Lalu Allah menolong kalian dengan bantuan seribu malaikat dari langit dalam memerangi orang-orang musyrik bersama kalian.
Para malaikat itu datang secara berbondong-bondong dalam barisan yang rapi. Ayat ini mengisyaratkan keutamaan doa dan pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’Ala kepada wali-wali-Nya.
Tafsir Jalalain
Ingatlah, ketika kamu memohon pertolongan Tuhanmuketika kamu meminta pertolongan dari-Nya untuk dapat mengalahkan orang-orang musyrik lalu diperkenankan-Nya bagimu, “Sesungguhnya Aku sungguh Aku pasti memberikan bantuan kepadamu akan menolongmu dengan mendatangkan seribu malaikat yang datang berturut-turut” yakni mereka datang secara berturut-turut, sebagian dari mereka menyusul sebagian lainnya.
Pada permulaannya Allah menjanjikan untuk mereka bantuan seribu malaikat, kemudian menjadi tiga ribu malaikat, hingga sampai lima ribu malaikat, seperti yang Allah jelaskan di dalam surah Ali Imran. Menurut suatu qiraat lafal alfun dibaca aalaf seperti aflas dalam bentuk jamak.
Tafsir Al-Wajiz
Ingatlah, sebagaimana kalian tahu bahwa memerangi kelompok tentara Quraisy itu suatu keharusan, dan ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu Dia mengabulkannya bagimu. Allah mengijabah doa dan permintaanmu bahwa akan ditolong oleh seribu malaikat yang akan memerangi orang-orang musyrik dengan berbaris-baris di depan para tentara.
Ayat ini turun ketika Nabi berdoa kepada Tuhannya dengan berkata: Ya Allah anugerahkanlah apa yang telah Engkau janjikan, berikan kepada kami apa yang Engkau janjikan. Jika Engkau membinasakan para tentara Islam ini maka bisa jadi tidak ada yang menyembah-Mu di bumi.
Tafsir Zadul Masir
Firman Allah Ta‘ala:
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu,
Sebab turunnya ayat ini adalah riwayat yang disampaikan oleh Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu. Ia berkata:
“Ketika Perang Badar berlangsung, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat para sahabatnya yang berjumlah tiga ratus sekian orang. Beliau juga melihat kaum musyrik yang berjumlah seribu lebih orang.
Kemudian beliau menghadap kiblat, membentangkan kedua tangannya, sementara selendang dan kain sarung beliau masih melekat pada tubuhnya. Lalu beliau berdoa, ‘Ya Allah, tunaikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, tunaikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok ini, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di bumi untuk selama-lamanya.’
Beliau terus memohon pertolongan kepada Tuhannya dan berdoa kepada-Nya hingga selendangnya terjatuh. Abu Bakar ash-Shiddiq kemudian mendatangi beliau, mengambil selendangnya, lalu menyelimutkannya kembali ke tubuh beliau.
Setelah itu, Abu Bakar merangkul beliau dari belakang seraya berkata, ‘Wahai Nabi Allah, cukuplah permohonanmu yang sungguh-sungguh kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia akan menunaikan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu.’
Lalu Allah Ta‘ala menurunkan ayat ini.”
Firman Allah Ta‘ala:
إِذْ
(Ingatlah), ketika
Ibnu Jarir berkata, kata idz (ketika) berkaitan dengan kata yubthil (membatalkan) yang telah disebutkan sebelumnya.
Mengenai firman-Nya,
تَسْتَغِيثُونَ
kamu memohon pertolongan
terdapat dua pendapat. Pertama, kalian memohon pertolongan untuk mengalahkan musuh.
Kedua, kalian memohon perlindungan.
Perbedaan antara keduanya adalah bahwa orang yang memohon pertolongan (mustanshir) menginginkan kemenangan, sedangkan orang yang memohon perlindungan (mustajīr) menginginkan keselamatan dari bahaya.
Mengenai siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang memohon pertolongan tersebut, terdapat dua pendapat. Pertama, yang dimaksud adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin. Pendapat ini dikemukakan oleh az-Zuhri. Kedua, yang dimaksud adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam saja. Pendapat ini dikemukakan oleh as-Suddi.
Adapun mengenai pemberian bala bantuan (imdād), pembahasannya telah disebutkan sebelumnya dalam Surah Ali Imran ayat 124.
Firman Allah Ta‘ala:
بِأَلْفٍ
dengan seribu
Adh-Dhahhak dan Abu Raja’ membaca kata tersebut dengan bentuk bi’ālāf (بِآلَافٍ), menggunakan hamzah panjang dan alif sebagai bentuk jamak.
Abu al-‘Aliyah dan Abu al-Mutawakkil membacanya bi’ulūf (بِأُلُوفٍ), dengan harakat dhammah pada hamzah dan lam, serta huruf waw setelahnya, sebagai bentuk jamak.
Ibnu Hadzlam dan al-Jahdari membacanya bi’uluf (بِأُلُفٍ), dengan harakat dhammah pada hamzah dan lam, tanpa huruf waw maupun alif.
Abu al-Jauza’ dan Abu ‘Imran membacanya bi-yalf (بِيَلْفٍ), dengan huruf ya berharakat fathah dan lam sukun, tanpa huruf waw maupun alif.
Adapun firman Allah Ta‘ala:
مُرْدِفِينَ
yang datang berturut-turut.
Ibnu Katsir, Abu ‘Amr, ‘Ashim, Ibnu ‘Amir, Hamzah, dan al-Kisa’i membaca kata tersebut murdifīn, dengan harakat kasrah pada huruf dal.
Ibnu Abbas, Qatadah, adh-Dhahhak, Ibnu Zaid, dan al-Farra’ mengatakan bahwa maknanya adalah datang secara berturut-turut.
Abu ‘Ali mengatakan bahwa kata tersebut memiliki dua kemungkinan makna.
Pertama, mereka menjadi pengikut atau menyusul pihak lain yang serupa dengan mereka. Dalam bahasa Arab, seseorang dapat mengatakan, ardhaftu Zaidan dābbatī, yang berarti, “Aku membuat Zaid menaiki tungganganku di belakangku.” Dengan demikian, objek kedua dalam ayat ini dihilangkan karena telah dipahami dari konteksnya.
Kedua, mereka datang setelah pihak yang mendahului mereka. Orang Arab mengatakan, Banū fulānin murdifūnā, yang berarti, “Bani Fulan datang setelah kami.”
Abu ‘Ubaidah berkata bahwa murdifīn berarti mereka datang kemudian, menyusul setelah yang lain.
Nafi‘ dan Abu Bakar, dari riwayat ‘Ashim, membaca kata tersebut murdafīn (مُرْدَفِينَ), dengan harakat fathah pada huruf dal.
Al-Farra’ berkata bahwa maknanya adalah: hal itu dilakukan terhadap mereka. Artinya, Allah menjadikan kaum muslimin disusul oleh bala bantuan tersebut.
Mu‘adz al-Qari’, Abu al-Mutawakkil an-Naji, dan Abu Mijlaz membacanya muraddafīn (مُرَدَّفِينَ), dengan harakat fathah pada huruf ra dan dal serta tasydid pada dal.
Abu al-Jauza’ dan Abu ‘Imran membacanya murdifīn (مُرْدِفِينَ), dengan harakat dhammah pada huruf ra dan kasrah pada huruf dal.
Az-Zajjaj berkata: Dalam bahasa Arab, dikatakan radaftu ar-rajula apabila aku menaiki tunggangan di belakang seseorang, sedangkan ardhaftuhu berarti aku menaikkan seseorang di belakangku.
Orang Arab juga mengatakan, hādzihi dābbatun lā turādifu, yang berarti, “Tunggangan ini tidak dapat dinaiki oleh dua orang secara berboncengan.” Akan tetapi, mereka tidak mengatakan lā turdifu untuk makna tersebut.
Kata ardhaftu ar-rajula juga digunakan ketika seseorang datang setelah orang lain.
Dengan demikian, makna murdifīn adalah mereka datang secara bergelombang, satu kelompok menyusul kelompok yang lain.
Secara kebahasaan, kata itu juga dapat dibaca muraddifīn, muruddifīn, dan muriddifīn. Dalam semua bentuk tersebut, huruf dal berharakat kasrah dan bertasydid, sedangkan huruf ra dapat berharakat fathah, dhammah, atau kasrah.
Sibawaih berkata: Bentuk asalnya adalah murtadifīn. Kemudian huruf ta diidghamkan ke dalam huruf dal sehingga menjadi muraddifīn. Hal itu terjadi karena harakat huruf ta dipindahkan ke huruf ra.
Jika menghendaki, harakat huruf ta tersebut tidak perlu dipindahkan; huruf ra cukup diberi harakat kasrah karena pertemuan dua huruf sukun.
Adapun para ulama yang membaca huruf ra dengan harakat dhammah, mereka menjadikannya mengikuti harakat dhammah pada huruf mim.
Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir
إِذْ تَسْتَغِيثُونَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ
(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfal: 9)
1. Doa Rasulullah Ketika Perang Badar
Imam Ahmad meriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bahwa ketika Perang Badar berlangsung, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melihat para sahabatnya yang berjumlah sekitar tiga ratus sekian orang. Sementara itu, jumlah kaum musyrik mencapai seribu lebih orang. Kaum muslimin menghadapi pasukan musuh yang jumlahnya jauh lebih besar.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian menghadap kiblat dan membentangkan kedua tangannya untuk berdoa. Ketika itu, beliau mengenakan selendang dan kain sarung. Beliau berdoa:
“Ya Allah, di manakah janji yang telah Engkau berikan kepadaku? Ya Allah, tunaikanlah apa yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, jika Engkau membinasakan kelompok kaum muslimin ini, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di bumi untuk selama-lamanya.”
Rasulullah terus memohon pertolongan kepada Allah dan berdoa dengan sungguh-sungguh hingga selendangnya terjatuh.
Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu kemudian menghampiri beliau, mengambil selendangnya, lalu menyelimutkannya kembali. Setelah itu, Abu Bakar merangkul Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari belakang seraya berkata, “Wahai Rasulullah, cukuplah permohonanmu yang sungguh-sungguh kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia akan menunaikan apa yang telah dijanjikan-Nya kepadamu.”
Peristiwa ini menggambarkan kesungguhan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dalam memohon pertolongan Allah ketika menghadapi situasi yang sangat genting. Meskipun jumlah pasukan kaum muslimin jauh lebih sedikit daripada musuh, beliau tetap menyandarkan harapan kepada Allah dan berdoa dengan penuh ketundukan.
2. Allah Mengabulkan Doa dengan Mengirimkan Seribu Malaikat
Setelah peristiwa tersebut, Allah menurunkan firman-Nya:
فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّي مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلَائِكَةِ مُرْدِفِينَ
lalu diperkenankan-Nya bagimu: “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.”
Ayat ini menegaskan bahwa Allah mengabulkan permohonan pertolongan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan kaum muslimin dengan menjanjikan bantuan berupa seribu malaikat yang datang secara berturut-turut.
Pertolongan tersebut merupakan bentuk dukungan Allah kepada kaum muslimin dalam menghadapi pasukan musyrik yang jumlahnya jauh lebih besar. Mereka tidak dibiarkan menghadapi musuh hanya dengan mengandalkan kekuatan sendiri, tetapi memperoleh pertolongan dari Allah melalui bala bantuan yang telah dijanjikan-Nya.
Ungkapan murdifīn dalam ayat ini dipahami sebagai kedatangan yang berturut-turut. Dengan demikian, ayat tersebut menggambarkan bala bantuan malaikat yang datang secara berurutan.
3. Pertolongan Allah dan Kemenangan Kaum Muslimin
Ibnu Katsir melanjutkan riwayat Umar bin al-Khaththab bahwa ketika kedua pasukan bertemu, Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin. Sebanyak tujuh puluh orang dari kalangan musyrik terbunuh dan tujuh puluh lainnya menjadi tawanan.
Kemenangan ini menunjukkan besarnya pertolongan Allah kepada kaum muslimin dalam Perang Badar. Meskipun menghadapi musuh yang jumlahnya jauh lebih besar, kaum muslimin memperoleh kemenangan dengan pertolongan Allah.
Inti pelajaran dari ayat ini adalah bahwa pertolongan Allah dapat datang ketika manusia berada dalam keadaan yang sangat sulit dan menghadapi keterbatasan yang besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan teladan dengan bersungguh-sungguh berdoa, memohon pertolongan kepada Allah, dan menggantungkan harapan kepada-Nya. Allah kemudian mengabulkan doa tersebut dengan menjanjikan bantuan seribu malaikat dan memberikan kemenangan kepada kaum muslimin.
Peristiwa ini menegaskan bahwa kekuatan material bukan satu-satunya penentu kemenangan. Pertolongan Allah merupakan karunia besar bagi hamba-hamba-Nya. Karena itu, seorang mukmin hendaknya tidak berputus asa ketika menghadapi kesulitan, melainkan tetap berikhtiar, bersabar, dan bersungguh-sungguh memohon pertolongan kepada Allah.
| < Sebelumnya | Surat | Berikutnya > |
| Al-Anfal ayat 8 | Al-Anfal | Al-Anfal ayat 10 |
