Daftar Isi
Surat Al-Anfal Ayat 2 dan Artinya
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آَيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ (٢)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (QS. Al-Anfal: 2)
Surat Al-Anfal Ayat 2 Arti per Kata
| sesungguhnya | إِنَّمَا |
| orang-orang yang beriman | الْمُؤْمِنُونَ |
| (hanya) orang-orang yang | الَّذِينَ |
| apabila | إِذَا |
| disebutkan | ذُكِرَ |
| (nama) Allah | اللَّهُ |
| bergetar | وَجِلَتْ |
| hati mereka | قُلُوبُهُمْ |
| dan apabila | وَإِذَا |
| dibacakan | تُلِيَتْ |
| kepada mereka | عَلَيْهِمْ |
| ayat-ayat-Nya | آَيَاتُهُ |
| ia menambah pada mereka | زَادَتْهُمْ |
| keimanan | إِيمَانًا |
| dan kepada | وَعَلَى |
| Tuhan mereka | رَبِّهِمْ |
| mereka bertawakal | يَتَوَكَّلُونَ |
Baca juga: Tajwid Surat Al-Baqarah Ayat 1-10
Tafsir Surat Al-Anfal Ayat 2
Berikut ini tafsir Surat Al Anfal ayat 2 dari Tafsir Al-Muyassar karya Syekh ‘Aidh Al-Qarni serta Tafsir Jalalain karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti. Lalu Tafsir Al-Wajiz karya Syekh Wahbah Az-Zuhaili. Terakhir, Tafsir Ibnu Katsir.
Tafsir Al-Muyassar
Orang yang beriman dengan sempurna adalah mereka yang hatinya takut saat nama Allah disebut, yang iman mereka bertambah saat mendengar ayat-ayat-Nya dibacakan, yang menyerahkan semua urusan mereka kepada Tuhan mereka dan hanya bertawakal kepada-Nya, bukan kepada selain-Nya.
Ayat ini mengisyaratkan keutamaan rasa takut (khauf) terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala sehingga hati mereka bergetar saat nama-Nya disebut. Ayat ini juga menjelaskan bahwa iman itu bertambah dan berkurang, dan tawakal kepada Allah termasuk amal terbesar yang membuahkan kemuliaan dan kekuatan.
Tafsir Jalalain
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu yang sempurna keimanannya adalah mereka yang apabila disebut Allah yakni ancaman-Nya gemetarlah karena takut hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah keimanan mereka kepercayaan mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal hanya kepada Rabblah mereka percaya bukan kepada selain-Nya.
Tafsir Al-Wajiz
Sesungguhnya orang-orang imannya sempurna ialah mereka yang apabila disebutkan nama Allah maka gemetarlah hati mereka atas keagungan nama-Nya. Apabila dibacakan ayat-ayat-Nya maka bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhanlah mereka menyerahkan urusannya dengan penuh keteguhan, bukan kepada lainnya.
Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir
Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang apabila nama Allah disebut, hati mereka bergetar.”
Ibnu Abbas berkata: Orang-orang munafik tidak memasukkan sedikit pun zikir kepada Allah ke dalam hati mereka ketika melaksanakan kewajiban-kewajiban-Nya. Mereka tidak beriman kepada satu pun ayat Allah, tidak bertawakal, tidak mengerjakan salat ketika tidak dilihat oleh orang lain, dan tidak menunaikan zakat atas harta mereka. Maka Allah Ta’ala memberitahukan bahwa mereka bukanlah orang-orang beriman.
Kemudian Allah menyifati orang-orang beriman dengan firman-Nya:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ
“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang apabila nama Allah disebut, hati mereka bergetar.”
Yakni, mereka melaksanakan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan-Nya.
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
“Dan apabila ayat-ayat-Nya dibacakan kepada mereka, bertambahlah iman mereka.”
Maksudnya, bertambah dalam hal pembenaran.
وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”
Maksudnya, mereka tidak berharap kepada selain-Nya.
Mujahid berkata tentang firman Allah:
وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ
“Hati mereka bergetar.”
Artinya, hati mereka merasa takut dan gentar. Demikian pula yang dikatakan oleh As-Suddi dan beberapa ulama lainnya.
Inilah sifat orang mukmin yang sesungguhnya. Ketika Allah disebut, hatinya bergetar, yakni takut kepada-Nya, lalu ia melaksanakan perintah-perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.
Sebagaimana firman Allah:
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ
“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera mengingat Allah, lalu memohon ampun atas dosa-dosa mereka. Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Mereka tidak terus-menerus dalam perbuatan yang telah mereka kerjakan, sedangkan mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)
Demikian pula firman Allah:
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
“Adapun orang yang takut akan kedudukan Tuhannya dan menahan dirinya dari hawa nafsu, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 40–41)
Menurut Sufyan Ats-Tsauri, As-Suddi menafsirkan : “Yaitu seseorang yang hendak berbuat zalim—atau hampir melakukan suatu kemaksiatan—kemudian dikatakan kepadanya, ‘Bertakwalah kepada Allah!’ Maka hatinya pun bergetar.”
Sedangkan Ummu Darda’ menjelaskan, “Rasa takut yang bergetar di dalam hati itu seperti terbakarnya pelepah kurma.”
Kemudian firman Allah:
وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Dan apabila ayat-ayat-Nya dibacakan kepada mereka, bertambahlah iman mereka, dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”
Hal ini sebagaimana firman Allah:
وَإِذَا مَا أُنزلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ
“Dan apabila diturunkan suatu surah, di antara mereka ada yang berkata, ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan turunnya surah ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surah itu menambah iman mereka, dan mereka merasa gembira.” (QS. At-Taubah: 124)
Imam Bukhari dan para imam lainnya menggunakan ayat ini dan ayat-ayat yang semisal dengannya sebagai dalil bahwa iman dapat bertambah dan memiliki tingkatan yang berbeda-beda di dalam hati, sebagaimana pendapat mayoritas umat Islam. Bahkan sejumlah imam, seperti Asy-Syafi’i, Ahmad bin Hanbal, dan Abu Ubaid, telah menukil adanya ijmak mengenai hal tersebut. Kami telah menjelaskan masalah ini secara panjang lebar pada bagian awal Syarah Shahih Al-Bukhari. Segala puji dan karunia hanya milik Allah.
Kemudian firman Allah:
وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal.”
Maksudnya, mereka tidak berharap kepada selain-Nya, tidak mengarahkan tujuan kecuali kepada-Nya, tidak berlindung kecuali kepada-Nya, tidak meminta kebutuhan kecuali kepada-Nya, dan tidak menggantungkan harapan kecuali kepada-Nya.
Mereka mengetahui bahwa apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan terjadi. Mereka juga mengetahui bahwa Dialah satu-satunya yang mengatur dan menguasai kerajaan ini, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan tidak ada yang dapat menolak atau mengubah ketetapan-Nya. Dia Mahacepat dalam perhitungan.
Karena itu, Sa’id bin Jubair berkata: “Tawakal kepada Allah adalah keseluruhan iman.”
| < Sebelumnya | Surat | Berikutnya > |
| Al-Anfal ayat 1 | Al-Anfal | Al-Anfal ayat 3 |
