Beranda Quran 007 Al-A'raf Surat Al-A’raf Ayat 10: Arti per Kata dan Tafsir

Surat Al-A’raf Ayat 10: Arti per Kata dan Tafsir

0
surat al-a'raf ayat 10

Surat Al-A’raf Ayat 10 dan Artinya

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ (۱٠)

Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (QS. Al-A’raf: 10)

< Al-A’raf ayat 9Al-A’raf ayat 11 >

Surat Al-A’raf Ayat 10 Arti per Kata

dan sungguhوَلَقَدْ
Kami telah menempatkan kalianمَكَّنَّاكُمْ
diفِي
bumiالْأَرْضِ
dan Kami telah menjadikanوَجَعَلْنَا
untuk kalianلَكُمْ
di dalamnyaفِيهَا
sarana hidupمَعَايِشَ
sedikit sekaliقَلِيلًا مَا
kalian bersyukurتَشْكُرُونَ

Baca juga: Tajwid Surat Al-Baqarah Ayat 143

Tafsir Surat Al-A’raf Ayat 10

Berikut ini tafsir Surat Al-A’raf ayat 10 dari Tafsir Al-Muyassar karya Syekh ‘Aidh Al-Qarni serta Tafsir Jalalain karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti. Lalu Tafsir Al-Wajiz karya Syekh Wahbah Az-Zuhaili. Terakhir, Tafsir Ibnu Katsir.

Tafsir Al-Muyassar

Wahai manusia, kami telah ratakan permukaan bumi bagi kalian seolah permadani. Kami sediakan padanya makanan yang mudah, minuman yang gampang, kapal yang nyaman, pemandangan indah, kesehatan badan, rasa betah di tanah air, keamanan, dan tempat tinggal bagi kalian. Akan tetapi, rasa bersyukur kalian sangat sedikit dan kebanyakan di antara kalian justru mengingkari nikmat yang agung itu.

Tafsir Jalalain

Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian hai anak-anak Adam di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi itu sumber-sumber penghidupan dengan memakai huruf ya, yakni sarana-sarana untuk kamu bisa hidup. Ma`ayisy jamak dari kata ma’isyah amat sedikitlah untuk mengukuhkan keminiman kamu bersyukur terhadap kesemuanya itu.

Tafsir Al-Wajiz

Wahai anak Adam, sungguh Kami telah menciptakan bagi kalian tempat tinggal di bumi. Dan Kami sediakan bagi kalian di dalamnya berbagai sebab-sebab kehidupan berupa tempat tinggal, makanan, minuman dan pakaian. Akan tetapi, kalian sangat kurang mensyukuri nikmat tersebut.

Tafsir Ibnu Katsir

وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ

Sesungguhnya Kami telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan Kami adakan bagimu di muka bumi (sumber) penghidupan. Amat sedikitlah kamu bersyukur. (QS. Al-A’raf: 10)

Allah Ta‘ala berfirman seraya mengingatkan hamba-hamba-Nya tentang berbagai nikmat yang telah diberikan kepada mereka, berupa kemampuan dan kesempatan yang Dia berikan kepada mereka untuk hidup di bumi. Dia menjadikan bumi sebagai tempat tinggal yang kokoh, menjadikan gunung-gunung sebagai pasaknya, serta mengalirkan sungai-sungai di dalamnya. Dia juga menyediakan bagi mereka tempat tinggal dan rumah-rumah, membolehkan mereka mengambil berbagai manfaat yang terdapat di bumi, serta menundukkan awan bagi mereka untuk mengeluarkan rezeki dari bumi.

Dia juga menjadikan bagi mereka ma‘āyisy (berbagai sumber penghidupan), yakni berbagai pekerjaan, usaha, dan sarana untuk memperoleh penghasilan yang mereka gunakan untuk berdagang dan menjalankan berbagai macam usaha.

Namun, meskipun memperoleh begitu banyak nikmat tersebut, kebanyakan manusia hanya sedikit yang bersyukur. Sebagaimana Allah Ta‘ala berfirman:

وَآَتَاكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ

“Dan jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat).” (QS. Ibrahim: 34)

Semua ulama qiraah membaca kata مَعَايِشَ (ma‘āyisya) tanpa hamzah, kecuali ‘Abdurrahman bin Hurmuz Al-A‘raj, yang membacanya dengan hamzah.

Pendapat yang benar—sebagaimana yang dipegang oleh mayoritas ulama—adalah membacanya tanpa hamzah. Sebab, مَعَايِش (ma‘āyis) adalah bentuk jamak dari مَعِيشَة (ma‘īsyah), yang berasal dari kata عَاشَ – يَعِيشُ – عَيْشًا (hidup).

Bentuk asal kata مَعِيشَة sebenarnya adalah مَعْيِشَة. Karena kasrah pada huruf ي terasa berat untuk diucapkan, harakat kasrah tersebut dipindahkan kepada huruf ع, sehingga menjadi مَعِيشَة.

Ketika kata tersebut dijamakkan, harakatnya dikembalikan kepada huruf ي, karena tidak lagi terdapat kesulitan dalam pengucapan. Maka terbentuklah kata مَعَايِش (ma‘āyis).

Wazan (pola) katanya adalah مَفَاعِل (mafā‘il), karena huruf ي merupakan huruf asli dalam kata tersebut.

Hal ini berbeda dengan kata مَدَائِن (madā’in), صَحَائِف (ṣaḥā’if), dan بَصَائِر (baṣā’ir), yang merupakan bentuk jamak dari مَدِينَة (madīnah), صَحِيفَة (ṣaḥīfah), dan بَصِيرَة (baṣīrah), yang berasal dari kata مَدَنَ, صَحَفَ, dan أَبْصَرَ.

Pada kata-kata tersebut, huruf ي merupakan huruf tambahan, bukan huruf asli. Oleh karena itu, bentuk jamaknya mengikuti pola فَعَائِل (fa‘ā’il) dan huruf ي berubah menjadi hamzah. Wallāhu a‘lam.

< SebelumnyaSuratBerikutnya >
Al-A’raf ayat 9Al-A’rafAl-A’raf ayat 11

SILAKAN BERI TANGGAPAN

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini