Home Keluarga Muslimah Menanggapi Pertanyaan, “Manakah yang Lebih Baik, Berjilbab namun Berakhlak Buruk dengan Tidak...

Menanggapi Pertanyaan, “Manakah yang Lebih Baik, Berjilbab namun Berakhlak Buruk dengan Tidak Berjilbab namun Berakhlak Baik?”

27002
8
haaretz

Mungkin sering kita mendengar sebagian dari saudari muslimah berpendapat dengan mengatakan, “Bukankah lebih baik saya memperbaiki diri dulu baru nanti berjilbab, daripada sudah berjilbab tapi kelakuannya masih buruk?”

Untuk menanggapi pendapat dan pertanyaan-pertanyan semacam ini kita harus memahami terlebih dulu tentang apa yang telah Allah ta’ala syariatkan kepada seorang muslimah terkait jilbab. Allah ta’ala telah dengan tegas memerintahkan muslimah untuk mengenakan jilbab. Dalam Kitab-Nya Allah berfirman:

“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)

“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.’” (Qs. An-Nuur: 31)

Dari kedua ayat ini telah jelas bahwa perintah berjilbab bagi seorang muslimah adalah wajib. Semua ulama’ sepakat tentang wajibnya tubuh seorang muslimah untuk ditutup dan tidak ditampakkan kecuali kepada yang berhak melihatnya. Maka dengan dalil ini bisa dikatakan bahwa menutup aurat dengan berjilbab bagi seorang muslimah bukanlah menjadi suatu hal yang baik lagi bagi dirinya, melainkan menjadi sebuah kewajiban yang tentu di dalamnya akan terdapat banyak kebaikan dan maslahat bagi dirinya.

“Lebih baik mana, muslimah yang berjilbab tapi bekelakuan buruk, atau muslimah biasa tak berjilbab tapi kelakuannya baik?”

Kembali pertanyaan ini saya ulangi agar lebih jelas memaknainya. Poin kedua yang disinggung dalam pertanyaan tersebut adalah soal perilaku atau dalam kata lain adalah tentang akhlak. Maka sama dengan persoalan jilbab tersebut, kedudukan akhlak ini harus ditimbang secara adil melalui dalil. Rasullullah shollallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Ahmad)

“Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. At-Tirmidzi)

Dari kedua hadits yang shahih ini telah cukup memberikan pengertian kepada kita bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan dan menganjurkan akhlaqul karimah (akhlak yang mulia) kepada para pemeluknya. Maka setiap muslim maupun muslimah wajib berbuat baik kepada siapa saja sebagai konsekuensi berislamnya dia dengan ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Maka sesungguhnya mengajukan pertanyaan, “Manakah yang lebih baik, muslimah yang berjilbab tapi bekelakuan buruk, atau muslimah biasa tak berjilbab tapi kelakuannya baik?” adalah tidak apple to apple. Pertanyaan ini tidak bisa begitu saja dibandingkan karena pertanyaan ini saling membenturkan antara yang haq dan yang bathil. Berjilbab dan berakhlak baik adalah perintah Allah. Sedangkan meninggalkan jilbab dan berakhlak buruk adalah tidak disukai Allah. Semestinya semua hal ini harus dilakukan dan diamalkan bersamaan. Muslimah itu harus berjilbab dan berakhlak baik serta harus berusaha sekuat mungkin untuk tidak berperilaku tercela.

Melalui sebuah ilustrasi ringan, coba Anda bayangkan. Anda adalah seorang desainer ruangan profesional dan sedang membutuhkan hiasan bunga segar yang indah warnanya dan harum baunya untuk mempercantik ruangan. Lalu seseorang menawarkan dua bunga pada Anda, yang pertama bunga itu berwarna indah dan cantik namun sayang sekali baunya busuk. Bunga yang kedua harumnya semerbak, namun sayang sekali bunga itu sudah layu, tak mempesona sama sekali. Lalu, apakah sebagai seorang ahli yang professional akan memilih salah satu dari bunga tersebut? Tentu Anda tak membutuhkan keduanya.

Jadi, agama Islam ini mengajarkan untuk menjadi sebuah bunga yang indah mempesona dengan aroma harumnya yang semerbak. Islam ini membutuhkan muslimah yang rapi dengan jilbabnya dan mulia dengan akhlaknya. Duhai muslimah, janganlah setengah-setengah dalam mengamalkan Islam. Percayalah semua perintah dari-Nya adalah baik untukmu.

“Tapi lihat itu dia berjilbab namun masih juga suka mencela!”

“Yang sudah berjilbab saja masih bisa mencela, apalagi yang tidak berjilbab?

Salam hangat. Semoga bermanfaat. (pm)

SHARE

8 KOMENTAR

  1. Bagaimana kalau perempuan itu sudah tau bahwa memakai jilbab itu wajib tapi dia malah tidak memakai jilbab

  2. Analogi seperti yang dikemukakan tidak bisa dibenarkan. knp? ini bukan dua hal yang saling terpisah melainkan ada sebab akibat.. istilah matematikanya bukan “berjilbab dan berbuat baik” tapi “jika berjilbab maka berbuat baik”.

    Jadi utk pertanyaan lebih baik mana berjilbab akhlaknya buruk dengan tidak berjilbab akhlaknya baik.

    berjilbab akhlaknya buruk bukan lagi merupakan sebab akibat tetapi 2 hal yang terpisah dan berbeda … karena saya orang matematika tak analogikan mana yg lebih besar 18 atau 81?

    utk kesimpulannya saya sependapat. Semoga menjadi berkah

    salam.

  3. Sblum trlanjur memutuskan ada baiknya kita lurus kan dulu apa definisi “Hijab”, “jalabeeb” (jamak jilbab) dalam Quran. Lalu kita harus bertanya knapa Allah tdk pernah memerintahkan wanita utk menutup rambut atau kepala, knapa Allah tdk pernah berfirman bhw kepala atau rambut adalah aurat? Yg ada adalah perintah utk menutup dada Dan memakai jalabeeb si tubuh bukan kepala atau rambut. Begini lah sehari smua seorang Muslim bersikap kritis.

    • “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59)

      Di ayat tersebut disebutkan menjulurkan jilbab ke “seluruh tubuh” mereka, bisa diartikan dengan jelas bahwa rambut juga termasuk bagian tubuh manusia. Wassalam

  4. Waaah mak uncu siih modelnya mengada2 dg tafsiran diri sendiri. Tdk pernah mau memahami isi dan makna secara mendalam. Otak-atik kata2 doang tp kosong. Bahasa Al-Quran terlalu dangkal ditafsirkan oleh anda. Padahal grammer dan sastra nya sangat tak tertandingi oleh bahasa apapun dialam semesta ini.

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here