Surat Al-Hadid ayat 20 adalah ayat menjelaskan tentang hakikat kehidupan dunia. Sedangkan akhirat adalah negeri abadi tempat menuai apa segala perbuatan di dunia.
Surat Al Hadid (الحديد) termasuk madaniyah. Nama surat ini al-hadid yang berarti besi karena Allah memberikan karunia kepada para hamba-Nya dengan menurunkan besi kepada mereka. Menurut Syaikh Adil Muhammad Khalil, tema utama surat yang terdiri dari 29 ayat ini adalah berinfak di jalan Allah merupakan salah satu obat mujarab kerasnya hati.
Ayat 20 ini juga madaniyah. Memberikan isyarat bahwa segala yang kita perbuat di dunia ini akan membawa konsekuensi yang akan kita tuai di akhirat nanti.
Daftar Isi
Surat Al-Hadid Ayat 20 dan Artinya
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
(I’lamuu annamal hayaatud dunyaa la’ibuw wa lahwuw waziinatuw watafaakhurum bainakum wa takaatrurung fil amwaali wal aulaad. Kamatsali ghoitsin a’jabal kuffaaro nabaatuhuu tsumma yahiiju fataroohu mushfarrong tsumma yakuunu huthoomaa. Wafil aakhiroti ‘adzaabung syadiiduw wamaghfirotum minalloohi waridlwaan. Wamalhayaatud dunyaa illaa mataa’ul ghuruur)
Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan. (Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur. Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya. Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya. (QS. Al-Hadid: 20)
Baca juga: Surat Yasin
Tafsir Al-Hadid Ayat 20
Tafsir Surat Al-Hadid ayat 20 ini kami sarikan dari Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Fi Zhilalil Quran, Tafsir Al Azhar, Tafsir Al Munir, dan Tafsir Al Misbah. Harapannya, agar bisa terhimpun banyak faedah yang kaya khazanah tetapi ringkas.
1. Hakikat Dunia
Surat Al-Hadid ayat 20 menjelaskan tentang hakikat kehidupan dunia menurut kebanyakan manusia.
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ
Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelengahan, perhiasan, dan saling bermegah-megahan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam banyaknya harta dan anak keturunan.
Pada ayat ini, Allah menjelaskan hakikat kehidupan dunia yang sering membuat manusia terlena. Sebagian besar aktivitas manusia berkisar pada permainan, hiburan, perhiasan, kebanggaan sosial, serta perlombaan mengumpulkan harta dan keturunan.
Kata la’ibun (لَعِبٌ) menurut Ibnu Katsir adalah bagian dari hakikat dunia yang menyibukkan manusia dan melalaikannya dari akhirat. Menurut Ath-Thabari, aktivitas yang menjadi sarana manusia bersenang-senang di dunia. Menurut Buya Hamka dalam Tafsir Al-Azhar dan Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir, la’ibun adalah perbuatan anak-anak yang melelahkan tetapi tidak menghasilkan manfaat yang berarti.
Sayyid Qutb dalam Tafsir fi Zhilalil Qur’an menyimpulkan, dunia pada hakikatnya hanyalah permainan jika dibandingkan dengan keseriusan akhirat.
Kata lahwun (لَهْوٌ) menurut Ibnu Katsir adalah hiburan yang menjadi kesibukan manusia di dunia. Menurut Buya Hamka dan Syekh Wahbah Az-Zuhaili, lahwun merupakan perbuatan anak-anak muda; setelah selesai sering hanya meninggalkan penyesalan, kelelahan, dan keinginan mengulanginya kembali. Sedangkan menurut Sayyid Qutb, hiburan yang mengisi kehidupan dunia namun tidak memiliki bobot dibanding akhirat.
Kata ziinatun (زِينَةٌ) menurut Ibnu Katsir adalah daya tarik dan keindahan dunia yang memikat manusia. Menurut Ath-Thabari, perhiasan yang manusia gunakan untuk berhias dan memperindah diri. Menurut Buya Hamka, usaha memperindah sesuatu yang sebenarnya sedang menuju kerusakan; mempercantik yang tidak lagi sempurna. Karenanya menurut Syekh Wahbah Az-Zuhaili, ziinatun ini adalah tipikal perempuan yang bertujuan menutupi kekurangan.
Kehidupan dunia juga tafakhur (تَفَاخُرٌ) alias saling berbangga. Menurut Ibnu Katsir, saling membanggakan kedudukan, prestasi, dan kelebihan duniawi. Menurut Ath-Thabari, sebagian manusia membanggakan kemewahan dan kelebihannya di hadapan yang lain. Sedangkan menurut Syekh Wahbah Az-Zuhaili, ini adalah kebiasaan orang yang mulai tua; membanggakan jasa, gelar, karier, pangkat, kehormatan, dan pencapaian masa lalu.
Yang terakhir, takatsur (تَكَاثُرٌ) yaitu berlomba memperbanyak harta dan anak-anak. Sebagaimana Surat At-Takatsur. Menurut Syekh Wahbah Az-Zuhaili, mengumpulkan harta tanpa memedulikan ridha Allah, lalu membanggakannya di hadapan orang lain.
Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam tafsirnya, ayat ini menjelaskan hakikat dunia menurut kebanyakan manusia: permainan, hiburan, perhiasan, kebanggaan, dan persaingan dalam mengumpulkan kekayaan serta keturunan. Hal-hal inilah yang biasanya menjadi fokus utama manusia jika tidak diarahkan oleh iman.
Sedangkan Imam Jalaludin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuti dalam Tafsir Jalalain menjelaskan, kehidupan dunia hanyalah permainan, hiburan, perhiasan, saling membanggakan diri, dan sibuk mengejar harta serta anak-anak.
“Adapun amal-amal ketaatan dan segala sesuatu yang membantu terlaksananya ketaatan, maka itu termasuk urusan akhirat,” demikian Tafsir Jalalain.
2. Kefanaan Dunia
Poin kedua dari Surat Al-Hadid ayat 20 ini membuat perumpamaan kehidupan dunia yang fana.
كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا
(Perumpamaannya adalah) seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani, lalu mengering dan kamu lihat menguning, kemudian hancur.
“Allah membuat perumpamaan tentang kehidupan dunia yang cepat lenyap dan kenikmatannya yang tidak kekal,” kata Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Dunia ini laksana tanaman yang setelah mendapat hujan kemudian menghijau subur tetapi setelah ini menguning, mengering, lalu mati.
“Demikian pula kehidupan dunia. Pada awalnya tampak muda, kuat, dan menarik. Kemudian memasuki masa dewasa, lalu menjadi tua renta dan lemah. Begitu juga manusia. Pada masa mudanya ia segar, kuat, lentur, dan elok dipandang. Setelah itu ia memasuki usia pertengahan, sebagian kekuatannya mulai berkurang, lalu menjadi tua, lemah tenaga, sedikit gerakannya, bahkan perkara kecil pun sering membuatnya tidak mampu,” terang Ibnu Katsir sembari menghubungkan ayat tersebut dengan firman-Nya:
اللَّهُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ ضَعْفٍ ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ ضَعْفٍ قُوَّةً ثُمَّ جَعَلَ مِنْ بَعْدِ قُوَّةٍ ضَعْفًا وَشَيْبَةً
Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan setelah kelemahan itu kekuatan, lalu setelah kekuatan itu Dia menjadikan kelemahan dan uban. (QS. Ar-Rum: 54)
Mengapa petani disebut kuffar (الكفار) pada ayat ini? Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menjelaskan, al-kuffar adalah jamak dari kafir (كافر). Terambil dari kata kafara (كفر) yang artinya menutup. Kafir dalam istilah keagamaan adalah yang menutupi atau mengingkari kebenaran yang disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya. Petani disebut kuffar karena mereka menutupi biji dengan tanah.
“Kata al-kuffar pada ayat ini berarti para petani. Dalam bahasa Arab, kafir secara asal bahasa berarti orang yang menutupi, yaitu petani yang menutupi benih dengan tanah. Namun pemilihan kata ini mengandung isyarat yang halus sekaligus menarik perhatian kepada kekaguman orang-orang kafir terhadap kehidupan dunia,” tulis Sayyid Qutb dalam Tafsir fi Zhilalil Qur’an.
3. Balasan Akhirat
Poin ketiga dari Surat Al-Hadid ayat 20 menjelaskan konsekuensi di akhiarat.
وَفِي الْآَخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ
Di akhirat ada azab yang keras serta ampunan dari Allah dan keridaan-Nya.
“Artinya, di akhirat hanya ada dua kemungkinan: azab yang berat atau ampunan dan keridaan Allah,” tulis Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya.
Sayyid Qutb menjelaskan, akhirat tidak berakhir secepat kehidupan dunia. Ia juga tidak berakhir menjadi hancuran seperti tanaman yang telah mencapai ajalnya.
“Akhirat adalah perhitungan dan pembalasan. Akhirat adalah keabadian. Karena itu, ia lebih layak mendapat perhatian manusia,” tulisnya dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an.
Syekh Wahbah Az-Zuhaili juga menjelaskan hal serupa. Dalam kehidupan akhirat yang akan datang hanya ada dua hal, adakalanya adzab yang keras bagi para musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan adakalanya maghfirah dan keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala bagi para kekasih-Nya dan orang- orang yang taat kepada-Nya.
4. Tipuan Dunia
Pengujung Surat Al-Hadid ayat 20 merangkum hakikat kehidupan dunia.
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Kehidupan dunia (bagi orang-orang yang lengah) hanyalah kesenangan yang memperdaya.
“Maksudnya, dunia adalah kesenangan yang fana dan menipu orang yang terlalu bergantung kepadanya. Dunia membuat manusia terpedaya dan terpesona hingga seolah-olah tidak ada negeri selainnya dan tidak ada kehidupan setelahnya. Padahal dibandingkan dengan akhirat, dunia sangat kecil dan hina nilainya,” terang Ibnu Katsir. Lalu beliau mengutip sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:
مَوْضِعُ سَوْطٍ فِى الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
Sebuah tempat cemeti (tempat terendah dan paling kecil) di surga adalah lebih baik dari dunia seisinya. (HR. Bukhari)
Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir juga menjelaskan penafsiran serupa. Bahwa ehidupan dunia tidak lain hanyalah semata-mata kesenangan dan tipuan belaka bagi orang yang tepedaya dan terbuai oleh dunia serta tidak beramal untuk akhiratnya. Padahal dunia adalah sangat remeh, kecil, dan sedikit dibandingkan dengan negeri akhirat.
Baca juga: Surat Al-Waqiah
Kesimpulan
Surat Al-Hadid ayat 20 menjelaskan bahwa dunia bukan tujuan akhir. Dunia dipenuhi permainan, hiburan, perhiasan, kebanggaan, dan perlombaan materi. Dunia indah tetapi sementara. Keindahannya seperti tanaman yang tumbuh lalu mengering dan hancur.
Pada akhirnya manusia terbagi menjadi dua golongan: penghuni neraka yang mendapat azab dan penghuni surga yang menerima ampunan Allah dan ridha-Nya. Sungguh dunia itu kesenangan yang menipu, kecuali orang-orang yang mendapatkan hidayah dan taufiq dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]
