Beranda Kisah-Sejarah Biografi Hasan Al Banna: Imam Mujaddid yang Gugur Syahid

Hasan Al Banna: Imam Mujaddid yang Gugur Syahid

0
hasan al-banna
ilustrasi

Di bawah langit Mesir yang sarat akan pergolakan politik pada awal abad XX, lahirlah seorang anak yang kelak mengubah lanskap pergerakan Islam dunia. Nama lengkapnya adalah Hasan Ahmad Abdurrahman Al-Banna. Sejarah kemudian mencatatnya dengan tinta emas, menyematkan sebuah julukan yang agung bagi Hasan Al Banna: Sang Pembaharu Islam Abad ke-20.

Hasan Al-Banna tumbuh dalam asuhan seorang ayah yang bukan sembarang orang. Ayahnya bernama Syaikh Ahmad Abdurrahman As-Sa’ati. Seorang ulama dalam bidang hadits yang mendedikasikan hidupnya untuk meneliti sabda-sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Salah satu karya monumental sang ayah yang mendapat apresiasi dunia Islam adalah kitab Al Fath Ar Robani fi Tartib Musnad Al Imam Ahmad. Sebuah karya besar yang menyusun kembali Musnad Imam Ahmad agar lebih mudah dipelajari oleh umat. Dari bilik rumah yang penuh dengan lembaran-lembaran kitab suci dan hadits inilah, Hasan kecil menghirup aroma keilmuan untuk pertama kalinya.

Pendidikan formalnya bermula di sekolah Ar-Rasyad Ad-Diniyah, sebuah tempat yang meletakkan fondasi dasar keagamaan yang kokoh dalam jiwanya. Setamat dari sana, ia melanjutkan pendidikan menengah pertamanya di Mahmudiyah. Di sekolah inilah, benih-benih kepemimpinan dan kepekaan sosial Hasan Al-Banna mulai nampak ke permukaan.

Meskipun usianya tergolong masih sangat muda, ia tidak memilih untuk menjadi remaja yang pasif. Jiwa pergerakannya bergejolak melihat realitas moral di sekitarnya yang mulai terkikis oleh arus modernisasi Barat.

Bersama teman-teman sebayanya, Hasan Al-Banna mendirikan sebuah organisasi bernama Jam’iyah Al-Akhlaq Al-Adabiyah (Perkumpulan Akhlak Mulia). Juga organisasi Man’u Al-Muharramat (Pencegahan Hal-hal Haram). Gerakan moral ini menjadi bukti awal bahwa kepeduliannya terhadap umat telah melampaui usianya.

Keberaniannya pun mulai terasah; ia sering menulis surat-surat kepada tokoh-tokoh berpengaruh di kotanya. Surat-surat tersebut sengaja tidak ia bubuhi nama atau identitasnya, demi menjaga keikhlasan. Di dalam surat-surat misterius itu, teruntai nasihat-nasihat tulus dan penuh hikmah agar para pemimpin tetap menjaga moralitas masyarakat.

Kedalaman Ruhiyah, Kejeniusan Intelektual

Seiring bertambahnya usia, dahaga Hasan Al-Banna akan ilmu pengetahuan dan spiritualitas semakin tidak terbendung. Ia menjadi pengunjung setia perpustakaan As-Salafiyah, sebuah tempat yang menyimpan ribuan khazanah pemikiran Islam klasik.

Di samping itu, ia juga kerap mendatangi tempat-tempat berkumpulnya para ulama Al-Azhar. Menyerap diskusi-diskusi tingkat tinggi dari para guru besar, dan memperhatikan bagaimana cara mereka memandang sebuah persoalan umat. Namun, Hasan Al-Banna bukanlah seorang zahid yang hanya mengurung diri di dalam menara gading perpustakaan atau sudut masjid.

Aktivitas dakwahnya justru menyasar langsung ke jantung masyarakat. Saat masih muda, ia bersama rekan-rekannya sering mengunjungi tempat-tempat hiburan malam, gedung-gedung pertemuan umum, dan klub-klub malam.

Pilihan tempat ini tentu tidak lazim bagi seorang santri. Namun, bagi Hasan Al-Banna, tempat-tempat penuh maksiat dan kelalaian itulah yang paling membutuhkan sentuhan hidayah. Di tengah hiruk-pikuk hiburan duniawi, ia dengan santun dan bijaksana mengajak orang-orang yang ia temui untuk kembali kepada jalan Islam yang benar. Mengingatkan mereka akan hakikat kehidupan yang fana.

Kekuatan dakwah Hasan Al-Banna bertumpu pada kedalaman ruhiyahnya yang luar biasa. Ia adalah seorang hafiz yang telah menghafal seluruh isi Al-Qur’an sejak usia muda. Malam-malamnya ia hidupkan dengan keheningan sholat tahajud. Sementara siang harinya kerap berhias Puasa Senin Kamis dan puasa sunnah lainnya.

Guna memperhalus budi pekertinya, ia mendalami Tarekat Al-Hashafiyah. Ajaran tarekat ini memberikan pengaruh yang sangat mendalam terhadap pembentukan karakter pribadinya. Sifat kebersihan hati, kejujuran nurani, dan zuhud—tidak terikat pada kemewahan duniawi—menjadi ciri khas yang mendominasi seluruh perilaku sehari-harinya.

Keseimbangan antara kecerdasan spiritual dan intelektual ini membawanya meraih prestasi akademis yang gemilang. Ketika lulus dari sekolah menengah atas, ia berhasil menduduki peringkat kelima di tingkat nasional negara Mesir. Prestasi ini membuka jalan baginya untuk melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.

Pada tahun 1923, Hasan Al-Banna memantapkan langkahnya untuk melanjutkan kuliah ke Universitas Dar Al-Ulum di Kairo. Di kampus bergengsi tersebut, kecemerlangannya semakin tidak tertandingi. Hingga akhirnya ia lulus pada tahun 1927 dengan menyabet predikat sebagai lulusan terbaik berperingkat pertama.

Pesona Sastra dan Prediksi Masa Depan

Selain menguasai ilmu agama dan sains, Hasan Al-Banna memiliki kecintaan yang sangat mendalam terhadap dunia sastra. Khususnya syair atau puisi Arab. Baginya, syair bukan sekadar susunan kata yang indah, melainkan sebuah media yang efektif untuk menggerakkan jiwa manusia.

Ada sebuah kisah menarik yang melenggenda saat ia menempuh ujian akhir di kampusnya. Saat itu, salah seorang dosen penguji bertanya kepadanya mengenai seberapa banyak syair Arab yang telah ia hafal selama masa studinya.

Mendengar pertanyaan tersebut, Hasan Al-Banna tidak langsung menyebutkan sebuah angka. Dengan tenang, ia berjalan ke arah tasnya dan mengeluarkan tumpukan buku catatan, lalu menunjukkannya kepada sang dosen.

Di dalam buku-buku catatan tersebut, ternyata telah tertulis rapi sekitar 10.000 bait syair Arab yang semuanya telah melekat kuat di dalam ingatannya. Pemandangan ini tentu saja membuat sang dosen terperangah. Pasalnya, standar tuntutan ujian untuk kelulusan mahasiswa saat itu sebenarnya hanyalah menghafal 100 bait syair saja. Namun, Hasan Al-Banna menyuguhkan sesuatu yang seratus kali lipat lebih banyak.

Untuk menguji keaslian hafalan tersebut, para dosen penguji mulai melontarkan pertanyaan secara acak dari ribuan bait itu. Hasan Al-Banna menjawab setiap pertanyaan dengan sangat lancar tanpa ada keraguan sedikit pun.

Hingga akhirnya, sang ketua panitia ujian mengajukan sebuah pertanyaan filosofis mengenai bait syair mana yang menurut pandangan pribadinya paling bagus dan paling ia kagumi. Tanpa membuang waktu, Hasan Al-Banna menjawab pertanyaan itu dengan melantunkan sebuah syair yang merefleksikan jati diri dan semangat mudanya:

“Ketika orang-orang bertanya tentang seorang pemuda yang hidup di masa lalu, maka saya selalu memikirkannya dan tidak bermalas-malasan lagi berpangku tangan.”

Ruangan ujian seketika menjadi hening oleh pesona jawaban tersebut. Ketua panitia ujian yang terkesima kemudian memanggilnya, “Wahai anakku, mendekatlah ke sini. Pertanyaan ini setiap tahun khusus kami ajukan kepada murid-murid yang sangat cerdas. Selama ini belum pernah ada seorang murid yang mampu menjawab seperti jawabanmu ini, kecuali Syaikh Muhammad Abduh.”

Penguji senior itu meyakini dengan seyogianya bahwa pemuda di hadapannya ini akan memperoleh masa depan yang besar dan menjadi tokoh historis yang mengubah wajah dunia Islam.

Lahirnya Ikhwanul Muslimin

Setelah menyelesaikan pendidikannya di Dar Al-Ulum dengan hasil yang sangat memuaskan, Hasan Al-Banna mengawali karirnya sebagai seorang guru. Tugas mengajar ini mengharuskannya berpindah dari satu tempat ke tempat lain demi menyebarkan ilmu dan dakwah.

Hingga akhirnya, takdir membawanya untuk menetap di sebuah kota pelabuhan yang strategis namun penuh dengan pengaruh kolonialisme Inggris, yaitu Isma’iliyyah. Di kota inilah, pergulatan pemikiran Hasan Al-Banna mencapai puncaknya melihat ketimpangan sosial dan marginalisasi nilai-nilai Islam oleh para penjajah.

Pada bulan Maret tahun 1938, sebuah momentum bersejarah tercipta. Bertempat di rumah kediamannya, Hasan Al-Banna bersama enam orang sahabat dekatnya yang memiliki visi searah berkumpul. Di sanalah mereka berikrar dan mendirikan sebuah organisasi pergerakan yang bernama Ikhwanul Muslimin (Persaudaraan Muslim).

Tujuan utama dari pendirian organisasi ini adalah untuk memberikan pemahaman Islam yang komprehensif dan benar kepada masyarakat, yang kala itu mulai tereduksi hanya sebatas ritual peribadatan semata di dalam masjid.

Bagi Hasan Al-Banna, Islam bukanlah agama yang sempit. Ia merumuskan sebuah manifesto pemikiran yang sangat visioner tentang hakikat Islam. Menurut pandangannya, Islam adalah sebuah sistem menyeluruh yang mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Islam adalah aqidah dan ibadah, negara dan tanah air, pemerintah dan umat, akhlak dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, jihad dan dakwah, tentara dan fikrah.

Untuk mengejawantahkan visi besar tersebut ke dalam realitas konkret di Isma’iliyah, Hasan Al-Banna bergerak cepat membangun infrastruktur peradaban. Ia mendirikan sebuah masjid sebagai pusat spiritual, kantor organisasi Ikhwanul Muslimin sebagai pusat pergerakan, dan sekolah Hara yang khusus untuk mempelajari Islam secara mendalam.

Tidak hanya berfokus pada kaum laki-laki, ia juga menunjukkan kepedulian yang tinggi terhadap pendidikan kaum perempuan dengan mendirikan sekolah yang ia namakan Ummahatul Mukminin. Tujuan dari pendirian sekolah wanita ini adalah untuk mendidik putra-putri Islam dengan sistem pendidikan Islam yang benar sejak dini, karena ia sadar bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya.

Ekspansi Dakwah Hasan Al-Banna

Keberhasilan dakwah di Isma’iliyah membuat nama Ikhwanul Muslimin berkembang dengan sangat pesat. Anggotanya menjamur dari berbagai kalangan, mulai dari buruh, petani, hingga kalangan intelektual.

Guna memperluas jangkauan gerakannya secara nasional dan internasional, Hasan Al-Banna kemudian mengambil keputusan strategis untuk memindahkan pusat pergerakannya ke ibu kota Mesir, Kairo. Di kota metropolitan yang menjadi pusat politik dan kebudayaan dunia Arab tersebut, ia mendirikan sebuah kantor pusat yang representatif untuk organisasinya, yang diberi nama Kantor Pusat Umum.

Di Kairo, pesona kepemimpinan Hasan Al-Banna semakin kuat memancar. Orang-orang mengenalnya sebagai seorang ahli berpidato yang luar biasa. Lidahnya sangat fasih, gaya bahasanya mencerminkan keahlian tinggi dalam bidang sastra, dan ia memiliki kemampuan yang genius dalam memilih kata-kata yang tepat untuk menyentuh hati para pendengarnya.

Pidato-pidatonya tidak pernah membosankan; ia mampu membakar semangat ribuan massa sekaligus meneteskan air mata keharuan karena untaian nasihatnya yang menyentuh kalbu. Karisma inilah yang membuat pemerintah kolonial Inggris dan penguasa lokal mulai merasa terancam.

Memasuki masa Perang Dunia II, ketegangan antara Ikhwanul Muslimin dan pihak penjajah semakin meruncing. Pada tahun 1941, Hasan Al-Banna ditangkap dan dijeblokan ke dalam penjara selama satu bulan. Penahanan ini berkaitan erat dengan salah satu pidatonya yang dinilai sangat provokatif oleh pihak berwenang, di mana isi pidato tersebut secara tajam mengkritik sistem politik imperialisme Inggris di Mesir selama masa perang.

Tidak berhenti di situ, setelah bebas dari penjara, pemerintah yang berada di bawah pengaruh Inggris memaksa Hasan Al-Banna untuk pindah. Mereka mengasingkannya ke daerah Qana di Mesir Selatan, dengan harapan dakwahnya akan meredup jauh dari ibu kota.

Namun, pengasingan tidak pernah mampu menghentikan langkah seorang pejuang. Dari satu tempat pengasingan ke tempat yang lain, Hasan Al-Banna justru memanfaatkan kesempatan itu untuk selalu menyampaikan dakwah dan mengajarkan Islam yang murni kepada umat di pelosok daerah.

Ia juga mulai berpikir global dengan mengirimkan delegasi-delegasi resmi Ikhwanul Muslimin ke seluruh penjuru dunia Islam. Tugas para delegasi ini adalah untuk memetakan dan mengetahui keadaan umat Islam secara riil di berbagai negara. Informasi-informasi yang dibawa pulang oleh delegasi tersebut kemudian menjadi bahan analisis penting bagi Hasan Al-Banna dalam merumuskan strategi kebangkitan dunia Islam secara global.

Singa Perang Palestina

Ujian terbesar sekaligus pembuktian jihad dari Ikhwanul Muslimin terjadi pada tahun 1948, ketika entitas Zionis memproklamasikan berdirinya negara Israel di atas tanah Palestina.

Mendengar penderitaan saudara-saudara muslim di sana, Hasan Al-Banna tidak tinggal diam. Ia segera mengorganisasi dan mengirimkan satu batalion pasukan sukarelawan ke Palestina. Pasukan khusus ini seluruhnya terdiri dari kader-kader inti Ikhwanul Muslimin yang telah terlatih secara fisik dan mental melalui kedisiplinan tingkat tinggi.

Di medan pertempuran yang sengit, pasukan sukarelawan Ikhwanul Muslimin menunjukkan keberanian yang luar biasa yang membuat bulu kuduk musuh merinding. Dalam berbagai kontak senjata melawan pasukan Yahudi, mereka berhasil menorehkan kemenangan demi kemenangan dan memberikan kekalahan yang sangat telak bagi pihak musuh. Ketangguhan taktis dan mental pantang mundur dari pasukan ini bahkan diakui sendiri oleh pihak lawan.

Salah seorang jenderal perang militer Yahudi kala itu memberikan pengakuan yang jujur sekaligus mencengangkan dalam catatannya, “Seandainya mereka memberikan kepadaku satu batalion orang-orang Ikhwanul Muslimin, maka dengan pasukan tersebut saya pasti bisa menaklukkan dunia.”

Namun, kegemilangan militer di Palestina ini justru menyalakan alarm bahaya bagi kekuatan-kekuatan sekuler dan imperialis dunia. Kemenangan tersebut memicu kepanikan massal di kalangan konspirator global.

Aliansi aneh pun terbentuk demi membendung laju pergerakan ini. Orang-orang Yahudi, pemerintah kolonial Inggris, Raja Faruk dari Mesir, kaum bangsawan yang korup, partai-partai politik lokal yang merasa tersisih, hingga orang-orang awam yang tidak paham akan ketulusan tujuan perjuangannya, semuanya bersatu padu menentang gerakan pengiriman pasukan Ikhwanul Muslimin.

Di tengah kepungan tekanan internasional dan domestik yang begitu dahsyat, kepribadian Hasan Al-Banna tetap tidak goyah. Di mata para sahabatnya, ia adalah sosok manusia yang sangat rendah hati, sangat menjaga kebersihan, serta memiliki daya ingat yang sangat kuat hingga mampu mengingat nama ribuan kadernya.

Al-Banna selalu memancarkan semangat yang tak kenal lelah, sangat mencintai sesama manusia, dan selalu berlaku lemah lembut kepada siapa pun yang ia temui. Wajahnya senantiasa berhias senyuman yang tulus, meskipun di dalam dadanya tersimpan keberanian laksana singa, dan yang paling utama, ia tidak pernah sekalipun meninggalkan ibadah shalat malam dalam kondisi segenting apa pun.

Integritas Tak Terbeli

Kekaguman terhadap sosok Sang Mursyid datang dari berbagai tokoh intelektual besar pada zamannya. Pemikir Islam ternama, Sayyid Quthb, pernah memberikan komentar yang mendalam mengenai pribadinya, “Sesuatu yang besar dalam diri Hasan Al-Banna adalah dia selalu berpikiran positif, berbuat baik, dan jenius.”

Sementara itu, ulama besar Syaikh Muhammad Al-Hamid mengomentari Imam As-Syahid dengan nada kerinduan yang mendalam, “Sejak lama umat Islam tidak menjumpai orang seperti Hasan Al-Banna.” Pujian senada juga datang dari sejarawan dan ulama India, Syaikh An-Nadawi, yang berkomentar, “Dia adalah sosok yang mengejutkan Mesir dan dunia Islam.”

Meskipun banjir pujian, Hasan Al-Banna tetap rendah hati. Suatu saat, pernah seseorang bertanya, meminta penjelasan filosofis tentang tabiat dan hakikat ia yang sebenarnya. Imam Hasan Al-Banna menjawab dengan untaian kalimat yang sangat menyentuh kalbu:

“Saya adalah seperti seorang pengembara yang sedang mencari kebenaran, orang yang mencari jati diri yang sebenarnya, warga negara yang mendambakan kemuliaan, kemerdekaan, ketentraman, kehidupan yang mudah di bawah naungan agama Islam. Saya berusaha untuk menerapkan Islam yang sebenarnya. Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku adalah untuk Tuhan alam semesta yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikianlah saya diperintahkan dan saya termasuk orang yang pertama kali berserah diri kepada-Nya. Inilah diri saya yang sebenarnya…, sekarang siapa diri Anda yang sebenarnya?”

Integritas moral Hasan Al-Banna yang tak tergoyahkan juga teruji ketika ia berhadapan dengan diplomasi uang dari pihak asing. Suatu hari, seorang utusan resmi dari Kedutaan Besar Inggris datang menghadapnya secara khusus di Kantor Pusat Umum Ikhwanul Muslimin di Kairo. Setelah utusan tersebut diterima dengan penghormatan yang layak oleh Hasan Al-Banna, sang diplomat mulai menyampaikan maksud terselubungnya dengan bahasa yang sangat halus:

“Di antara rencana-rencana kerajaan kami adalah ingin memberikan bantuan finansial kepada lembaga-lembaga sosial dan keagamaan di Mesir. Kerajaan Inggris sangat menghargai usaha kemanusiaan dan biaya yang telah Anda keluarkan selama ini. Oleh karena itu, kerajaan bermaksud untuk memberikan bantuan kepada Anda tanpa pamrih apa pun. Kami juga telah pernah memberikan bantuan serupa kepada beberapa lembaga dan perorangan di sini. Bersama kami saat ini ada sebuah cek yang bernilai 10.000 poundsterling untuk membantu perkembangan organisasi Anda.” Nilai uang yang sangat fantastis untuk ukuran zaman itu.

Penolakan Cek Emas dan Badai Fitnah

Mendengar tawaran dana segar yang bernilai ribuan poundsterling tersebut, Imam Al-Banna tidak menampakkan wajah silau atau tergiur sedikit pun. Ia hanya tersenyum simpul dengan ketenangan seorang sufi, lalu menolak cek tersebut dengan diplomasi yang sangat cerdas sekaligus menohok ego sang utusan, “Sesungguhnya kalian lebih membutuhkan uang ini, karena negara kalian saat ini sedang dalam keadaan hancur akibat perang.”

Utusan Kedutaan Inggris yang merasa terpukul mencoba menawarkan tambahan nominal yang lebih besar lagi agar pertahanan sang Imam luluh, namun Hasan Al-Banna tetap bersikeras menolaknya dengan tegas.

Setelah utusan Inggris tersebut pergi dengan tangan hampa, beberapa sahabat dekat Hasan Al-Banna yang menyaksikan kejadian itu merasa heran dan agak menyayangkan penolakan tersebut.

Mereka berbisik-bisik di dekatnya sambil mengatakan, “Wahai Imam, kenapa kita tidak mengambil saja uang tersebut dan kemudian kita gunakan uang itu sebagai modal senjata untuk menyerang balik mereka?”

Imam Al-Banna menggelengkan kepalanya lalu menjawab dengan sebuah kaidah pergerakan yang sangat mahal nilainya, “Orang yang memberi bantuan sangat susah untuk ditolak keinginannya di masa depan. Dan orang yang menerima bantuan tidak akan pernah memiliki keleluasaan untuk berbuat banyak. Kami semua di sini adalah orang-orang yang berjuang dengan harta dan jiwa kami sendiri, bukan dengan harta dan jiwa orang lain.”

Keteguhan prinsip Ikhwanul Muslimin yang tidak bisa dibeli dengan uang membuat pemerintah Mesir yang korup semakin gelap mata.

Puncaknya terjadi ketika situasi politik dalam negeri Mesir mengalami kekacauan hebat dan demonstrasi merebak di mana-mana akibat ketidakpuasan rakyat terhadap kinerja pemerintah yang lambat dan penuh skandal. Pemerintah yang panik dan tidak mampu mengatasi akar permasalahan tersebut mencari kambing hitam untuk menyelamatkan mukanya sendiri.

Tanpa bukti hukum yang sah, pemerintah langsung menuduh secara sepihak bahwa organisasi Ikhwanul Muslimin adalah aktor intelektual yang berada di balik seluruh kekacauan nasional tersebut.

Dengan menggunakan legitimasi hukum darurat perang yang dipaksakan, pemerintah Mesir mengambil tindakan represif yang sangat kejam. Mereka mengeluarkan dekrit untuk menutup seluruh kantor cabang Ikhwanul Muslimin di seluruh wilayah Mesir tanpa terkecuali. Ribuan anggotanya, mulai dari jajaran pimpinan hingga simpatisan di akar rumput, ditangkap secara massal tanpa proses pengadilan yang adil dan dijebloskan ke dalam sel-sel tahanan yang sempit.

Tidak puas sampai di situ, pemerintah secara resmi mengumumkan pembubaran organisasi Ikhwanul Muslimin dan menyatakannya sebagai organisasi terlarang di tanah Mesir.

Gugurnya Sang Syahid dalam Kesunyian Malam

Operasi sistematis untuk melenyapkan pergerakan ini mencapai titik nadirnya yang paling berdarah. Sang Mursyid, Hasan Al-Banna, akhirnya terbunuh sebagai syahid pada 12 Februari 1949 di sebuah jalanan sunyi dekat perempatan Ramsis, Kairo.

Pada suatu malam yang dingin dan gelap, ketika ia baru saja keluar dari sebuah pertemuan, ada tiga orang pria bersenjata yang telah mengintainya dari kegelapan. Tanpa peringatan, mereka memuntahkan beberapa tembakan jarak dekat yang bersarang di tubuh Hasan Al-Banna. Setelah melakukan aksi kejinya, ketiga eksekutor tersebut langsung melarikan diri menggunakan sebuah mobil yang telah bersiap.

Sejarah kemudian menguak tabir hitam di balik pembunuhan tersebut. Dua dari pelaku penembakan itu ternyata adalah agen intelijen resmi pemerintah, dan satunya lagi yang bertindak sebagai komandan lapangan adalah Muhammad Abdul Majid, yang saat itu menjabat sebagai Kepala Keamanan Negara Mesir.

Hasan Al-Banna yang bersimbah darah namun masih memiliki kesadaran, segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Namun, konspirasi tingkat tinggi telah mengondisikan segalanya.

Karena adanya ancaman pemecatan dan hukuman yang sangat keras dari otoritas pemerintah terhadap siapa pun yang menolongnya, para dokter dan petugas medis di rumah sakit tersebut tidak ada yang berani mendekati, menyentuh, apalagi membalut luka-luka tembak yang bersarang di tubuhnya.

Dalam kondisi dibiarkan tanpa pertolongan medis selama dua jam penuh di atas ranjang rumah sakit, Hasan Al-Banna akhirnya mengembuskan napas terakhirnya, kembali ke haribaan Ilahi sebagai seorang syahid yang dizalimi oleh penguasa negerinya sendiri.

Kematian sang tokoh tidak membuat ketakutan pemerintah mereda. Rezim yang ketakutan akan terjadinya gelombang pemberontakan rakyat memaksa keluarga untuk memakamkan jenazahnya dengan syarat-syarat yang sangat tidak manusiawi. Pemerintah memadamkan aliran listrik di seluruh wilayah desanya agar suasana menjadi gelap gulita, dan pihak keluarga dilarang keras untuk mengumumkan berita duka atau mengadakan upacara takziah yang mengundang kerumunan orang.

Pada keesokan harinya, pemandangan pilu terjadi. Jenazah Sang Mursyid yang agung hanya dishalati oleh ayah kandungnya yang sudah sepuh dan keempat saudara perempuannya yang menangis dalam diam.

Proses pemakaman jenazahnya berjalan di bawah pengawalan militer yang sangat mencekam dan dikelilingi oleh tank-tank tempur yang siap menembak. Kuburannya dijaga ekstra ketat oleh barisan tentara bersenjata lengkap selama berhari-hari demi memastikan agar para pengikut setia Ikhwanul Muslimin tidak datang untuk memindahkan jenazahnya ke tempat lain.

Namun, meskipun jasadnya telah tertimbun tanah, ideologi dan pemikiran Hasan Al-Banna tidak pernah bisa dibunuh oleh peluru. Ia meninggalkan warisan intelektual yang hidup melalui karya tulisnya seperti Majmu’atur Rasail dan Mudzakkirat Ad-Du’at wa Ad-Da’iyyah.

Ia juga melahirkan murid-murid ideologis kaliber dunia seperti Dr. Yusuf Al-Qaradhawi, Syaikh Mutawalli Sya’rawi, Dr. Musthafa As-Siba’i, Abdul Qadir Audah, Umar At-Tilmisani, hingga Mustafa Masyhur yang terus melanjutkan estafet dakwahnya hingga hari ini. []

SILAKAN BERI TANGGAPAN

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini