Allah memiliki 99 asmaul husna. Salah satunya adalah Ar Razzaq. Apa dalil dan artinya, serta bagaimana cara meneladani Ar Razzaq dalam kehidupan sehari-hari?
Daftar Isi
Ar Razaaq Artinya Maha Pemberi Rezeki
Ar Razzaq (الرَّزَّاقُ) artinya Maha Pemberi Rezeki. Nama ini berarti Allah adalah Dzat Yang menciptakan rezeki, menentukan kadarnya, menyediakan sebab-sebabnya, lalu menyampaikannya kepada seluruh makhluk-Nya sesuai kehendak dan hikmah-Nya.
Asmaul husna ke-17 ini terambil dari kata razaqa (رزق) yang artinya memberi rezeki. Kata Ar Razzaq berada pada wazan (pola) fa’’aalun (فَعَّالٌ) yang merupakan salah satu bentuk ṣighah mubalaghah (bentuk hiperbolik/intensif) dalam bahasa Arab. Pola ini menunjukkan:
- Sangat banyak melakukan suatu perbuatan.
- Terus-menerus melakukannya.
- Melakukannya dengan sempurna.
Karena itu, Ar Razzaq bukan sekadar berarti “Pemberi Rezeki”, tetapi: “Dzat yang senantiasa, terus-menerus, dan dengan sangat sempurna memberikan rezeki kepada seluruh makhluk-Nya.”
Oleh karena itu Al-Qur’an menggunakan bentuk mubalaghah:
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Sesungguhnya Allah, Dialah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki), Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. (QS. Adz-Dzariyat: 58)
Ketika menjelaskan ayat ini, Syekh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan, Allah Subhanahu wa Ta’ala Dialah Yang Maha Pemberi reseki kepada semua hamba-Nya dan menegakkan apa yang baik dan maslahat bagi mereka.
Dalam Akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, Syekh Ali Jum’ah menjelaskan bahwa Ar-Razzaq artinya Dzat yang berkuasa menciptakan rezeki yang sangat baik, memberikannya kepada para hamba, sekaligus men- ciptakan sebab-sebabnya.
Syekh Musthafa Wahbah menjelaskan bahwa Ar-Razzaq artinya Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan rezeki, dan menyampaikannya kepada sekalian makhluk-Nya dengan berbagai macam jalannya.
Sedangkan Syekh Abur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badri dalam Fiqhul Asmaul Husna menjelaskan, Ar Razzaq adalah Dzat yang menjamin rezeki seluruh hamba-Nya dan mengurus setiap makhluk dengan segala yang menopang kehidupannya.
Jadi, Allah bukan sekadar memiliki rezeki, tetapi Dialah sumber seluruh rezeki. Tidak ada makhluk yang dapat memberi rezeki secara hakiki selain Allah. Semua manusia, hewan, tumbuhan, bahkan seluruh makhluk di langit dan bumi hidup dengan rezeki yang Allah karuniakan.
Makna Ar-Razzaq juga menunjukkan bahwa Allah sangat sempurna dalam mengatur pembagian rezeki. Dia mengetahui siapa yang perlu dilapangkan rezekinya, siapa yang perlu disempitkan, kapan rezeki diberikan, dan melalui jalan apa rezeki itu sampai kepada hamba-Nya.
Karena itu, seorang mukmin meyakini bahwa pekerjaan, perdagangan, jabatan, pelanggan, atau relasi hanyalah sebab. Adapun pemberi rezeki yang sebenarnya adalah Allah semata.
Baca juga: As Samad Artinya
Dalil Asmaul Husna Ar Razzaq
Dalil asmaul husna Ar Razzaq bisa kita dapati dalam banyak ayat Al-Qur’an. Antara lain pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ
Sesungguhnya Allah, Dialah Ar-Razzaq (Maha Pemberi Rezeki), Yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. (QS. Adz-Dzariyat: 58)
وَاللَّهُ خَيْرُ الرَّزِقِينَ
Dan Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. (QS. Al-Jumuah: 11)
وَإِنَّ اللَّهَ لَهُوَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ
Dan sesungguhnya Allah benar-benar sebaik-baik pemberi rezeki. (QS. Al-Hajj: 58)
Juga pada firman Allah di ayat lain, meskipun tidak memakai kata Ar-Razzaq tetapi mengandung maknanya. Misalnya:
وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا
Tidak ada satu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang menjamin rezekinya. (QS. Hud: 6)
وَكَأَيِّنْ مِن دَابَّةٍ لَّا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ
Betapa banyak makhluk yang tidak mampu membawa rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan juga kepada kalian. (QS. Al-Ankabut: 60)
Dalil Ar Razzaq juga ada pada hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam kitab Sunan dan Musnad Imam Ahmad, dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Harga-harga barang pernah melonjak pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, seandainya engkau menetapkan harga.’ Maka beliau bersabda:
إِنَّ اللَّهَ الْمُسَعِّرُ وَالْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ إِنِّى لأَرْجُو أنْ أَلْقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِى بِمَظْلَمَةٍ فِى دَمٍ وَلاَ مَالٍ
Sesungguhnya Allah-lah Yang Menciptakan, Yang Menyempitkan dan Melapangkan, Yang Memberi Rezeki, dan Yang Menetapkan Harga. Sungguh aku berharap berjumpa dengan Allah Azza wa Jalla dalam keadaan tidak ada seorang pun yang menuntutku karena kezaliman yang pernah kulakukan kepadanya, baik dalam urusan darah maupun harta.(HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ahmad)
Baca juga: Ar Rahim Artinya
Penjelasan Makna Ar Razzaq
Syekh Abur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-Badri dalam Fiqhul Asmaul Husna menjelaskan panjang lebar tentang makna Ar Razzaq. Demikian pula para ulama lain seperti Syekh Ali Jum’ah dan Syekh Musthafa Wahbah, meskipun tidak sepanjang penjelasan Syekh Al-Badri. Berikut ini ringkasannya:
1. Allah Menjamin Rezeki Seluruh Makhluk
Salah satu konsekuensi nama Ar-Razzaq adalah bahwa Allah menjamin rezeki semua makhluk-Nya. Burung yang terbang di udara, ikan di lautan, hewan di hutan, bahkan manusia yang paling lemah sekalipun, semuanya hidup dengan rezeki yang Allah sediakan.
Karena itu seorang mukmin tidak boleh berputus asa terhadap masa depannya. Selama Allah masih menghendaki seseorang hidup, Allah pula yang menjamin rezekinya.
2. Allah Menciptakan Rezeki dan Sebab-Sebabnya
Ar-Razzaq tidak hanya berarti memberi rezeki, tetapi juga menciptakan sebab-sebab yang mengantarkan kepada rezeki.
Allah menciptakan tanah yang subur, hujan yang turun dari langit, kemampuan bekerja, akal untuk berpikir, kesehatan, kesempatan, bahkan orang-orang yang menjadi perantara datangnya rezeki.
Karena itu seorang mukmin wajib berusaha dan bekerja, namun hatinya tidak bergantung kepada sebab-sebab tersebut. Ia bergantung kepada Allah yang menciptakan sebab-sebab itu.
3. Rezeki Tidak Hanya Berupa Harta
Banyak orang memahami rezeki hanya sebagai uang atau kekayaan. Padahal rezeki memiliki makna yang jauh lebih luas.
Para ulama menjelaskan bahwa rezeki terbagi menjadi dua. Pertama, rezeki jasmani, yaitu makanan, minuman, pakaian, kesehatan, tempat tinggal, pekerjaan, keluarga, dan berbagai kebutuhan hidup lainnya. Kedua, rezeki ruhani, yaitu iman, ilmu yang bermanfaat, pemahaman yang benar, hidayah, ilham yang baik, ketenangan hati, dan kemampuan beramal saleh.
Bahkan rezeki ruhani lebih mulia daripada rezeki jasmani. Harta hanya memberikan manfaat selama kehidupan dunia yang singkat, sedangkan iman dan ilmu menjadi sebab keselamatan serta kebahagiaan abadi di akhirat.
Karena itu seseorang bisa saja miskin secara materi, tetapi sangat kaya di sisi Allah karena memiliki iman, ilmu, dan ketakwaan.
4. Rezeki Dunia Bukan Ukuran Kemuliaan
Kesalahan yang banyak terjadi adalah menganggap kekayaan sebagai tanda kecintaan Allah dan kemiskinan sebagai tanda kemurkaan-Nya.
Al-Qur’an membantah anggapan tersebut:
فَأَمَّا الْإِنْسَانُ إِذَا مَا ابْتَلَاهُ رَبُّهُ فَأَكْرَمَهُ وَنَعَّمَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَكْرَمَنِ (۱٥) وَأَمَّا إِذَا مَا ابْتَلَاهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهُ فَيَقُولُ رَبِّي أَهَانَنِ (۱٦) كَلَّا
Adapun manusia apabila Tuhannya memuliakannya dan memberinya kenikmatan, ia berkata: “Tuhanku telah memuliakanku.” Adapun apabila Dia menyempitkan rezekinya, ia berkata: “Tuhanku telah menghinakanku.” Sekali-kali tidak! (QS. Al-Fajr: 15–17)
Kaya dan miskin sama-sama ujian. Orang kaya diuji dengan syukur, amanah, dan penggunaan hartanya. Orang miskin diuji dengan kesabaran dan keridaannya terhadap takdir Allah.
Karena itu ukuran kemuliaan bukanlah jumlah harta, melainkan iman dan ketakwaan.
5. Rezeki Akhirat adalah Rezeki Terbesar
Allah memberikan rezeki dunia kepada orang beriman maupun orang kafir. Namun ada rezeki khusus yang hanya diberikan kepada hamba-hamba pilihan-Nya, yaitu hidayah, keimanan, amal saleh, dan akhirnya surga.
Allah menyebut kenikmatan surga sebagai rezeki yang tidak pernah habis:
إِنَّ هَذَا لَرِزْقُنَا مَا لَهُ مِن نَّفَادٍ
Sesungguhnya ini adalah rezeki dari Kami yang tidak akan pernah habis. (QS. Shad: 54)
Inilah rezeki yang paling agung. Harta dunia akan ditinggalkan, tetapi rezeki akhirat akan dinikmati selama-lamanya.
Baca juga: Kalimat Thayyibah
Cara Meneladani Ar Razzaq
Sebagai manusia, kita tentu tidak mungkin memiliki sifat memberi rezeki sebagaimana Allah. Namun kita dapat meneladani nama Ar Razzaq dengan beberapa cara.
1. Meyakini Allah sebagai Satu-satunya Pemberi Rezeki
Seorang mukmin harus membersihkan hatinya dari ketergantungan kepada manusia. Ia bekerja, berusaha, dan memanfaatkan berbagai sebab, tetapi keyakinannya tetap bahwa yang memberi hasil hanyalah Allah.
Keyakinan ini melahirkan ketenangan, optimisme, dan tawakal.
2. Bertakwa dalam Mencari Rezeki
Allah menjanjikan:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (٢) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka. (QS. Ath-Thalaq: 2–3)
Karena itu seorang mukmin menjaga kejujuran, amanah, dan ketakwaan dalam seluruh aktivitas ekonominya.
3. Mencari Rezeki yang Halal
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan bahwa lambatnya rezeki tidak boleh mendorong seseorang menempuh jalan haram.
وَإِنَّ الرُّوحَ الْأَمِينَ قَدْ أَلْقَى فِي رُوعِي أَنَّهُ لَنْ تَمُوتَ نَفْسٌ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا، فَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ
Sesungguhnya Ruhul Amin (Malaikat Jibril) telah menyampaikan ke dalam hatiku bahwa tidak ada satu jiwa pun yang akan mati hingga ia menyempurnakan (menerima seluruh) rezekinya. Maka tempuhlah cara yang baik dalam mencari rezeki. (HR. Al-Baihaqi dan Asy-Syafi’i)
Korupsi, riba, penipuan, suap, manipulasi, dan berbagai bentuk kemaksiatan tidak akan menambah bagian rezeki yang telah Allah tetapkan. Sebaliknya, keberkahan hanya bisa kita peroleh melalui jalan yang halal.
4. Bersyukur atas Setiap Nikmat
Semakin seseorang mengenal Allah sebagai Ar-Razzaq, semakin mudah ia bersyukur. Ia menyadari bahwa makanan yang ia makan, udara yang ia hirup, keluarga yang ia miliki, ilmu yang ia peroleh, hingga kesempatan beribadah adalah rezeki dari Allah.
Rasa syukur akan melahirkan ketenangan dan menambah keberkahan hidup.
5. Gemar Berbagi dan Menjadi Perantara Rezeki
Allah mencintai hamba yang suka memberi manfaat kepada orang lain.
Seseorang dapat meneladani Ar-Razzaq dengan membantu sesama, memberi makan orang yang membutuhkan, bersedekah, membuka lapangan kerja, mengajarkan ilmu, dan memudahkan urusan orang lain.
Ia sadar bahwa dirinya bukan pemilik hakiki rezeki, melainkan hanya penerima amanah yang harus ia gunakan di jalan yang Allah ridhai.
6. Menjadikan Dunia sebagai Sarana Menuju Akhirat
Orang yang memahami nama Ar-Razzaq tidak menjadikan harta sebagai tujuan hidup. Ia memanfaatkan rezeki untuk beribadah, menuntut ilmu, berdakwah, membantu keluarga, dan melakukan amal saleh.
Dengan demikian, rezeki dunia menjadi jembatan menuju rezeki yang lebih besar, yaitu keridaan Allah dan surga-Nya.
Demikian asmaul husna Ar Razzaq, mulai dari artinya, dalil, penjelasan makna, hingga cara meneladani dalam kehidupan sehari-hari. Semoga bermanfaat dan membuat kita semakin tenang soal rezeki. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]
