Beranda Suplemen Renungan Hadapi Krisis, Pemimpin yang Baik Tak Hanya Bermulut Manis

Hadapi Krisis, Pemimpin yang Baik Tak Hanya Bermulut Manis

0
hadapi krisis
ilustrasi

“Allah yang menjamin rezekimu saat dolar 6.000. Allah juga yang menjamin rezekimu saat dollar 18.000.” Kata-kata ini viral di media sosial. Hakikatnya benar tetapi jangan sampai menjadi alasan untuk tidak berikhtiar. Apalagi menjadi dalil bagi pejabat untuk berlepas tangan dari tanggung jawab.

Memang kita harus bertawakal dan meyakini bahwa Allah menjamin rezeki seluruh makhluk-Nya. Namun para pemimpin terbaik tidak hanya bermulut manis saat menghadapi krisis. Kita bisa mendapatkan keteladanan mereka dalam Al-Qur’an, sirah nabawiyah, dan sirah generasi paling gemilang.

Nabi Yusuf ‘Alaihis Salam

Ketika badai krisis pangan mengancam eksistensi negeri Mesir, Nabi Yusuf ‘alaihis salam tidak hanya menenangkan umat dengan kalimat, “Allah menjamin rezekimu.” Al-Qur’an mengabadikan langkah strategis menghadapi krisis.

(Yusuf) berkata, “Bercocoktanamlah kamu tujuh tahun berturut-turut! Kemudian apa yang kamu tuai, biarkanlah di tangkainya, kecuali sedikit untuk kamu makan. Kemudian, sesudah itu akan datang tujuh (tahun) yang sangat sulit (paceklik) yang menghabiskan apa yang kamu simpan untuk menghadapinya, kecuali sedikit dari apa (bibit gandum) yang kamu simpan. Setelah itu akan datang tahun, ketika manusia diberi hujan (dengan cukup) dan pada masa itu mereka memeras (anggur).”(QS. Yusuf: 47-49)

Tujuh tahun masa subur tidak dihabiskan untuk sekadar berdoa menanti mukjizat. Beliau menginstruksikan rakyat untuk menanam dengan gigih, lalu membiarkan sebagian besar bulir gandum tetap berada pada tangkainya sebagai teknologi pengawetan alami. Inilah perpaduan salimul aqidah dan munazhamun fi syu’unihi; sebuah pemahaman bahwa takdir masa depan dijemput dengan manajemen hari ini.

Strategi yang tepat takkan berjalan efektif tanpa pemimpin yang tepat. Maka dengan sadar beliau menawarkan diri kepada penguasa untuk memimpin krisis, “Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir); sesungguhnya aku adalah orang yang pandai menjaga lagi berpengetahuan.” (QS. Yusuf: 55)

Pemimpin penanggulangan krisis haruslah orang yang berintegritas dan kompeten. Bersih dan profesional. Menjamin bahwa sumber daya negara didistribusikan secara adil kepada yang berhak menerima bukan malah digarong untuk kepentingan pribadi dan golongannya.

Saat tujuh tahun masa kekeringan tiba, tawakal Yusuf mewujud dalam distribusi pangan yang akurat. Beliau memastikan tidak ada sebutir gandum pun yang terbuang sia-sia oleh keserakahan. Beliau menghadapi krisis dengan kalkulasi logistik yang matang.

Baca juga: Surat Yusuf Ayat 4

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam

Sirah Nabawiyah mencatat, pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga beberapa kali terjadi krisis. Misalnya saat pemboikotan Bani Hasyim oleh Quraisy dan krisis pada awal-awal hijrah ke Madinah.

Menghadapi embargo Quraiys, Rasulullah tidak hanya menenangkan umat dengan kalimat, “Allah menjamin rezekimu.” Beliau bersama Bunda Khadijah radhiyallahu ‘anha menggunakan seluruh hartanya untuk mensubsidi kaum muslimin dan Bani Hasyim hingga mereka bisa bertahan menghadapi tiga tahun masa kelaparan itu.

Pada masa awal hijrah ke Madinah, umat Islam menghadapi tekanan ekonomi yang berat. Madinah yang subur dengan kurma sempat mengalami lonjakan penduduk (kaum Muhajirin) yang tidak memiliki lahan. Saat terjadi krisis air bersih karena sumur-sumur dikuasai secara monopoli oleh orang Yahudi, Rasulullah menawarkan investasi ukhrawi. Utsman bin Affan kemudian membeli Sumur Ruma dan menggratiskan airnya untuk seluruh penduduk. Ini adalah langkah strategis agar kebutuhan vital tidak menjadi komoditas spekulasi saat krisis.

Selain membangun kedaulatan sumber daya alam, Rasulullah juga membangun kedaulatan ekonomi dengan reformasi pasar dan anti-penimbunan. Rasulullah mendirikan Pasar Madinah yang mandiri untuk memutus monopoli pengusaha Yahudi. Beliau melarang keras praktik ikhtikar (menimbun barang pangan untuk menaikkan harga saat krisis). Beliau melarang mencegat barang dagangan di luar Madinah agar harga tetap adil bagi produsen dan konsumen.

Baca juga: Sahabat Nabi

Umar bin Khattab Radhiyallahu ‘Anhu

Pada tahun 18 hijriah, jazirah Arab mengalami krisis pangan. Kekeringan dan kemarau panjang mengakibatkan paceklik hingga para penduduknya mengalami kelaparan. Banyak binatang ternak mati mengenaskan. Kalaupun ada makanan, harganya melonjak tajam. Ulama tarikh menyebutnya amul ramadah (tahun angin abu).

Amirul Mukminin Umar bin Khattab yang biasanya hidup sederhana, pada masa ini lebih sederhana lagi. Ia lebih banyak berpuasa dan berbuka seadanya. Ia hanya makan roti kering keras dengan minyak zaitun sebagai lauk utamanya. Umar yang dulu tegap dan gagah kini tubuhnya kurus kering dan melemah. Anas bin Malik meriwayatkan, sebagian sahabat sampai menduga usia Umar tak akan bertahan lama.

Melihat kondisi ayahnya, salah seorang anak Umar berinisiatif membelikan susu dan daging seharga 40 dirham.

“Wahai Amirul Mukminin, makanlah ini untuk menguatkan tubuhmu.”

Melihat daging dan susu di depannya, Umar menjawab tegas. “Bagaimana aku bisa mementingkan urusan rakyat jika kau tidak mengalami apa yang mereka alami?”

Umar juga mengirim surat darurat (SOS) ke gubernur wilayah subur yang tidak terdampak. Beliau menulis kepada Amru bin Ash di Mesir dan Abu Musa Al-Asy’ari di Irak: “Bantulah umat Muhammad! Mereka hampir binasa.”

Amru bin Ash kemudian mengirim ribuan unta lewat darat dan kapal laut penuh gandum melalui laut merah langsung ke pelabuhan dekat Madinah. Umar memimpin sendiri distribusi logistik ini agar tidak ada penyelewengan. Sekali lagi, pada saat krisis, pemimpin yang bersih dan profesional merupakan keniscayaan.

Umar juga menginstruksikan pendirian dapur umum yang memberi makan puluhan ribu orang setiap malam. Juga membuat kebijakan fikih darurat: menangguhkan hukuman potong tangan bagi pencuri yang mencuri karena kelaparan, serta menunda pemungutan zakat/pajak hingga kondisi ekonomi pulih.

Tak ketinggalan, Umar mengajak seluruh penduduk untuk bertobat lalu shalat istisqa’. Syekh Ali Muhammad Ash-Shalabi dalam buku Umar bin Khattab menjelaskan detail setiap strategi Umar menghadapi krisis ini. Hingga Allah menurunkan hujan yang mengakhiri masa krisis sepenuhnya. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

SILAKAN BERI TANGGAPAN

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini