Beranda Dasar Islam Hadits Ayat dan Hadits tentang Taubat

Ayat dan Hadits tentang Taubat

0
hadits tentang taubat

Selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, tak ada orang yang lepas dari salah dan dosa. Maka, wajib bagi setiap muslim untuk bertaubat dari dosanya. Nah, berikut ini ayat dan hadits tentang taubat.

Ayat-ayat dan hadits-hadits ini bersumber dari kitab Riyadhush Shalihin karya Imam An-Nawawi serta referensi lainnya. Sedangkan penjelasan hadits bersumber dari kitab Nuzhatul Muttaqin karya Syekh Musthofa Dieb Al-Bugho, dkk.

Al-Qur’an dan Hadits adalah dua sumber hukum utama dalam Islam. Keduanya merupakan dalil naqil yang menjadi landasan setiap ilmu dan amal. Dalam dakwah, seorang dai tidak boleh lepas dari keduanya. Karenanya ayat-ayat dan hadits-hadits ini kami dedikasikan bagi para dai yang membutuhkan kemudahan dalam mencari dalil bagi konten dakwah atau bahan ceramahnya. Juga untuk setiap muslim yang membutuhkan dalil untuk pijakan ilmu dan bekal amalnya.

Secara khusus, semoga ayat-ayat dan hadits-hadits ini menjadi wasilah hidayah untuk bertaubat dari segala dosa.

Ayat tentang Taubat

Berikut ini ayat-ayat tentang taubat. Terdiri dari lima ayat yakni Al-Bayyinah ayat 5, Al-Hajj ayat 37, Ali Imran ayat 29, Ali Imran ayat 145, dan Al-An’am ayat 162.

1. An-Nur ayat 31

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Dan bertaubatlah kalian semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kalian beruntung. (QS. An-Nur: 31)

2. Hud ayat 3

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ

Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, kemudian bertaubatlah kepada-Nya. (QS. Hud: 3)

3. Hud ayat 52

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

Wahai kaumku, mohonlah ampunan kepada Tuhanmu kemudian bertobatlah kepada-Nya! Niscaya Dia akan menurunkan untukmu hujan yang sangat deras, menambahkan kekuatan melebihi kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling menjadi orang-orang yang berdosa. (QS. Hud: 52)

4. At-Tahrim ayat 8

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya (taubat nasuha). Mudah-mudahan Tuhanmu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai… (QS. At-Tahrim: 8)

5. Nuh ayat 10-12

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا (۱۰) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا (۱۱) وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا (۱٢)

Lalu, aku berkata (kepada mereka), “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, memperbanyak harta dan anak-anakmu, serta mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu.” (QS. Nuh: 10-12)

ayat tentang taubat

Hadits tentang Taubat

Berikut ini hadits-hadits tentang taubat dengan referensi utama Riyadhush Shalihin. Juga referensi lainnya seperti Shahih At-Targhib wa At-Tarhib. Sedangkan penjelasan hadits, mayoritasnya dari Nuzhatul Muttaqin.

Hadits 1

Matan Hadits dan Terjemah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ : وَاللهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي اليَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Demi Allah, sungguh aku benar-benar memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali.'” (HR. Al-Bukhari no. 6307 dan Musnad Ahmad no. 8493)

Kosakata Hadits

  • أستغفره: aku memohon ampun. Maksudnya, meminta ampunan kepada Allah. Kata maghfirah berarti pengampunan, yaitu penghapusan dan penutupan dosa. Asal kata ghafr bermakna menutupi.

Faedah Hadits

  1. Hadits ini mendorong umat Islam untuk memperbanyak taubat dan istighfar.
  2. Rasulullah ﷺ, meskipun ma’shum (terpelihara dari dosa) dan merupakan makhluk terbaik, serta telah mendapat ampunan atas dosa-dosa beliau yang telah lalu maupun yang akan datang, tetap beristighfar dan bertaubat lebih dari tujuh puluh kali setiap hari. Hal itu beliau lakukan sebagai pendidikan bagi umatnya sekaligus untuk meninggikan derajat beliau di sisi Allah.
  3. Membiasakan taubat dan istighfar merupakan sebab dihapuskannya dosa-dosa dan kesalahan yang mungkin dilakukan seseorang, bahkan yang terkadang tidak disadarinya.

Baca juga: Hadits tentang Ikhlas

Hadits 2

Matan Hadits dan Terjemah

عَنْ الْآخَرُ بْنِ يَسَارِ المُزَنِي الله قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ : يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ وَاسْتَغْفِرُوهُ، فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ ِمائَةَ مَرَّةٍ

Dari Al-Akhar bin Yasar Al-Muzani radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah seratus kali dalam sehari.” (HR. Muslim no. 6859 dan Ahmad no. 17847)

Faedah Hadits

  1. Hadits ini, bersama hadits sebelumnya, menunjukkan bahwa yang dituntut adalah memperbanyak istighfar dan bersegera bertaubat kepada Allah.
  2. Bilangan “tujuh puluh kali” atau “seratus kali” dalam hadits-hadits tersebut bukan dimaksudkan sebagai batas maksimal atau minimal, tetapi untuk menunjukkan banyaknya istighfar dan taubat yang dilakukan Rasulullah ﷺ.

Hadits 3

Matan Hadits dan Terjemah

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنس بن مَالِكِ الأَنْصَارِي خَادِم رسول الله ﷺ قال : قال رسول الله ﷺ: اللَّهُ أَفْرَحُ بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ سَقَطَ عَلَى بَعِيرِهِ ، وَقَدْ أَضَلَّهُ فِى أَرْضِ فَلاَةٍ . متفق عليه . وفي رواية لمُسلم : اللَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلاَةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِى ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِى وَأَنَا رَبُّكَ. أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ

Dari Abu Hamzah Anas bin Malik Al-Anshari, pelayan Rasulullah ﷺ, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: “Sungguh Allah lebih bergembira dengan taubat seorang hamba-Nya daripada kegembiraan salah seorang di antara kalian yang menemukan kembali untanya yang semula hilang di padang pasir.” (Muttafaq ‘alaih: HR. Sahih al-Bukhari no. 6309, Sahih Muslim no. 6960, dan Musnad Ahmad no. 13227).

Dalam riwayat Sahih Muslim: “Allah lebih besar kegembiraan-Nya terhadap taubat hamba-Nya ketika ia bertaubat kepada-Nya daripada kegembiraan salah seorang di antara kalian yang sedang bepergian di padang pasir dengan mengendarai tunggangannya yang membawa seluruh makanan dan minumannya. Lalu tunggangannya itu lepas sehingga ia putus asa untuk menemukannya. Ia pun mendatangi sebuah pohon lalu berbaring di bawah naungannya dalam keadaan telah berputus asa. Tiba-tiba ia mendapati tunggangannya telah berdiri di sisinya. Maka ia segera memegang tali kendalinya, kemudian karena sangat gembiranya ia berkata, ‘Ya Allah, Engkau adalah hambaku dan aku adalah Tuhan-Mu.’ Ia keliru mengucapkannya karena sangat gembira.”

Kosakata Hadits

  • أفرح الله: Allah lebih bergembira, yakni lebih besar kegembiraan-Nya. Kegembiraan yang dinisbatkan kepada Allah adalah salah satu sifat-Nya yang sesuai dengan keagungan dan kesempurnaan-Nya, tidak sama dengan kegembiraan makhluk.
  • سقط على بعيره: menemukan untanya secara tidak sengaja.
  • أضله: kehilangan atau menyia-nyiakannya.
  • فلاة: padang pasir atau tanah luas yang tandus, tanpa tumbuhan dan air.
  • الراحلة: kendaraan yang digunakan musafir, seperti unta atau hewan tunggangan lainnya.
  • الخطام: tali kekang yang dipasang pada hidung unta untuk mengendalikannya.

Faedah Hadits

  1. Hadits ini menunjukkan besarnya rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya dengan menerima taubat mereka serta kecintaan-Nya kepada orang-orang yang bertaubat. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri.”
  2. Hadits ini mendorong setiap muslim agar segera bertaubat dan tidak berputus asa dari rahmat Allah.
  3. Kesalahan yang tidak disengaja tidak mendatangkan dosa. Hal ini ditunjukkan oleh orang yang keliru mengucapkan kalimat karena sangat gembira, namun tidak dipersalahkan.
  4. Hadits ini juga mengajarkan metode pendidikan Rasulullah ﷺ, yaitu menggunakan perumpamaan agar makna lebih mudah dipahami dan lebih membekas dalam hati.
  5. Diperbolehkan bersumpah untuk menegaskan suatu perkara yang mengandung manfaat dan kemaslahatan.

Hadits 4

Matan Hadits dan Terjemah

عَنْ أَبِى مُوسَى عبد الله بن قيس الأَشعَرِي عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَبْسُطُ يَدَهُ بِاللَّيْلِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ النَّهَارِ وَيَبْسُطُ يَدَهُ بِالنَّهَارِ لِيَتُوبَ مُسِىءُ اللَّيْلِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِهَا

Dari Abu Musa Abdullah bin Qais Al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala membentangkan tangan-Nya pada malam hari agar orang yang berbuat dosa pada siang hari bertaubat. Dan Dia membentangkan tangan-Nya pada siang hari agar orang yang berbuat dosa pada malam hari bertaubat, hingga matahari terbit dari arah barat.” (HR. Muslim no. 6989 dan Ahmad no. 19619)

Kosakata Hadits

  • يبسط يده (membentangkan tangan-Nya): Allah memiliki tangan yang hakikat dan bagaimana cara membentangkannya hanya Allah yang mengetahui. Sebagian ulama menafsirkan ungkapan ini sebagai kiasan tentang luasnya rahmat Allah dan terbukanya pintu taubat bagi hamba-hamba-Nya. Namun, pendapat pertama lebih selamat, yaitu menetapkan sifat tersebut sebagaimana datang dalam nash tanpa menyerupakan dengan makhluk dan tanpa membahas hakikatnya.

Faedah Hadits

  1. Rahmat dan ampunan Allah meliputi seluruh waktu; tidak terbatas pada waktu tertentu, meskipun sebagian waktu memiliki keutamaan lebih dibanding yang lain.
  2. Hadits ini mendorong agar seseorang segera bertaubat setiap kali melakukan dosa, baik pada siang maupun malam hari.
  3. Pintu taubat akan terus terbuka selama belum datang tanda besar kiamat, yaitu terbitnya matahari dari arah barat. Setelah itu, pintu taubat ditutup.

Hadits 5

Matan Hadits dan Terjemah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ لله قال : قال رسول الله ﷺ : مَنْ تَابَ قَبْلَ أَنْ تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْ مَغْرِبِها تَابَ الله عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa bertaubat sebelum matahari terbit dari arah barat, niscaya Allah menerima taubatnya.” (HR. Muslim no. 6861 dan Ahmad no. 9130)

Kosakata Hadits

  • تاب الله عليه: Allah menerima taubatnya.

Faedah Hadits

  1. Allah menerima taubat hamba-hamba-Nya sebagai karunia dan kemurahan-Nya apabila syarat-syarat taubat telah terpenuhi.
  2. Di antara syarat diterimanya taubat ialah dilakukan sebelum matahari terbit dari arah barat.
  3. Dalam penafsiran firman Allah Ta’ala: “Pada hari datangnya sebagian tanda-tanda Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang yang belum beriman sebelumnya atau belum mengusahakan kebaikan dalam masa imannya.” (QS. Al-An’am: 158) para ulama menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan salah satu tanda besar tersebut adalah terbitnya matahari dari arah barat.

Hadits 6

Matan Hadits dan Terjemah

عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضى الله عنهما عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ : إِنَّ اللَّهَ يَقْبَلُ تَوْبَةَ العَبْدِ مَا لَمْ يُغَرْغِرْ

Dari Abu Abdurrahman Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhuma, Nabi ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba selama nyawanya belum sampai di tenggorokan.” (HR. At-Tirmidzi no. 3537. At-Tirmidzi berkata, “Hadits ini hasan.” Hadits ini juga terdapat dalam Musnad Ahmad no. 6160)

Kosakata Hadits

  • يغرغر (yugharghir): berasal dari kata ghargharah, yaitu memasukkan minuman ke dalam mulut lalu menggerakkannya hingga ke pangkal tenggorokan tanpa menelannya. Yang dimaksud dalam hadits ini adalah saat sakaratul maut, ketika ruh telah sampai di tenggorokan, yaitu bagian bawah kerongkongan.
  • Ucapan At-Tirmidzi, “Hadits hasan”, berarti sanadnya bersambung, tidak terdapat kejanggalan (syudzudz) maupun cacat (‘illat), namun para perawinya berada di bawah tingkat para perawi hadits shahih. Meski demikian, hadits hasan tetap menjadi hujah sebagaimana hadits shahih.

Faedah Hadits

  1. Salah satu syarat diterimanya taubat ialah dilakukan sebelum seseorang mencapai keadaan yang secara kebiasaan tidak mungkin lagi hidup, yaitu ketika ruh telah sampai di tenggorokan.
  2. Allah Ta’ala berfirman: “Dan taubat itu tidak diterima dari orang-orang yang terus-menerus mengerjakan kejahatan hingga apabila datang kematian kepada salah seorang di antara mereka, ia berkata, ‘Sesungguhnya aku bertaubat sekarang.'” (QS. An-Nisa’: 18)

Hadits 7

Matan Hadits dan Terjemah

عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ قَالَ أَتَيْتُ صَفْوَانَ بْنَ عَسَّالٍ الْمُرَادِىَّ أَسْأَلُهُ عَنِ الْمَسْحِ عَلَى الْخُفَّيْنِ فَقَالَ مَا جَاءَ بِكَ يَا زِرُّ فَقُلْتُ ابْتِغَاءَ الْعِلْمِ فَقَالَ إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تَضَعُ أَجْنِحَتَهَا لِطَالِبِ الْعِلْمِ رِضًا بِمَا يَطْلُبُ. قُلْتُ إِنَّهُ حَكَّ فِى صَدْرِى الْمَسْحُ عَلَى الْخُفَّيْنِ بَعْدَ الْغَائِطِ وَالْبَوْلِ وَكُنْتَ امْرَأً مِنْ أَصْحَابِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَجِئْتُ أَسْأَلُكَ هَلْ سَمِعْتَهُ يَذْكُرُ فِى ذَلِكَ شَيْئًا قَالَ نَعَمْ كَانَ يَأْمُرُنَا إِذَا كُنَّا سَفَرًا أَوْ مُسَافِرِيِنَ أَنْ لاَ نَنْزِعَ خِفَافَنَا ثَلاَثَةَ أَيَّامٍ وَلَيَالِيَهُنَّ إِلاَّ مِنْ جَنَابَةٍ لَكِنْ مِنْ غَائِطٍ وَبَوْلٍ وَنَوْمٍ. فَقُلْتُ هَلْ سَمِعْتَهُ يَذْكُرُ فِى الْهَوَى شَيْئًا قَالَ نَعَمْ كُنَّا مَعَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ فَبَيْنَا نَحْنُ عِنْدَهُ إِذْ نَادَاهُ أَعْرَابِىٌّ بِصَوْتٍ لَهُ جَهْوَرِىٍّ يَا مُحَمَّدُ. فَأَجَابَهُ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَلَى نَحْوٍ مِنْ صَوْتِهِ هَاؤُمُ وَقُلْنَا لَهُ وَيْحَكَ اغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَ فَإِنَّكَ عِنْدَ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- وَقَدْ نُهِيتَ عَنْ هَذَا. فَقَالَ وَاللَّهِ لاَ أَغْضُضُ. قَالَ الأَعْرَابِىُّ الْمَرْءُ يُحِبُّ الْقَوْمَ وَلَمَّا يَلْحَقْ بِهِمْ.

قَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ. فَمَازَالَ يُحَدِّثُنَا حَتَّى ذَكَرَ بَابًا مِنْ قِبَلِ الْمَغْرِبِ مَسِيرَةُ عَرْضِهِ أَوْ يَسِيرُ الرَّاكِبُ فِى عَرْضِهِ أَرْبَعِينَ أَوْ سَبْعِينَ عَامًا قَالَ سُفْيَانُ قِبَلَ الشَّامِ خَلَقَهُ اللَّهُ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ مَفْتُوحًا يَعْنِى لِلتَّوْبَةِ لاَ يُغْلَقُ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ مِنْهُ

Dari Zirr bin Hubaisy, ia berkata: Aku datang menemui Safwan bin Assal radhiyallahu ‘anhu untuk bertanya tentang mengusap khuf. Ia bertanya, “Apa yang membawamu datang, wahai Zirr?”

Aku menjawab, “Untuk mencari ilmu.” Ia berkata, “Sesungguhnya para malaikat membentangkan sayap-sayap mereka bagi penuntut ilmu karena ridha terhadap apa yang ia cari.”

Lalu aku berkata, “Sesungguhnya aku masih memiliki keraguan dalam masalah mengusap khuf setelah buang air besar dan buang air kecil. Engkau adalah salah seorang sahabat Nabi ﷺ, maka aku datang untuk bertanya kepadamu: apakah engkau pernah mendengar beliau menjelaskan hal itu?”

Ia menjawab, “Ya. Rasulullah ﷺ memerintahkan kami apabila sedang bepergian—atau menjadi musafir—agar tidak melepas khuf kami selama tiga hari tiga malam, kecuali karena junub. Adapun karena buang air besar, buang air kecil, atau tidur, maka tidak perlu melepasnya.”

Kemudian aku bertanya lagi, “Apakah engkau pernah mendengar beliau berbicara tentang cinta?”

Ia menjawab, “Ya. Suatu ketika kami bepergian bersama Rasulullah ﷺ. Tiba-tiba seorang Arab Badui memanggil beliau dengan suara yang keras: ‘Wahai Muhammad!’

Rasulullah ﷺ menjawab dengan suara yang hampir sama kerasnya: ‘Kemarilah!’

Aku berkata kepada orang Badui itu, “Celaka engkau! Rendahkanlah suaramu, karena engkau sedang berada di hadapan Nabi ﷺ, padahal engkau telah dilarang melakukan hal itu.”

Orang Badui itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak akan merendahkan suaraku.”

Kemudian ia bertanya: “Seseorang mencintai suatu kaum, tetapi ia belum dapat menyusul amal mereka. Bagaimana keadaannya?”

Nabi ﷺ menjawab: “Seseorang akan bersama orang yang dicintainya pada hari Kiamat.”

Safwan berkata: Beliau terus berbicara kepada kami hingga menyebutkan adanya sebuah pintu di sebelah barat yang lebarnya sejauh perjalanan empat puluh atau tujuh puluh tahun.

Sufyan, salah seorang perawi hadits, berkata: “Pintu itu berada di arah negeri Syam. Allah telah menciptakannya sejak Dia menciptakan langit dan bumi. Pintu itu selalu terbuka untuk taubat dan tidak akan ditutup hingga matahari terbit darinya (dari arah barat).”

(HR. Jami’ at-Tirmidzi no. 3535. Beliau berkata, “Hadits ini hasan sahih.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Musnad Ahmad no. 18095, Sunan an-Nasa’i al-Kubra no. 11114, dan Sunan Ibnu Majah no. 4070).

Kosakata Hadits

  • ما جاء بك: Apa yang membawamu datang? Maksudnya, apa yang mendorongmu untuk datang.
  • ابتغاء العلم: Demi mencari ilmu.
  • تضع أجنحتها: “Membentangkan sayap-sayapnya”; merupakan ungkapan majazi (kiasan) yang menunjukkan bantuan para malaikat kepada penuntut ilmu dan kemudahan yang mereka berikan dalam usahanya.
  • حك في صدري: Timbul keraguan atau kegelisahan dalam hatiku.
  • الغائط: Secara bahasa berarti tempat yang rendah di permukaan bumi. Kemudian digunakan untuk menyebut kotoran yang keluar dari dubur karena kedekatan tempat tersebut dengan perbuatan buang hajat.
  • سفراً: Bentuk jamak dari safir (musafir), sebagaimana shahb merupakan bentuk jamak dari shahib (teman).
  • أو: Menunjukkan keraguan dari perawi, apakah Nabi mengucapkan kata safran atau musafirin.
  • خفافنا: Bentuk jamak dari khuff, yaitu alas kaki dari kulit atau sejenisnya yang menutupi kaki, seperti sepatu.
  • يأمرنا: Perintah dalam hadits ini bermakna kebolehan atau keringanan (rukhsah), bukan kewajiban.
  • الجنابة: Secara bahasa berarti jauh. Secara syariat adalah keadaan yang mewajibkan mandi, baik karena hubungan suami istri maupun keluarnya mani.
  • الهوى: Cinta.
  • أعرابي: Orang Arab Badui, yaitu penduduk padang pasir. Dinisbatkan kepada A’rab untuk membedakannya dari ‘Arabi, yang mencakup orang Arab yang tinggal di pedesaan maupun perkotaan.
  • الجهوري: Bersuara keras dan lantang.
  • نحواً من صوته: Dengan suara yang hampir sama kerasnya seperti suara orang Badui tersebut.
  • هاؤم: Kemarilah, ambillah, atau datanglah ke sini.
  • ويحك: Ungkapan belas kasihan dan rasa prihatin kepada seseorang yang terjerumus ke dalam sesuatu yang sebenarnya tidak pantas menimpanya.
  • اغضض: Rendahkan atau kecilkan.
  • ولما يلحق بهم: Belum mencapai derajat amal mereka secara sempurna.
  • فما زال: Nabi ﷺ terus-menerus.
  • للتوبة: Untuk menerima taubat.

Faedah Hadits

  1. Hadits ini mendorong umat Islam untuk menuntut ilmu dan bertanya kepada para ulama tentang perkara agama yang belum dipahami.
  2. Hadits ini menjadi dalil bolehnya mengusap khuf. Masa mengusap bagi musafir adalah tiga hari tiga malam, sedangkan bagi orang yang mukim satu hari satu malam. Perhitungan waktunya dimulai sejak terjadinya hadas setelah mengenakan khuf.
  3. Syarat-syarat bolehnya mengusap khuf adalah: khuf dalam keadaan suci, dipakai setelah bersuci secara sempurna, menutupi kedua mata kaki, dapat digunakan untuk berjalan sebagaimana lazimnya tanpa mudah rusak.
  4. Mengusap khuf menggantikan membasuh kedua kaki hanya dalam bersuci dari hadas kecil, seperti setelah buang air besar, buang air kecil, atau tidur sebagaimana disebutkan dalam hadits. Adapun pada hadas besar, seperti junub, haid, dan nifas, khuf harus dilepas dan kedua kaki wajib dibasuh ketika mandi wajib.
  5. Hadits ini mengajarkan adab kepada para ulama dan orang-orang saleh, yaitu menjaga sopan santun dan merendahkan suara di majelis ilmu.
  6. Orang yang belum mengetahui adab hendaknya diajari dengan cara yang baik.
  7. Hadits ini menunjukkan akhlak Nabi ﷺ yang penuh kelembutan, kesabaran, dan kebijaksanaan dalam berbicara kepada manusia sesuai dengan tingkat pengetahuan dan pemahaman mereka.
  8. Seorang muslim dianjurkan untuk mencintai, mendekat, dan bergaul dengan orang-orang saleh, serta menjauhi pergaulan dengan orang-orang yang buruk dan berhati-hati agar hatinya tidak terpaut kepada para pelaku maksiat dan kefasikan.
  9. Cinta yang tulus akan mendorong seseorang mengikuti jalan orang yang dicintainya dan taat kepadanya.
  10. Hadits ini membuka pintu harapan dan optimisme, memberikan kabar gembira tentang keselamatan, serta mengajarkan kelembutan dalam memberi nasihat.
  11. Hadits ini juga menunjukkan luasnya rahmat Allah ﷻ, kemudahan yang Dia berikan kepada hamba-hamba-Nya untuk memperoleh hidayah, dan bahwa pintu taubat selalu terbuka. Penyebutan “pintu” dalam hadits bisa merupakan ungkapan tentang terbukanya kesempatan bertaubat, atau bisa pula benar-benar sebuah pintu yang hakikatnya hanya diketahui oleh Allah.

Hadits 8

Matan Hadits dan Terjemah

عَنْ أَبِي سَعِيدِ سَعْدِ بْنِ مَالِكِ بْنِ سِنَانٍ الْخُدْرِيِّ ، عن نَبِيِّ الله ﷺ قال : كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْساً ، فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَم أَهْلِ الْأَرْضِ، فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ ، فَأَتَاهُ فقال : إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وتِسْعِينَ نَفْساً ، فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ ؟ فَقَالَ : لَا ، فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مَائَةً، ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَم أَهْلِ الْأَرْضِ ، فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِم فَقَالَ : إِنَّهُ قَتَلَ مَائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ؟ فَقَالَ : نَعَمْ ، وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَة؟ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا ، فَإِنَّ بِهَا أُنَاساً يَعْبُدُونَ الله تعالى فَاعْبُدِ الله مَعَهُمْ ، وَلا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سُوءٍ ، فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ ، فاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلائِكَةُ الرَّحْمَةِ ومَلائِكَةُ الْعَذَابِ . فقالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ : جَاءَ تَائِباً مُقْبِلاً بِقَلْبِهِ إِلَى اللهِ تعالى، وقالَتْ مَلائِكَةُ الْعَذَابِ : إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْراً قَطُّ، فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٌّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ – أَي حَكَماً – فقال : قيسوا ما بَيْن الأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُو لَهُ، فَقَاسُوا فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إلى الأرْضِ الَّتِي أَرَادَ ، فَقَبَضَتْهُ مَلائِكَةُ الرَّحْمَة

Dari Abu Sa’id Sa’ad bin Malik bin Sinan Al-Khudri radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:

“Pada umat sebelum kalian ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa. Kemudian ia bertanya tentang orang yang paling berilmu di muka bumi. Maka ia ditunjukkan kepada seorang rahib (ahli ibadah). Ia pun mendatanginya dan berkata, ‘Sesungguhnya aku telah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa. Apakah masih ada pintu taubat bagiku?’

Rahib itu menjawab, ‘Tidak ada.’ Maka orang itu membunuhnya, sehingga genaplah jumlah korbannya menjadi seratus orang.

Kemudian ia kembali bertanya tentang orang yang paling berilmu di bumi. Lalu ia ditunjukkan kepada seorang alim. Ia berkata, ‘Sesungguhnya aku telah membunuh seratus jiwa. Apakah masih ada pintu taubat bagiku?’

Orang alim itu menjawab, ‘Ya, tentu ada. Siapa yang dapat menghalangi seseorang dari bertaubat? Berangkatlah menuju negeri anu dan anu, karena di sana terdapat orang-orang yang beribadah kepada Allah. Beribadahlah kepada Allah bersama mereka, dan jangan kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang buruk.’

Maka ia pun berangkat. Ketika telah sampai di pertengahan perjalanan, kematian menjemputnya. Lalu Malaikat Rahmat dan Malaikat Azab berselisih mengenai dirinya.

Malaikat Rahmat berkata, ‘Ia datang dalam keadaan bertaubat dan menghadapkan hatinya kepada Allah.’

Sedangkan Malaikat Azab berkata, ‘Ia belum pernah melakukan satu kebaikan pun.’

Kemudian datanglah seorang malaikat dalam rupa manusia. Mereka menjadikannya sebagai penengah. Ia berkata, ‘Ukurlah jarak antara dua negeri itu. Ke negeri mana ia lebih dekat, maka ia menjadi milik negeri itu.’

Mereka pun mengukurnya dan mendapati bahwa ia lebih dekat kepada negeri yang hendak ditujunya. Maka Malaikat Rahmat pun mencabut ruhnya.”

(Muttafaq ‘alaih: HR. Al-Bukhari no. 3470, Muslim no. 7008—lafaz ini milik Muslim—dan Ahmad no. 11664).

Dalam riwayat lain yang terdapat dalam kitab-kitab sahih disebutkan:

“Ternyata ia lebih dekat kepada negeri orang-orang saleh sejauh satu jengkal, sehingga ia dihitung sebagai penduduk negeri tersebut.”

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Allah mewahyukan kepada negeri yang buruk agar menjauh, dan kepada negeri yang baik agar mendekat. Kemudian Allah berfirman, ‘Ukurlah jarak antara keduanya.’ Setelah diukur, ternyata ia lebih dekat kepada negeri yang baik sejauh satu jengkal, sehingga Allah mengampuninya.”

Dalam riwayat yang lain lagi disebutkan:

“Ia menggerakkan dadanya (berusaha maju) ke arah negeri yang baik.”

Kosakata Hadits

  • راهب (rahib): Orang yang mengasingkan diri dari kesibukan dunia, meninggalkan kenikmatannya, hidup zuhud, menjauh dari manusia, dan sengaja memilih kehidupan yang penuh kesulitan demi beribadah.
  • من يحول: Kalimat tanya yang bermakna penolakan (istifham inkari), yaitu: Siapakah yang dapat menghalangi?
  • بينه: Antara orang yang bertaubat dengan taubatnya.
  • أرض كذا وكذا: Negeri anu dan anu. Dalam riwayat At-Tabarani disebutkan bahwa nama negeri tersebut adalah Bushra, sedangkan negeri asalnya adalah negeri orang-orang kafir.
  • نصف الطريق: Telah mencapai pertengahan perjalanan.
  • الأرضين: Dua negeri, yaitu negeri yang ditinggalkan dan negeri yang hendak dituju.
  • أدنى: Lebih dekat.
  • نأى: Berusaha menggerakkan tubuhnya dengan sekuat tenaga meskipun sedang menghadapi sakaratul maut.

Faedah Hadits

  1. Hadits ini menunjukkan indahnya metode Rasulullah ﷺ dalam memberi nasihat dan bimbingan dengan menggunakan kisah-kisah nyata. Hadits ini juga menunjukkan bolehnya menceritakan kisah umat-umat terdahulu selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.
  2. Jiwa yang masih memiliki kesiapan menerima kebenaran pada akhirnya akan kembali kepada jalan yang lurus, meskipun pernah tersesat oleh hawa nafsu.
  3. Hadits ini menunjukkan keutamaan ilmu. Seorang alim yang sedikit ibadahnya lebih utama daripada ahli ibadah yang jahil, karena orang yang beribadah tanpa ilmu bisa menyesatkan dirinya dan orang lain, sedangkan orang berilmu mendapat petunjuk dengan cahaya ilmunya sehingga bermanfaat bagi dirinya dan orang lain.
  4. Pintu taubat selalu terbuka. Orang yang bertaubat akan diterima taubatnya, betapapun besar dosanya dan betapapun banyak kesalahannya.
  5. Seorang dai atau pembimbing hendaknya memiliki kebijaksanaan dalam menangani manusia, mengetahui cara memperbaiki jiwa mereka, serta menumbuhkan harapan dan optimisme terhadap rahmat Allah.
  6. Hadits ini menjadi dalil diterimanya taubat pembunuh yang membunuh dengan sengaja. Para ulama telah berijma’ tentang hal ini, karena secara lahiriah pembunuhan dalam hadits dilakukan dengan sengaja dan zalim, namun hal itu tidak menghalangi diterimanya taubatnya. Meskipun kisah ini berasal dari syariat umat terdahulu, syariat kita juga menguatkannya melalui firman Allah dalam Surah Al-Furqan: “Kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka akan diganti Allah dengan kebaikan.” Ayat tersebut datang setelah firman-Nya: “Dan mereka tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah kecuali dengan alasan yang benar.”
  7. Namun, diterimanya taubat tidak menggugurkan hukuman pidana. Jika perkara pembunuhan telah diajukan ke pengadilan, maka pelaku tetap dikenai qisas atau hukuman yang berlaku.
  8. Hadits ini menganjurkan menjauhi para pelaku maksiat selama mereka tetap dalam kemaksiatannya, serta mendorong untuk bersahabat dengan orang-orang yang bertakwa, berilmu, dan saleh.
  9. Hadits ini menunjukkan kecintaan Allah kepada hamba-hamba-Nya yang bertaubat. Allah memberitahukan keadaan mereka kepada para malaikat sebagai bentuk kemuliaan bagi para hamba yang bertaubat dan membimbing mereka menuju keselamatan.
  10. Bersungguh-sungguh dan rela menanggung kesulitan demi bergabung dengan orang-orang saleh merupakan bukti ketulusan taubat kepada Allah ﷻ.
  11. Orang yang menceritakan suatu keadaan atau mengutip perkataan yang tidak baik sepatutnya menggunakan bentuk orang ketiga (kata ganti “dia”), bukan menyebut lawan bicara secara langsung. Demikian pula ketika berbicara kepada seseorang tentang hal yang tidak menyenangkan, hendaknya menggunakan ungkapan yang lebih santun. Hal ini tampak dari ucapan dalam hadits: “Sesungguhnya ia telah membunuh…”, “Apakah masih ada taubat baginya?”, dan “Siapa yang dapat menghalanginya?”
  12. Hadits ini juga menunjukkan bahwa para malaikat mampu menjelma dalam bentuk manusia. Selain itu, hadits ini mengisyaratkan kemuliaan manusia, karena malaikat yang menjadi penengah tampil dalam rupa seorang manusia.

Hadits 9

Matan Hadits dan Terjemah

وَعَنْ أَبِي نُجَيْد – بضَمِّ النُّونِ وفتح الجيم – عِمْرَانَ بْنِ الحُصَيْنِ الْخُزَاعِيِّ الهَا ، أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْئَةَ أَتَتْ رسول الله ﷺ وَهِيَ حُبْلَى مِنَ الزِّنى، فقالَتْ : يا رسول الله أَصَبْتُ حَداً فَأَقِمْهُ عَلَيَّ ، فَدَعَا نَبِيُّ الله ﷺ وَليَّها فقالَ: أَحْسِنْ إِلَيْهَا ، فَإِذَا وَضَعَتْ فَأْتِنِي فَفَعَلَ فَأَمَرَ بِهَا نَبِيُّ اللَّهِ ﷺ، فَشُدَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُهَا ، ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَرُجِمَتْ ، ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا . فقالَ لَهُ عُمَرُ : تُصَلِّي عَلَيْهَا يا رسول الله وقَدْ زَنَتْ  َقالَ : لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ المدينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ، وَهَلْ وَجَدْتَ أَفضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بنَفْسِهَا للَّهِ تعالى

Dari Abu Nujaid Imran bin Husain Al-Khuza’i radhiyallahu ‘anhu, bahwa seorang wanita dari suku Juhainah datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan hamil karena zina. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, aku telah melakukan suatu perbuatan yang mengharuskan hukuman had. Maka tegakkanlah hukuman itu atasku.”

Lalu Nabi ﷺ memanggil walinya dan bersabda, “Perlakukanlah dia dengan baik. Apabila ia telah melahirkan, bawalah ia kepadaku.”

Maka wali itu melaksanakan perintah tersebut. Setelah wanita itu melahirkan, Nabi ﷺ memerintahkan agar pakaiannya diikat rapat pada tubuhnya, kemudian beliau memerintahkan agar ia dirajam. Setelah hukuman itu selesai, Nabi ﷺ menyalatkannya.

Lalu Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah engkau menyalatkannya, padahal ia telah berzina?”

Beliau bersabda, “Sungguh, ia telah bertaubat dengan suatu taubat yang seandainya dibagikan kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, niscaya taubat itu mencukupi mereka. Adakah engkau mendapati suatu amalan yang lebih utama daripada ia telah mengorbankan dirinya demi Allah Ta’ala?”

(HR. Sahih Muslim no. 4433 dan Musnad Ahmad no. 19861).

Kosakata Hadits

  • امرأة من جهينة: Seorang wanita dari suku Juhainah. Ia bernama Khaulah binti Khuwailid. Dalam riwayat Sahih Muslim disebutkan berasal dari suku Ghamid, yang merupakan salah satu kabilah dari Juhainah.
  • أصبت حدًّا: Aku telah melakukan perbuatan yang mengharuskan dijatuhi hukuman had.
  • فشدت عليها ثيابها: Pakaiannya diikat rapat agar auratnya tetap tertutup.
  • فقال له عمر: Umar bertanya untuk mengetahui hikmah di balik tindakan Nabi ﷺ, bukan sebagai bentuk pengingkaran.
  • سبعين… لوسعتهم: Seandainya dibagikan kepada tujuh puluh orang yang berdosa, taubat itu cukup untuk menghapus dosa mereka.
  • أفضل: Lebih agung atau lebih utama.
  • جادت بنفسها: Ia mengorbankan dirinya demi mencari keridaan Allah Ta’ala.

Faedah Hadits

  1. Di antara sifat orang beriman adalah merasa sedih dan menyesal ketika terjatuh dalam dosa, serta berusaha menyucikan dirinya dari noda dosa, sekalipun harus menghadapi hukuman yang berat, agar kelak berjumpa dengan Allah dalam keadaan diridai-Nya.
  2. Hukuman yang dijalani di dunia dapat menjadi penghapus dosa apabila disertai penyesalan dan taubat yang sungguh-sungguh.
  3. Hukuman had zina tidak ditegakkan atas wanita hamil hingga ia melahirkan. Jika hukumannya berupa cambuk, pelaksanaannya ditunda sampai ia suci dari nifas. Jika hukumannya berupa rajam, maka ditunda hingga anaknya tidak lagi bergantung kepadanya, meskipun dengan air susu dari wanita lain.

Hadits 10

Matan Hadits dan Terjemah

عَنْ أَنَسٍ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – قَالَ لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

Dari Anas bin Malik, Rasulullah ﷺ bersabda: “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah penuh emas, niscaya ia ingin memiliki dua lembah. Dan tidak ada yang dapat memenuhi mulutnya selain tanah. Namun Allah menerima taubat orang yang bertaubat.” (Muttafaq ‘alaih: HR. Al-Bukhari no. 6436, Muslim no. 2418, dan Ahmad no. 3501).

Kosakata Hadits

  • وادياً: Satu lembah yang penuh dengan emas.
  • لن يملأ جوفه إلا التراب: Tidak ada yang akan menghentikan kerakusannya hingga ia meninggal dunia dan rongga tubuhnya dipenuhi tanah kubur.

Faedah Hadits

  1. Hadits ini menggambarkan besarnya kecenderungan manusia untuk mengumpulkan harta dan berbagai kenikmatan dunia. Sifat ini menjadi tercela apabila menyebabkan seseorang melalaikan ketaatan kepada Allah dan lebih mencintai dunia daripada akhirat.
  2. Allah Ta’ala menerima taubat orang yang bertaubat dari berbagai sifat tercela, termasuk sifat tamak terhadap dunia.

Hadits 11

Matan Hadits dan Terjemah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ لله ، أن رسول الله ﷺ قال : يَضْحَكُ اللَّهُ إِلَى رَجُلَيْنِ يَقْتُلُ أَحَدُهُمَا الآخَرَ يَدْخُلانِ الْجَنَّةَ ، يُقَاتِلُ هُذَا فِي سَبِيلِ اللهِ فَيُقْتَلُ ، ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَى الْقَاتِلِ فَيُسْلِم فَيُسْتَشْهَدُ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda: “Allah tertawa kepada dua orang yang salah satunya membunuh yang lain, namun keduanya masuk surga. Yang satu berperang di jalan Allah lalu terbunuh sebagai syahid. Kemudian Allah menerima taubat pembunuhnya. Ia masuk Islam, lalu berjihad dan gugur sebagai syahid.”

(Muttafaq ‘alaih: HR. Al-Bukhari no. 2826, Muslim no. 4892, dan Ahmad no. 8224).

Kosakata Hadits

  • يضحك: Allah lebih mengetahui hakikat sifat tertawa-Nya. Sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud ialah keridaan Allah, kecintaan-Nya terhadap kedua hamba tersebut, serta pahala yang diberikan kepada keduanya.

Faedah Hadits

  1. Hadits ini menunjukkan kewajiban bertaubat dari setiap dosa, sebesar apa pun dosa tersebut, serta larangan berputus asa dari rahmat Allah Ta’ala.
  2. Islam menghapus dosa-dosa kekafiran yang telah lalu, sedangkan taubat menghapus dosa-dosa yang dilakukan setelah seseorang memeluk Islam.

Hadits 12

Matan Hadits dan Terjemah

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ : إِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا أَذْنَبَ كَانَتْ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فِى قَلْبِهِ فَإِنْ تَابَ وَنَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ صُقِلَ قَلْبُهُ فَإِنْ زَادَ زَادَتْ فَذَلِكَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَهُ اللَّهُ فِى كِتَابِهِ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya apabila seorang mukmin melakukan suatu dosa, maka akan muncul satu titik hitam di dalam hatinya. Jika ia bertaubat, meninggalkan dosa tersebut, dan memohon ampun kepada Allah, maka hatinya akan kembali bersih. Namun jika ia terus menambah dosanya, titik hitam itu pun akan semakin bertambah. Itulah yang dimaksud dengan ‘raan’ (karat) yang disebutkan Allah dalam Kitab-Nya:

‘Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka (dengan karat).’ (QS. Al-Muthaffifin: 14).” (HR. Ibnu Majah no.4385, Tirmidzi no.3654, dan Ibnu Hibban no.930; hasan)

Kosakata Hadits

  • أذنب: Melakukan dosa atau kemaksiatan.
  • نكتة سوداء: Titik hitam, yaitu bekas atau noda maknawi yang muncul pada hati akibat dosa.
  • تاب: Bertaubat kepada Allah dengan memenuhi syarat-syarat taubat.
  • نزع: Berhenti dan meninggalkan perbuatan dosa yang sedang dilakukan.
  • استغفر: Memohon ampun kepada Allah atas dosa yang telah diperbuat.
  • صقل قلبه: Hatinya dipoles, dibersihkan, dan dikembalikan kejernihannya sehingga kembali bercahaya.
  • زاد: Terus menambah dosa dan kemaksiatan.
  • الران: Karat atau lapisan yang menutupi hati sehingga menghalanginya dari menerima kebenaran dan hidayah.
  • ما كانوا يكسبون: Dosa dan maksiat yang terus-menerus mereka lakukan.

Faedah Hadits

  1. Setiap dosa meninggalkan bekas pada hati seorang mukmin. Semakin banyak dosa dilakukan, semakin gelap dan keras hati tersebut.
  2. Taubat yang disertai dengan meninggalkan dosa dan memperbanyak istighfar dapat membersihkan hati dari noda-noda dosa sehingga hati kembali bersinar.
  3. Dosa yang terus dilakukan tanpa taubat akan menumpuk dan membentuk raan, yaitu karat yang menutupi hati sehingga seseorang semakin sulit menerima nasihat, tersentuh oleh ayat-ayat Allah, dan terdorong untuk berbuat kebaikan.
  4. Hadits ini menunjukkan eratnya hubungan antara amal perbuatan dengan kondisi hati. Kebaikan akan menyinari hati, sedangkan kemaksiatan akan menggelapkannya.
  5. Seorang mukmin hendaknya segera bertaubat setiap kali terjatuh dalam dosa dan tidak menunda-nundanya, agar noda hitam pada hati tidak semakin banyak dan berubah menjadi karat yang menghalangi hidayah.
  6. Istighfar bukan sekadar ucapan di lisan, tetapi harus disertai penyesalan yang tulus dan tekad untuk meninggalkan kemaksiatan.
  7. Ayat “Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka (dengan karat).” (QS. Al-Muthaffifin: 14) menjelaskan bahwa penyebab utama tertutupnya hati adalah dosa yang terus-menerus dilakukan tanpa taubat.
  8. Hadits ini menjadi peringatan agar seorang muslim senantiasa menjaga kebersihan hatinya, karena hati yang bersih merupakan sumber keimanan, ketakwaan, dan seluruh amal saleh. Sebaliknya, hati yang dipenuhi karat dosa akan semakin jauh dari petunjuk Allah dan lebih mudah terjerumus ke dalam kemaksiatan yang lebih besar.

Baca juga: Sayyidul Istighfar

Demikian ayat-ayat dan hadits-hadits tentang taubat. Ada hadits Ka’ab bin Malik pada Riyadhush Shalihin yang tidak tercantum pada tulisan ini. Sedangkan hadits terakhir tidak tercantum pada Riyadhus Shalihin. Wallahu a’lam bish shawab. []

SILAKAN BERI TANGGAPAN

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini