Beranda Ilmu Islam Aqidah Ibu yang Berhenti Makan Karena Anak Masuk Islam

Ibu yang Berhenti Makan Karena Anak Masuk Islam

0
Pexels

Orang yang beriman akan diuji karena ini merupakan sunnatullah untuk membuktikan benar tidaknya keimanan seseorang. Bentuk ujian beragam bentuknya, ada berupa kesenangan dan juga berupa kesusahan.

Bagi orang beriman, setiap kesenangan hidup hanya akan meningkatkan rasa syukurnya ke hadirat Allah SWT. dan setiap musibah serta cobaan hanya akan meningkatkan kesabaran dan keimanannya terhadap Allah SWT.

Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman. Jika dia diberi karunia, dia bersyukur dan itu kebaikan baginya. Dan jika dia tertimpa musibah, dia sabar dan tawakal dan itu pun kebaikan baginya.” 

Suatu kali, Saad bin Abi Waqqas pernah berkata, “Aku orang yang sangat berbakti kepada ibuku.”

Saad memang tenar sebagai orang yang sangat hormat dan “sandhika dawuh” kepada ibunya. Hubungan antara anak dan ibu ini membuat banyak orang iri. Harmonis. Penuh cinta kasih sayang.

Hingga suatu hari, Mekah menjadi saksi keislaman Saad. Ibunya, Hammah binti Abi Sufyan segera mengetahui keislaman putranya yang dikasihinya itu. Dari sinilah muncul persoalan, sang ibu tidak sepakat dan tidak merestui status baru anaknya. Ibunya tetap menginginkan Saad mengikuti keyakinan nenek moyangnya.

Sebagai upaya agar Saad mau mengurungkan niatnya. Ibunya meluncurkan ancaman, “Kamu tinggalkan agamamu itu atau aku tidak akan makan dan minum hingga aku mati dan kamu akan dihina manusia sebagai pembunuh ibunya sendiri.”

Pagi itu ibunya benar-benar tidak makan. Ketika malam tiba, tidak sebutir gandum dan setetes air pun yang masuk ke tubuhnya. Saad pun hanya terdiam. Pagi hari kedua, ibunya tetap keukeuh tidak mau makan dan minum. Kondisinya menjadi lemah. Malam itu, Saad yang menyaksikan keadaan ibunya yang tidak memiliki tenaga, masih diam membeku. Memasuki hari ketiga, ibunya masih tidak berubah. Ia tidak menyentuh makanan dan minuman. Keadaannya memprihatinkan.

Barulah pada hari berikutnya, Saad menunjukkan sikapnya. Dengan tutur kata halus, ia berkata, “Ibunda, jika engkau mempunyai seratus nyawa dan nyawa ibu keluar satu per satu, aku tidak akan meninggalkan agamaku ini. Jika ibu mau, makanlah dan jika ibu memilih tidak makan, silakan!”

Melihat kesungguhan Saad, ibunya yang sudah tidak punya daya itu akhirnya mau makan dan minum juga.

Sungguh, untuk mempertahankan kondisi keimanan dalam rangka mencapai ketaqwaan diperlukan istiqomah dan kesungguhan hati (mujahadah). Wallahua’lam.

[Paramuda/ BersamaDakwah]