Beranda Suplemen Renungan Ironisme Kelompok yang Gampang Membid’ahkan

Ironisme Kelompok yang Gampang Membid’ahkan

30
sumber gambar: nsqjuara.com

Ke mana-mana, mereka selalu membawa slogan ‘kembali kepada al-Qur’an al-Karim dan as-Sunnah ash-Shahihah’. Di mana-mana, mereka seakan-akan paling memahami dua petunjuk utama kaum Muslimin ini, lalu dengan amat mudah menjatuhkan vonis bid’ah, sesat, dan label tercela lain kepada siapa saja yang berbeda, tanpa pandang bulu.

Akan menjadi lumrah jika yang dibid’ah dan disesatkan adalah orang awam yang baru kemarin merasakan indahnya Islam. Perkaranya, yang disematkan julukan-julukan tak baik itu sudah lebih dahulu memulai dakwah, memiliki banyak jamaah dari kaum Muslimin, dan masyhur dengan berbagai proyek kebaikannya untuk umat.

Sedangkan mereka, apa karya monumentalnya selain menjelek-jelekan sesama kaum Muslimin?

Mereka berpendapat, berjabat tangan selepas shalat merupakan bid’ah dholalah yang harus dihindari karena berpeluang menjerumuskan kaum Muslimin menuju kesesatan. Anehnya, mereka langsung pergi setelah salam, padahal Nabi mengajarkan agar duduk sejenak-bahkan kalau perlu tidak mengubah posisi duduk-untuk berdizkir dan memohon kebutuhan hidup dunia dan akhirat kepada Allah Ta’ala.

Anehnya lagi, saat mereka membid’ahkan jabat tangan, mereka malah langsung membuka ponsel tepat ketika salam kedua kelar. Apakah ini tidak lebih bid’ah dari berjabat tangan setelah shalat?

Lantaran menghindari jabat tangan setelah shalat pula, mereka langsung mundur, lalu duduk santai sembari menyelonjorkan dua kaki tanpa menghadap ke kiblat, lalu mulutnya komat-komit membaca dzikir. Bukankah Nabi mengajarkan bahwa dzikir lebih utama dibaca dalam kondisi menghadap kiblat dengan posisi duduk yang amat sopan? Apakah selonjor dan menghadap ke arah lain selain kiblat bukan merupakan bid’ah?

Parahnya lagi, ke mana-mana dan di mana-mana, mereka memasarkan sebuah slogan ‘maulid Nabi itu bid’ah’, lengkap dengan tanda seru. Lantas, mereka menghukumi pelakunya sebagai pelaku kesesatan tak terampuni, dan label-label jahat lainnya. Kemudian, mereka juga menyebut jumlah jamaah shalat Subuh yang jauh lebih sedikit dari jumlah hadirin saat maulid.

Lah, bukankah urusan jumlah jamaah shalat Subuh juga persoalan yang harus mereka kelarkan juga? Apakah mereka menutup mata terhadap para penyelenggara maulid yang sudah melakukan berbagai cara untuk mengajak kaum Muslimin mendirikan Subuh berjamaah di masjid dengan mengadakan banyak kajian bakda Subuh lengkap dengan sajian sarapannya?

Ambigunya, ketika mereka membid’ahkan maulid Nabi, pada saat yang sama ikut-ikutan membuat status, bahkan merayakan maulid anak-anak, istri-istri, bahkan sesama kelompoknya dengan mengatakan, “Met milad ya. Moga usianya berkah.”

Emangnya hanya dengan mengganti ‘hari lahir’ dengan ‘milad’, kalian merasa telah bebas dari bid’ah, hah?

Wallahu a’lam. [Pirman/BersamaDakwah]

30 KOMENTAR

  1. Mohon maaf, artikelnya berbau dendam dan hawa nafsu…biarkan saja dibilang bid’ah atau apapun yg penting yakin tdk spt itu, saya lebih suka kita umat islam saling menjaga ukhuwah agar jgn spt buih dilautan yg terombang ambing…malu.
    QS Ali Imran: 103
    Wa’tashimu bihablillahi jami’an wala tafarraq
    Berpeganglah kamu semuanya kepada tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.

    • Asalamualaiqum… saudaraku.. bukan saya membantah.. tapi setelah saya Baca dan pahami ternyata tujuanya dan Niatnya Bukan Dendam tapi Meluruskan dan memberi perbandingan.. Sebab Nabi Kita Muhamad SAW.. selalu menyerukan Kita Untuk Menjaga Lisan Kita.. Maaf sekali lagi Maaf.. Saya yang Buta Ilmu ini .. kalau penjelasan Saya Menyinggung komentar Antum.. Wasalam…..

  2. Sama yang nulis juga suka mengharamkan….ini itu . Bertawaduk saja kan Allah maha tau. Urussn ibadah biar urusan masing2 .klo urusan sosial apalagi seperti teror sarinah harus kita berantas. Setuju..!!!

  3. Wahhh, Tulisannya kontextnya menyalahkan kelompok lain juga. Dan terkesan juga mengada ada.
    Sebaiknya kita berdaqwa, dengan ilmu dan qolbun salim.

  4. umat muslim bukan saatnya lagi meributkan msalah perbedaan pendapat..
    jangan terlalu cepat menjeneralisir thdp klompok tertentu

    be a good moslem.

  5. yg nulis artiketl spertiny sering mndengr kata2 bid’ah2 dalm khdpn shri2nya jd mngkin ini smcam curhat yg didalmnya mngndung emosi sipenulis. sesama islam hrus mngajak sesama kita berbuat baik dan saling mengingatkan kita berbuat baik itu juga prlu mengajak orang lain dan sangt perlu negur orang lain klo ia berbuat salah. kita ini berdoa saja nggak boleh egois cma berdoa untuk diri sndri kita jga hrus berdoa untuk sesama muslim,islam itu agama yg sosial dan toleransi sangat tinggi. klo bid’ah ini itu kita kembalikan ke asal 5 hukum, lgian asal smw prbuatan itu adalh mubah.dia bkal brbh jdi wajib,sunah,makruh,haram, mubah karena suatu sebab, jdi ga semua bid’ah itu haram dan ga boleh d lakukakan.sungguh konyol klo cm ribut tntng msalh bid’ah lbih baik kita ingatin saja itu orang yg sring ngucapin atau kita diamin saja,karena berdebat dengan orang yg bodoh itu sia2 lbh baik kita berdoa supya dia sadar dan kita ga bkal ikut kya dia

  6. Komentar: PENGERTIAN BID’AH MACAM-MACAM BID’AH DAN HUKUM-HUKUMNYA

    Oleh
    Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan

    PENGERTIAN BID’AH

    Bid’ah menurut bahasa, diambil dari bida’ yaitu mengadakan sesuatu tanpa ada contoh. Sebelumnya Allah berfirman.

    Badiiu’ as-samaawaati wal ardli 
    “Artinya : Allah pencipta langit dan bumi” [Al-Baqarah : 117]

    Artinya adalah Allah yang mengadakannya tanpa ada contoh sebelumnya.

    Juga firman Allah.

    Qul maa kuntu bid’an min ar-rusuli
    “Artinya : Katakanlah : ‘Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul”. [Al-Ahqaf : 9].

    Maksudnya adalah : Aku bukanlah orang yang pertama kali datang dengan risalah ini dari Allah Ta’ala kepada hamba-hambanya, bahkan telah banyak sebelumku dari para rasul yang telah mendahuluiku.

    Dan dikatakan juga : “Fulan mengada-adakan bid’ah”, maksudnya : memulai satu cara yang belum ada sebelumnya.

    Dan perbuatan bid’ah itu ada dua bagian :

    [1] Perbuatan bid’ah dalam adat istiadat (kebiasaan) ; seperti adanya penemuan-penemuan baru dibidang IPTEK (juga termasuk didalamnya penyingkapan-penyingkapan ilmu dengan berbagai macam-macamnya). Ini adalah mubah (diperbolehkan) ; karena asal dari semua adat istiadat (kebiasaan) adalah mubah.

    [2] Perbuatan bid’ah di dalam Ad-Dien (Islam) hukumnya haram, karena yang ada dalam dien itu adalah tauqifi (tidak bisa dirubah-rubah) ; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Artinya : Barangsiapa yang mengadakan hal yang baru (berbuat yang baru) di dalam urusan kami ini yang bukan dari urusan tersebut, maka perbuatannya di tolak (tidak diterima)”. Dan di dalam riwayat lain disebutkan : “Artinya : Barangsiapa yang berbuat suatu amalan yang bukan didasarkan urusan kami, maka perbuatannya di tolak”.

    MACAM-MACAM BID’AH

    Bid’ah Dalam Ad-Dien (Islam) Ada Dua Macam :

    [1] Bid’ah qauliyah ‘itiqadiyah : Bid’ah perkataan yang keluar dari keyakinan, seperti ucapan-ucapan orang Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Rafidhah serta semua firqah-firqah (kelompok-kelompok) yang sesat sekaligus keyakinan-keyakinan mereka.

    [2] Bid’ah fil ibadah : Bid’ah dalam ibadah : seperti beribadah kepada Allah dengan apa yang tidak disyari’atkan oleh Allah : dan bid’ah dalam ibadah ini ada beberapa bagian yaitu :

    [a]. Bid’ah yang berhubungan dengan pokok-pokok ibadah : yaitu mengadakan suatu ibadah yang tidak ada dasarnya dalam syari’at Allah Ta’ala, seperti mengerjakan shalat yang tidak disyari’atkan, shiyam yang tidak disyari’atkan, atau mengadakan hari-hari besar yang tidak disyariatkan seperti pesta ulang tahun, kelahiran dan lain sebagainya.

    [b]. Bid’ah yang bentuknya menambah-nambah terhadap ibadah yang disyariatkan, seperti menambah rakaat kelima pada shalat Dhuhur atau shalat Ashar.

    [c]. Bid’ah yang terdapat pada sifat pelaksanaan ibadah. Yaitu menunaikan ibadah yang sifatnya tidak disyari’atkan seperti membaca dzikir-dzikir yang disyariatkan dengan cara berjama’ah dan suara yang keras. Juga seperti membebani diri (memberatkan diri) dalam ibadah sampai keluar dari batas-batas sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    [d]. Bid’ah yang bentuknya menghususkan suatu ibadah yang disari’atkan, tapi tidak dikhususkan oleh syari’at yang ada. Seperti menghususkan hari dan malam nisfu Sya’ban (tanggal 15 bulan Sya’ban) untuk shiyam dan qiyamullail. Memang pada dasarnya shiyam dan qiyamullail itu di syari’atkan, akan tetapi pengkhususannya dengan pembatasan waktu memerlukan suatu dalil.

    HUKUM BID’AH DALAM AD-DIEN

    Segala bentuk bid’ah dalam Ad-Dien hukumnya adalah haram dan sesat, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    “Artinya : Janganlah kamu sekalian mengada-adakan urusan-urusan yang baru, karena sesungguhnya mengadakan hal yang baru adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat”. [Hadits Riwayat Abdu Daud, dan At-Tirmidzi ; hadits hasan shahih].

    Dan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

    “Artinya : Barangsiapa mengadakan hal yang baru yang bukan dari kami maka perbuatannya tertolak”.

    Dan dalam riwayat lain disebutkan :

    “Artinya : Barangsiapa beramal suatu amalan yang tidak didasari oleh urusan kami maka amalannya tertolak”.

    Maka hadits tersebut menunjukkan bahwa segala yang diada-adakan dalam Ad-Dien (Islam) adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat dan tertolak.

    Artinya bahwa bid’ah di dalam ibadah dan aqidah itu hukumnya haram.

  7. Alhamdulillah. Beberapa hari terahir saya mencium aroma keganjilan dari bersamadakwah tapi saya tepis dan khusnudzon kepada admin.
    Sampai ahirnya ada artikel ini dan saya ambil tindakan akan unfollow bersamadakwah.
    Semoga Allah Ta’ala tunjukkan kita menuju jalan yg d ridhoi.

  8. Artikel yg membuka siapa dan bagaimana bersama dakwah sebenarnya. satu telunjuk utk orang 4 jari utk diri anda. thiking about it..!!
    Pahami dulu baru mencela, berilmu dulu baru komen mas!

  9. dakwah itu gak usah senggol sana senggol sini.jadinya permusuhan dan fitnah.dan bisa jadi gak mendapat ridhlo dari Allah.Bersama dakwah ini apa maksudnya senggol sana senggol sini jadi gak simpati .bantahan itu harus pakai ilmu dan dasr yg benar bukan hawa nafsu.dakwah yg santun aja ya ,biar eksis.

  10. Admin bersamadakwah ini kenapa ya..?
    Yang kamu lihat satu orang bersikap begini, satu orang bersikap begitu lalu kamu vonis kelompok itu. Kalau begitu boleh dong saya menilai atau memvonis keluarga kamu atau sekolah kamu atau lingkungan kamu karena berdasarkan kelakuan kamu..?? Boleh doong..!!

  11. Komentar: hai….di tempatku ada GUA MARIA project kristenisasi kelas wahid,,semua pekerja muslim,para warga skitar mndapat program pngembangan masyarat ,dan rahib rahibnya welcome bngt ,,meski sama orang berpeci berjilbab alias wong islam…mereka menggunakan ahlak islami buat mencari simpati warga,,sedang kita wong islam malah sibuk debat dg sesama,sling mnjelekan klompok yg tak spndapat…jajal pada mikir….kesuwun

  12. Ini artikel curhat .. .btw aku pernah mendengar nasehat dari ustd Adi hidayat.kata beliau ciri amal ibadah yg di terimah oleh Alllah adalah setiap ibadah yg kita kerjakan secara bertahap mengalami peningkatan dan selalu merasa ketagihan. Jika kita sdh merasakan demikian isyAllah hati kita tdk akan gelisah atau sakit hati jika di bilang bid’ah ..

  13. Saya jadi teringat dawuh salah satu Habib yang memberikan istilah golongan yg suka men bid’ah kelompok lain adalah golongan PJMM: Persatuan Jenggot Morat Marit

  14. Maaf menerut yang saya tangkap dalam arfikel ini, dimana sekarang banyak yang membid’ahkan yang baik tetapi yg buruk justru mereka kerjakan. Jadi ini bukan suatu emosional. Tetapi nasihat yg lebih tegas

  15. Sebaiknya sih dibantah dengan ilmiah sebagaimana ulama-ulama terdahulu kalau adminnya memang merasa terusik dengan kata Bid’ah karena agama islam agama wahyu Qollalohu, wa QollaRosul wa qolla sahabah.

  16. kelompok yg dimaksud admin disini memang nyata ada, mengaku berpegang teguh dengan Quran & sunnah dengan pemahaman shalafus shalih, tapi ketika mereka menemukan perselisihan diantara para Shalafus shalih tersebut mereka dengan pede mengatakan ambilah pendapat yang paling kuat yang paling sesuai dengan Quran & sunnah. disitu letak kekacauanya, mereka menempatkan diri diposisi lebih tinggi dari para ulama yg sudah jelas2 punya kemampuan berijtihad.

  17. kelompok yg dimaksud admin disini memang nyata ada, mengaku berpegang teguh dengan Quran & sunnah dengan pemahaman shalafus shalih, tapi ketika mereka menemukan perselisihan diantara para Shalafus shalih tersebut mereka dengan pede mengatakan ambilah pendapat yang paling kuat yang paling sesuai dengan Quran & sunnah. disitu letak kekacauanya, mereka menempatkan diri diposisi lebih tinggi dari para ulama yg sudah jelas2 punya kemampuan berijtihad.

  18. memaksakan definisi bid’ah menurut mereka, tanpa mau mendengar pendapat ulama lain. Lalu dengan pedenya menghukumi perbuatan orang lain tanpa mau berdiskusi dengan ulama2 fiqih yang berseberangan pendapat dengan mereka. inikah Islam yang ‘kembali pada Al Qur’an dan Sunnah’???
    yang jadi pertanyaan sejak kapan Islam meninggalkan Al Qur’an dan Sunnah sehingga dirasa perlu slogan itu???

  19. Salafi.. Wahabi… mengaku tidak bermazhab.. mengaku ahlu sunnah wal jamaah yg paling benar, yang lain bukan ahlussunnah tapi ahlul bid’ah . Selalu mengajak kembali kpd Al quran dan As Sunnah, tapi ketika Ayat Suci Alquran di nistakan oleh orang kafir, bukan nya ikut membela, malah mengharamkan orang2 yang ber demo, yg membela agama, kitab suci dan ulama2nya, menuntut supaya si penista agama tsb dihukum. Bagaimana kalian Salafi/Wahabi merasa yg paling benar? Coba di renungkan. Mengapa kalian tidak marah dan tidak ikut membela agama dan Alquran kalian? Mohon maaf ya sebelumya. Afwan.

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.