Beranda Suplemen Khutbah Jumat Khutbah Jumat Ramadhan 1447: Bulan Mustajabahnya Doa

Khutbah Jumat Ramadhan 1447: Bulan Mustajabahnya Doa

0
khutbah jumat ramadhan 1447

Kini kita telah berada di bulan Ramadhan 1447. Selain merupakan bulan puasa dan bulan Al-Qur’an, Ramadhan juga merupakan bulan mustajabahnya doa. Antara lain diisyaratkan dalam Surat Al Baqarah ayat 186 dan hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Oleh karena itu, Khutbah Jumat edisi 2 Ramadhan 1447 bertepatan 20 Februari 2025 ini mengambil tema Bulan Mustajabahnya Doa.

Khutbah Pertama

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا . مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِىَ لَهُ . وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah Shalat Jum’at hafidhakumullah,
Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah yang telah memanjangkan usia kita, mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan 1447 hijriah. Perjumpaan dengan bulan Ramadhan merupakan nikmat besar karena itu artinya Allah memberikan kita kesempatan meraih keutamaan-keutamaan bulan Ramadhan sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

قَدْ جَاءَكُمْ شَهْرُ رَمَضَانَ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ يُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

Telah datang kepada kalian bulan yang penuh berkah, Allah mewajibkan kepada kalian ibadah puasa, dibukakan pintu-pintu surga dan ditutuplah pintu-pintu neraka serta syetan-syetan dibelenggu. di dalamnya terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa yang tidak mendapatkan kebaikannya berarti ia telah benar-benar terhalang (dari kebaikan). (HR. Ahmad; hasan)

Selain keutamaan-keutamaan ini, salah satu keutamaan Ramadhan adalah panjangnya waktu mustajabah untuk berdoa. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَالإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ

Tiga orang yang doanya tidak tertolak: orang yang berpuasa sampai ia berbuka, pemimpin yang adil, dan doa orang yang dizhalimi. (HR. Tirmidzi; hasan)

Juga terisyaratkan dari firman Allah yang Dia letakkan di tengah ayat-ayat tentang puasa:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 186)

Bulan Mustajabahnya Doa

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Surat Al-Baqarah ayat 183 hingga 187 merupakan rangkaian ayat tentang puasa. Di tengah-tengahnya Allah letakkan ayat tentang pengabulan doa ini. Mengisyaratkan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan mustajabahnya doa. Selain waktu-waktu mustajabah pada umumnya seperti sepetiga malam terakhir, antara adzan dan iqamah, serta Jumat ba’da Ashar, khusus pada bulan Ramadhan sejak terbit fajar hingga terbenam matahari adalah waktu mustajabah. Sepanjang waktu puasa adalah saat-saat mustajabah, terutama menjelang berbuka, lebih mustajabah lagi. (Baca: Doa Buka Puasa)

Imam Ibnu Katsir rahimahullan menjelaskan dalam tafsirnya tentang asbabun nuzul ayat ini. Ada seorang Arab Badui yang bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai Rasulullah, apakah Allah itu dekat sehingga kami cukup berbisik saat berdoa ataukah Allah itu jauh sehingga kami harus menyeru saat berdoa?”

Lalu Allah pun menurunkan firman-Nya:

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ

Apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat…

Bagaimana dekatnya Allah Subhanahu wa Ta’ala? Dia sendiri yang menjelaskannya:

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh dirinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (QS. Qaf: 16)

Di antara bentuk kedekatan Allah, Dia mengetahui segala pikiran hamba-Nya ba yang terucap maupun berupa bisikan hati. Dia juga Maha Mengetahui apa yang hamba butuhkan baik mereka meminta secara lugas maupun mengadu dalam hati.

أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.

Baca juga: Ceramah Ramadhan 2026

Di Antara Kaidah Doa

Oleh karena itu, kaidah doa yang pertama adalah kita boleh berdoa dengan meminta secara lugas dan boleh pula doa itu berisi pengakuan dan pengaduan. Mengaku bahwa kita salah dan kekurangan serta mengadukan kebutuhan kita hanya kepada Allah.

Maka kita dapati sebagian doa-doa mustajabah dari para Nabi tidak langsung berisi permintaan tetapi pengakuan dan pengaduan. Misalnya Nabi Yunus ‘alaihis salam. Ketika berada dalam perut ikan di kegelapan lautan dan kegelapan malam, beliau tidak berdoa “Ya Allah keluarkan aku dari perut ikan ini” tetapi beliau mengucapkan:

لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang zalim. (QS. Al-Anbiya’: 87)

Demikian pula Nabi Ayyub ‘alaihis salam. Ketika beliau sakit parah berkepanjangan, dalam satu riwayat 18 tahun, tidak kita dapati dalam Al-Qur’an beliau berdoa “Ya Allah sembuhkan aku” tetapi beliau hanya mengadu:

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَى رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ

(Ingatlah) Ayyub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “(Ya Tuhanku,) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (QS. Al-Anbiya’: 83)

Demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ketika beliau berdakwah di Thaif lalu mendapati perlakuan kasar penduduknya berupa pengusiran. Bahkan kaki beliau sampai berdarah-darah karena  dilempari batu, beliau mengadu kepada Allah:

اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِينَ، وَأَنْتَ رَبِّي، إِلَى مَنْ تَكِلُنِي؟ إِلَى بَعِيدٍ يَتَجَهَّمُنِي؟ أَوْ إِلَى عَدُوٍّ مَلَّكْتَهُ أَمْرِي؟ إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ غَضَبٌ عَلَيَّ فَلَا أُبَالِي

Ya Allah, kepada-Mu aku mengadu kelemahanku, kekurangan daya upayaku, dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Zat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, Engkau adalah Tuhan orang-orang yang tertindas, dan Engkau adalah Tuhanku. Kepada siapakah Engkau menyerahkan diriku? Kepada orang asing yang menyerangku ataukah kepada musuh yang Engkau berikan kekuasaan atas urusanku? Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli.(HR. Thabari)

Bukan berarti tidak boleh meminta secara langsung. Sangat boleh. Karena banyak doa dalam Al-Qur’an dan hadits yang berisi permintaan secara langsung. Namun, boleh pula doa berisi pengakuan dan pengaduan seperti doa Nabi Yunus, Nabi Ayyub, dan Rasulullah tersebut. Bahkan sering kali doa seperti ini lebih mustajabah.

Kedua, boleh meminta dunia maupun akhirat. Namun, jika hanya meminta dunia, di akhirat nanti kita tidak dapat bagian apa-apa.

فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الْآَخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ

Di antara manusia ada yang berdoa, “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,” sedangkan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun. (QS. Al-Baqarah: 200)

Ketiga, selain mendoakan diri sendiri kita juga perlu mendoakan orang lain. Baik itu keluarga kita, anak-anak kita, maupun saudara-saudara kita dalam keimanan. Dan sering kali yang lebih mustajabah adalah ketika kita mendoakan orang lain sepengetahuannya karena malaikat akan mendoakan kita dengan doa yang semisalnya.

مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَدْعُو لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ إِلاَّ قَالَ الْمَلَكُ وَلَكَ بِمِثْلٍ

Tidak ada seorang hamba Muslim yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan saudaranya tersebut (secara rahasia), melainkan malaikat akan berkata: ‘Dan bagimu pun mendapatkan yang semisalnya.'” (HR. Muslim)

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ . أَقُوْلُ قَوْلِ هَذَا وَاسْتَغْفِرُوْاللَّهَ الْعَظِيْمِ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ . أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Jamaah Jum’at hafidhakumullah,
Bulan Ramadhan bulan mustajabahnya doa. Maka, marikita perbanyak doa dan munajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Bukan hanya meminta kebaikan dunia tetapi juga kebaikan akhirat. Bukan hanya untuk kita sendiri tetapi juga untuk pasangan hidup kita, anak-anak kita, orang tua kita, keluarga kita, dan saudara-saudara kita.

Pada khutbah yang kedua ini, marilah kita berdoa semoga Allah mengistiqamahkan kita. Semoga Allah memudahkan kita bersiap menyambut Ramadhan dengan persiapan ruhiyah, fikriyah, jasadiyah, maliyah, dan a’iliyah. Sehingga kita bisa optimal menjalankan ibadah di bulan suci Ramadhan, hingga mendapatkan ridha dan rahmat-Nya, serta Allah memasukkan kita bersama seluruh keluarga kita ke surga-Nya.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ صَلَّيْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللَّهُمَّ باَرِكْ عَلىَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِ مُحَمَّدٍ كَماَ باَرَكْتَ عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىَ آلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنـَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ. رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آَمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ . رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ. اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ . رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

SILAKAN BERI TANGGAPAN

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini