Beranda Ilmu Islam Al Quran Tiga Istilah Penting dalam Ilmu Tajwid yang Jarang Diketahui

Tiga Istilah Penting dalam Ilmu Tajwid yang Jarang Diketahui

pinterest

Mengucapkan setiap huruf dari makhraj atau tempat keluarnya huruf serta member haq dan mustahaq dari sifat-sifatnya atau yang sering kita kenal dengan tajwid, memiliki tiga istilah penting di dalamnya.

Tiga istilah penting dalam ilmu tajwid antara lain qiraah, riwayat dan jalur.  Adapun penjelasan masing-masing sebagai berikut:

1. Qiraah

Istilah qiraah digunakan untuk menerangkan suatu jenis bacaan yang dinisbatkan kepada salah satu imam qiraah yang tujuh dan yang sepuluh.Adapun topiknya tentang kaifiyat (tata cara) melafazhkan bacaan Al-Qur’ an sesuai apa yang ditalaqqikan (diambil) dengan musyafahah (langsung dari lisan ke lisan) yang sanadnya bersambung hingga ke Rasulullah SAW.

Sepuluh imam tersebut adalah Nafi, Ibnu Katsir, Abu Amr al-Bashri, Ibnu Amir, Ashim, Hamzah, al-Kisa’I, Abu Ja’far al-Madani, Ya’qub al-Hadhrami dan Khalaf al-Baghdadi.

Adapun imam yang tujuh adalah Nafi, Ibnu Katsir, Abu Amr Al-Bashri, Ibnu Amir, Ashim, Hamzah dan al-Kisa’i.

Ini terkait ungkapan yang masyhur di antara para qari dan penuntut ilmu, seperti ungkapan mereka; “Qiraah Ashim”, “Qiraah Nafi” dan seterusnya. Yang mereka maksudkan adalah penisbatan qiraah itu kepada para imam tersebut.

Dan perlu diketahui bahwa bukan mereka yang membuat atau mengarang-ngarang Qiraah. Mereka hanya menyampaikan apa yang diambil dari generasi sebelumnya sampai bersambung kepada Rasulullah.

2. Riwayat

Istilah ini digunakan untuk menerangkan perihal penisbatan ulama yang meriwayatkan qiraah yang diambil dari salah satu imam yang tujuh atau yang sepuluh. Periwayatan tersebut diambil berdasarkan kaifiyat (tata cara) qiraah mereka dalam melafazhkan bacaan Al-Quran.

Setiap imam memiliki dua perawi yang meriwayatkan qiraahnya, seperti ungkapan mereka yaitu; riwayat Hafsh dari Imam Ashim, riwayat Su’bah dari Imam Ashim, riwayat Warsy dari Imam Nafi dan seterusnya.

3. Jalur

Istilah ini digunakan untuk menerangkan apa-apa yang dinisbatkan kepada yang menukil dari perawi. Seperti ungkapan mereka:

Riwayat Hafsh qiraat Ashim dari jalur Asy Syathibiyah
Riwayat Hash qiraat Ashim dari jalur Raudhatul Hufadz
Riwayat Warsy qiraat Nafi’ dari jalur al-Azraq.