Beranda Tazkiyah Fadhilah 5 Amalan Bulan Muharram dan Tanggal Waktunya di Tahun 1442 Hijiryah

5 Amalan Bulan Muharram dan Tanggal Waktunya di Tahun 1442 Hijiryah

Amalan bulan muharram
ilustrasi (pinterest)

Kita telah memasuki bulan Muharram 1442 Hijriyah. Tak hanya puasa asyura, banyak amalan bulan Muharram dalam hadits dengan berbagai keutamaan (fadhilah). Apa saja dan tanggal berapa pada tahun 1442 ini?

1. Memperbanyak Puasa Sunnah

Salah satu amalan sunnah pada bulan Muharram adalah memperbanyak puasa. Sebab puasa sunnah paling utama adalah puasa sunnah pada bulan ini sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَفْضَلُ الصِّيَامِ بَعْدَ رَمَضَانَ شَهْرُ اللَّهِ الْمُحَرَّمُ

Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah (berpuasa) di bulan Allah, yakni Muharam. (HR. Muslim)

Sebagian ulama menjelaskan, puasa sunnah apa pun menjadi paling utama pada bulan ini. Baik itu Puasa Senin Kamis, Puasa Ayyamul Bidh, Puasa Daud maupun puasa lainnya.

Waktu Puasa Senin Kamis pada bulan Muharram 1442 Hijriyah jatuh pada tanggal:

  • Kamis, 1 Muharram 1442 bertepatan dengan 20 Agustus 2020
  • Senin, 5 Muharram 1442 bertepatan dengan 24 Agustus 2020
  • Kamis, 8 Muharram 1442 bertepatan dengan 27 Agustus 2020
  • Senin, 12 Muharram 1442 bertepatan dengan 31 Agustus 2020
  • Kamis, 15 Muharram 1442 bertepatan dengan 3 September 2020
  • Senin, 19 Muharram 1442 bertepatan dengan 7 September 2020
  • Kamis, 22 Muharram 1442 bertepatan dengan 10 September 2020
  • Senin, 26 Muharram 1442 bertepatan dengan 14 September 2020

Waktu Puasa Ayyalu Bidh pada bulan Muharram 1442 Hijriyah jatuh pada tanggal:

  • Selasa, 13 Muharram 1442 bertepatan dengan 1 September 2020
  • Rabu, 14 Muharram 1442 bertepatan dengan 2 September 2020
  • Kamis, 15 Muharram 1442 bertepatan dengan 3 September 2020

Sedangkan Ibnu Rajab mengisyaratkan, puasa yang dimaksud adalah puasa sunnah mutlak, bukan puasa sunnah muqayyad. Umar, Aisyah dan Abu Tholhah termasuk para shahabat yang banyak berpuasa di bulan-bulan haram termasuk bulan Muharram.

2. Puasa Tasu’a

Yaitu puasa pada tanggal 9 Muharram. Rasulullah berazam untuk mengerjakannya, meskipun beliau tidak sempat menunaikan karena wafat sebelum waktu tersebut tiba.

Para sahabat kemudian menjalankan Puasa Tasu’a seperti keinginan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

إذا كان العام المقبل صمنا يوم التاسع

“Apabila tahun depan (kita masih diberi umur panjang), kita akan berpuasa pada hari tasu’a (kesembilan).” (HR. As-Suyuthi; shahih)

Pada tahun ini, jadwal Puasa Tasu’a jatuh pada hari Jum’at, tanggal 28 Agustus 2020.

3. Puasa Asyura

Inilah amalan bulan Muharram yang paling utama dengan keutamaan luar biasa. Puasa Asyura juga merupakan sunnah terbaik pada bulan ini. Yaitu puasa pada tanggal 10 Muharram.

Keutamaan Puasa Asyura, ia bisa menghapus dosa setahun sebelumnya. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

Rasulullah ditanya mengenai puasa asyura, beliau menjawab, “ia bisa menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim)

Pada tahun ini, jadwal Puasa Asyura jatuh pada hari Sabtu, tanggal 29 Agustus 2020.

4. Menyenangkan Keluarga

Amalan bulan Muharram keempat adalah menyenangkan keluarga, khususnya pada hari asyura. Yakni dengan memberikan hadiah kepada anak istri, membantu istri, dan sebagainya.

Dalam Fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq membuat judul khusus التوسعة يوم عاشوراء (Bagaimana merayakan hari Asyura). Sayyid Sabiq mencantumkan hadits ini di bawah judul tersebut:

مَنْ وَسَّعَ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

“Barangsiapa memberi kelapangan bagi dirinya dan bagi keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan memberi kelapangan baginya sepanjang tahun itu” (HR. Baihaqi)

Sayyid Sabiq kemudian menjelaskan, “Hadits tersebut memiliki riwayat lain, tetapi semuanya lemah. Hanya saja apabila digabungkan antara satu dengan lainnya, maka bertambah kuat sebagaimana yang telah dikatakan Sakhawi.”

Hari asyura pada tahun ini jatuh pada hari pada hari Sabtu, tanggal 29 Agustus 2020.

5. Membantu orang lain

Amalan bulan Muharram berikutnya adalah membantu orang lain dan meringankan beban mereka. Khususnya yang membutuhkan, termasuk anak yatim.

Dalilnya sama dengan poin empat di atas. Juga tambahan hadits-hadits berikut ini, yang Sayyid Sabiq menyebutnya sebagai penguat hadits memberikan kelapangan kepada keluarga:

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي سَنَتِهِ كُلِّهَا

“Barangsiapa memberi kelapangan bagi keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan melapangkannya di keseluruhan tahun itu.” (HR. Thabrani dan Hakim)

مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ لَمْ يَزَلْ فِي سَعَةٍ سَائِرَ سَنَتِهِ

“Barangsiapa memberi kelapangan bagi keluarganya pada hari Asyura, maka ia takkan kesulitan di waktu lain sepanjang tahun itu.” (HR. Thabrani)

مَنْ وَسَّعَ عَلَى أَهْلِهِ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَسَّعَ اللَّهُ عَلَيْهِ سَائِرَ سَنَتِهِ

“Barangsiapa memberi kelapangan bagi keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan memberi kelapangan baginya sepanjang tahun itu.” (HR. Baihaqi)

Ada pun yang menyebut hari asyura sebagai lebaran anak yatim, mereka mendasarkan pada hadits yang terdapat pada kitab Tanbighul Ghafilin.

من مسح يده على رأس يتيم يوم عاشوراء رفع الله تعالى بكل شعرة درجة

“Siapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim pada hari Asyura, maka Allah akan mengangkat derajatnya, dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat.”

Namun hadits tersebut dhaif, bahkan sebagian ulama mengatakan hadits tersebut maudhu’ (palsu).

Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI KH Cholil Nafis menjelaskan, lebaran yatim pada hari Asyura hanyalah sekedar momentum saja untuk memotivasi akhlak.

Menyantuni anak yatim merupakan amalan sunnah berpahala besar. Bisa dilakukan kapan saja. Salah satu keutamaannya sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

أَنَا وَكَافلُ اليَتِيمِ في الجَنَّةِ هَكَذا

“Aku dan orang yang menyantuni anak yatim berada di surga seperti ini.” (HR. Ibnu Hibban dalam Shahihnya. Juga Imam Bukhari dalam Adabul Mufrod)

Rasulullah mensabdakan itu sambil mengisyaratkan kedekatan jari telunjuk dan jari tengah. Wallaahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.