Beranda Ilmu Islam Hadits Hadits Arbain Nawawi 23: Hakikat Perbuatan Manusia

Hadits Arbain Nawawi 23: Hakikat Perbuatan Manusia

hadits arbain nawawi 23 hakikat perbuatan manusia
ilustrasi (istockphoto)

Sungguh beruntung menjadi seorang muslim. Semua ibadahnya memiliki keutamaan. Bahkan seluruh perbuatan baiknya mendatangkan pahala. Hadits Arbain Nawawi 23 menjelaskan hakikat perbuatan manusia tersebut.

Arbain Nawawi (الأربعين النووية) adalah kitab Imam An Nawawi rahimahullah yang menyusun kumpulan hadits pilihan. Jumlahnya hanya 42 hadits, tetapi di dalamnya terkandung pokok-pokok ajaran Islam.

Arbain Nawawi ke-23 dan Artinya

عَنْ أَبِى مَالِكٍ الْحَارِثِ بْنِ عَاصِمٍ الْأَشْعَرِىِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلأُ الْمِيزَانَ. وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلآنِ – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ وَالصَّلاَةُ نُورٌ وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

Dari Abu Malik Al Harits bin ‘Ashim Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Bersuci itu bagian dari iman. Ucapan Alhamdulillah memperberat timbangan (kebaikan). Ucapan Subhanallah dan Alhamdulillah memenuhi ruangan antara langit dan bumi. Shalat adalah cahaya. Sedekah adalah bukti nyata. Sabar adalah pelita. Dan Al-Qur’an adalah hujjah yang membela atau menuntutmu. Semua orang berusaha. Ia pertaruhkan dirinya. Maka ada yang untung dan ada yang merugi. (HR. Muslim)

hadits arbain nawawi 23

Penjelasan Hadits

Imam Muslim meriwayatkan hadits ini dari Abu Malik Al Harits radhiyallahu ‘anhu. Shahabat yang nama aslinya adalah Ka’ab bin Ashim ini berasal dari kabilah Asy’ar, suku terkenal di Yaman, sehingga di belakangnya tersemat Al Asy’ari.

Abu Malik Al Harits meriwayatkan 27 hadits dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Termasuk hadits mimbar cahaya orang yang saling mencintai karena iman. Beliau wafat pada masa pemerintahan Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu setelah terkena wabah (tha’un).

Selain Imam Muslim dalam Shahih, Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits ini dalam Musnad-nya dan Imam Ad Darimi meriwayatkan dalam Sunan-nya.

Kata ath thuhur (الطهور)  artinya adalah bersuci. Yakni menyucikan diri dari hadats serta menyucikan diri, pakaian, dan tempat dari najis. Betapa pentingnya ath thuhur sehingga hampir semua kitab fiqih memulai dengan pembahasan thaharah. Ada pula yang mengartikan ath thuhur sebagai wudhu.

Syathru (شطر) artinya setengah atau sebagian. Maka bagi yang selama ini menyukai maqalah an nadhafatu minal iman, jika ingin mengetengahkan hadits tentang pentingnya menjaga kebersihan, ath tahuru syathrul iman inilah hadits shahih.

Al Mizan (الميزان) dalam hadits ini maksudnya adalah sisi timbangan amal kebaikan. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَهُوَ فِي عِيشَةٍ رَاضِيَةٍ

Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. (QS. Al Qari’ah: 6-7)

Nur (نور) artinya adalah cahaya. Syaikh Mushtafa Dieb Al Bugha dalam Al Wafi menjelaskan, Ash Shalatu nuurun (الصلاة نور) maksudnya shalat dapat membimbing kepada perbuatan-perbuatan baik yang lain.

Burhan (برهان) artinya bukti nyata. Yaitu bukti yang menunjukkan benar tidaknya keimanan. Sedekah menjadi salah satu bukti nyata keimanan. Di antara bukti keimanan seseorang adalah suka bersedekah.

Dliyaa’un (ضياء) artinya cahaya terang. Ash Shabru dliyaa’un (الصبر ضياء) maksudnya dengan kesabaran, seseorang lebih terbimbing dalam kebenaran dan mudah melalui kesulitan.

Yaghdzuu (يغذو) artinya berangkat di pagi hari. Dari arti ini muncul makna berusaha atau bergegas berbuat.

Baai’un nafsah (بائع نفسه) artinya menjual dirinya. Bisa bermakna positif yaitu menjual diri kepada Allah dengan mentaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Bisa pula bermakna negatif yaitu menjual diri kepada syetan dan hawa nafsu dengan bergelimang kekufuran dan kemaksiatan.

Mu’tiquha (معتقاه) artinya adalah membebaskannya. Yaitu membebaskannya dari kehinaan di dunia dan kesengsaraan di akhirat. Sedangkan muubiquha (موبقها) artinya adalah membinasakannya. Yaitu membinasakan diri sendiri dengan siksa di akhirat nanti.

Kandungan Hadits dan Pelajaran Penting

Hadits ini mengandung banyak pelajaran penting. Mulai dari keutamaan-keutamaan amal hingga konsekuensi atas amal perbuatan. Berikut ini beberapa poin utama yang bisa kita ambil dari hadits ke-23 Arbain Nawawi ini:

1. Bersuci Setengah dari Iman

Rasulullah mensabdakan salah satu keutamaan thaharah:

الطُّهُورُ شَطْرُ الإِيمَانِ

Bersuci itu setengah dari iman

Ada tiga penafsiran terkait hadits ini. Pertama, thaharah adalah setengah dari iman. Iman membersihkan jiwa dari kotoran-kotoran maknawi seperti syirik dan nifak. Sedangkan thaharah membersihkan badan dari kotoran-kotoran nyata.

Iman menghapus dosa-dosa besar dan dosa-dosa kecil di masa lalu. Sedangkan thaharah, khususnya wudhu, menghapus dosa kecil. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ خَرَجَتْ خَطَايَاهُ مِنْ جَسَدِهِ حَتَّى تَخْرُجَ مِنْ تَحْتِ أَظْفَارِهِ

Barangsiapa berwudhu dan menyempurnakan wudhunya, maka dosa-dosanya akan keluar dari badannya, sampai-sampai keluar dari bawah kuku-kukunya. (HR. Muslim)

Kedua, thaharah adalah setengah dari shalat. Sebab thaharah adalah syarat sah shalat. Sedangkan syarat suatu perbuatan merupakan setengah dari perbuatan tersebut. Juga ada ayat yang menyebut shalat sebagai iman. Yakni firman-Nya:

وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ

Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu (shalatmu ke Baitul Maqdis). (QS. Al Baqarah: 143)

Ketiga, membersihkan hati adalah setengah dari iman. Sebagaimana penjelasan Imam Ghazali yang menafsirkan thuhur pada hadits ini sebagai bersihnya hati dari segala dendam, hasad, dan penyakit hati lainnya.

Ketiga penafsiran ini sebenarnya tidak saling bertentangan. Setengah dari iman bukan berarti benar-benar separuhnya tetapi bisa sebagiannya, sebagaimana penjelasan Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim. Setengah dari shalat juga merupakan sebagian dari iman. Dan thaharah tidaklah cukup membersihkan badan dari hadats dan najis melainkan juga harus membersihkan hati dari penyakit-penyakit hati.

2. Keutamaan Dzikir

Hadits Arbain Nawawi 23 ini juga menunjukkan keutamaan dzikir dengan membaca kalimat-kalimat thayyibah. Khususnya ucapan tasbih dan hamdalah.

وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلأُ الْمِيزَانَ

Ucapan Alhamdulillah memperberat timbangan (kebaikan).

Di akhirat nanti, saat yaumul mizan, amal manusia akan ditimbang. Siapa yang berat timbangan kebaikannya, ia akan masuk surga. Sebaliknya, siapa yang ringan timbangan kebaikannya (kalah oleh amal keburukan), ia akan masuk neraka. Sebagaimana tafsir Surat Al Qariah.

Ucapan alhamdulillah memperberat timbangan kebaikan tersebut. Bahkan jika diawali dengan ucapan tasbih, keduanya akan memenuhi langit dan bumi.

وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلآنِ – أَوْ تَمْلأُ – مَا بَيْنَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ

Ucapan Subhanallah dan Alhamdulillah memenuhi ruangan antara langit dan bumi.

Maka perbanyaklah berdzikir dengan membaca kalimat thayyibah seperti tasbih dan hamdalah. Selain mendapatkan ketenangan hati di dunia, kita akan mendapatkan pahala besar dan keutamaan agung di akhirat kelak.

3. Shalat adalah Cahaya

Dalam hadits Arbain Nawawi nomor 23 ini, Rasulullah juga menyebut salah satu keutamaan shalat.

وَالصَّلاَةُ نُورٌ

Shalat adalah cahaya.

Shalat merupakan tiang agama. Rukun Islam yang menjadi pembeda antara mukmin dengan orang kafir. Salah satu keutamaannya, shalat adalah cahaya. Syaikh Musthafa Dieb Al Bugha menjelaskan, maksudnya adalah cahaya batin yang menerangi jalan hidayah dan kebenaran. Maka ia pun lebih terbimbing sehingga terhalang dari kemaksiatan dan kemungkaran.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ

Dirikanlah shalat. Sesungguhnya sholat itu mencegah dari yang keji dan munkar… (QS. Al Ankabut: 45)

Sedangkan di akhirat nanti, shalat akan menjelma menjadi cahaya di wajahnya. Apalagi mereka yang tidak hanya shalat lima waktu tetapi juga mendawamkan shalat sunnah terutama sholat tahajud.

4. Sedekah adalah Bukti Keimanan

Shalat dan sedekah merupakan satu paket ibadah. Yang satu langsung kepada Allah, yang kedua melalui pemberian kepada sesama manusia. Yang satu dengan penghambaan diri, yang kedua dengan berbagi materi. Dalam Al-Qur’an, banyak sekali ayat yang merangkai shalat dengan zakat. Dan zakat merupakan sedekah wajib.

Rasulullah menyebutkan salah satu keutamaan sedekah dalam hadits ke-23 Arbain Nawawi ini.

وَالصَّدَقَةُ بُرْهَانٌ

Sedekah adalah bukti nyata.

Yakni bukti nyata atas keimanan. Sebagaimana sedekah sendiri berasal dari kata kata shadaqa (صدق) yang artinya benar. Orang yang gemar bersedekah adalah orang yang benar pengakuan imannya.

Kita pun melihat, karakter orang yang benar-benar beriman di antaranya adalah menginfakkan sebagian hartanya.

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

(yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. (QS. Al Anfal: 3)

5. Sabar adalah Pelita

Berikutnya, Rasulullah juga mensabdakan salah satu keutamaan sabar.

وَالصَّبْرُ ضِيَاءٌ

Sabar adalah pelita.

Dliyaa’un (ضياء) adalah cahaya terang yang umumya berasal dari benda yang panas. Misalnya matahari atau pelita. Sedangkan bulan tidak termasuk dliya’.

Kesabaran adalah dliya’ karena di samping sulit untuk diwujudkan, ia juga akan membawa pada keterbimbingan dalam kebenaran dan mudah melalui kesulitan. Tidaklah seseorang bisa berada dalam ketaatan dan menjauhi kemaksiatan kecuali dengan kesabaran. Demikian pula, tidaklah seseorang bisa melewati musibah dengan baik kecuali dengan kesabaran.

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ . الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.” (QS. Al Baqarah: 155-156)

Bahkan, dengan sabar, seseorang akan mendapatkan kebersamaan Allah (ma’iyatullah) dan pahala tanpa batas.

6. Al-Qur’an adalah Hujjah

Berikutnya, Rasulullah mensabdakan Al-Qur’an adalah hujjah.

وَالْقُرْآنُ حُجَّةٌ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ

Dan Al-Qur’an adalah hujjah yang membela atau menuntutmu.

Hujjah adalah argumentasi. Hujjah ada dua yakni hujjatul laka (hujjah bagimu) yaitu yang membelamu) dan hujjatun ‘alaika (hujjah bagimu) yaitu yang menuntutmu.

Ketika kita menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan pedoman, mengamalkan isinya, maka Al-Qur’an akan membela kita di hadapan pengadilan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Namun jika kita menyimpang dari Al-Qur’an apalagi mendustakannya, Al-Qur’an akan menuntut kita di akhirat kelak.

7. Perbuatan yang Memerdekakan Diri

Rasulullah kemudian menutup sabdanya pada hadits Arbain Nawawi 23 ini dengan menjelaskan hakikat perbuatan manusia. Bahwa meskipun semua manusia berusaha dalam kehidupannya, namun ada usaha dan perbuatan yang memerdekakan dan ada yang membinasakan diri.

كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

Semua orang berusaha. Ia pertaruhkan dirinya. Maka ada yang untung dan ada yang merugi.

Ada manusia yang mengisi pagi hingga malamnya dalam ketaatan. Amal-amal itulah yang akan membebaskannya dari kehinaan di dunia dan kesengsaraan di akhirat. Di antaranya adalah amal-amal yang keutamaannya telah Rasulullah jelaskan. Yakni bersuci, berdzikir, shalat, sedekah, sabar, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman.

8. Perbuatan yang Membinasakan Diri

Kebalikannya, muubiquha (موبقها) adalah membinasakan diri. Yaitu membinasakan diri sendiri dengan siksa di akhirat nanti. Ini adalah perbuatan-perbuatan yang berkebalikan dari poin sebelumnya. Kedurhakaan, enggan bersuci, lalai, meninggalkan shalat, bakhil, suka marah, hingga mendustakan Al-Qur’an.

Imam An Nawawi menjelaskan bagian akhir hadits ini dengan singkat dan padat.

كُلُّ النَّاسِ يَغْدُو فَبَائِعٌ نَفْسَهُ فَمُعْتِقُهَا أَوْ مُوبِقُهَا

“Maknanya adalah setiap orang berusaha sendiri-sendiri. Oleh karena itu, di antara mereka ada yang menjual (mengabdikan) dirinya kepada Allah dengan menaati-Nya sehingga ia pun dibebaskan-Nya dari azab neraka. Sebaliknya, di antara mereka ada yang menjual (mengabdikan) dirinya kepada setan dan hawa nafsu sehingga ia pun akan dibinasakan,” tulis Imam An Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim.

Semoga kita semua bisa mengamalkan hadits ke-23 Arbain Nawawi ini. Sehingga kita istiqamah dalam ibadah, mendapatkan fadhilahnya, serta terjaga dalam amal yang memerdekakan diri dari kehinaan dunia dan siksa neraka. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.