Beranda Dasar Islam Al Quran Surat Al-Waqiah Ayat 22-23: Arti dan Tafsir

Surat Al-Waqiah Ayat 22-23: Arti dan Tafsir

0
surat al waqiah ayat 22-23

Surat Al-Waqiah ayat 22-23 ayat tentang bidadari, bagian dari nikmat yang Allah berikan kepada penduduk surga. Berikut ini tulisan Arab dan Latin, arti, dan tafsirnya.

Surat Al-Waqiah termasuk surat makkiyah. Ia memiliki 96 ayat. Nama surat Al-Waqiah yang artinya “hari kiamat” terambil dari ayat pertama.

Ayat 22-23 ini juga makkiyah. Dua ayat ini menjelaskan salah satu nikmat yang Allah berikan kepada penduduk surga berupa bidadari bermata jeli laksana mutiara yang tersembunyi.

Surat Al-Waqiah Ayat 22-23 dan Artinya

وَحُورٌ عِينٌ (٢٢) كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ (٢٣)

(Wa huurun ‘iin. Ka’amtsaalil lu’lu’il maknuun)

Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli, laksana mutiara yang tersimpan dengan baik. (QS. Al-Waqiah: 22-23)

Baca juga: Ayat Kursi

Tafsir Al-Waqiah Ayat 22-23

Tafsir Surat Al-Waqiah ayat 22-23 ini kami sarikan dari Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Fi Zhilalil Quran, Tafsir Al Azhar, Tafsir Al Munir, dan Tafsir Al Misbah. Harapannya, agar bisa terhimpun banyak faedah yang kaya khazanah tetapi ringkas.

Bidadari Bermata Jeli

Surat Al-Waqiah ayat 22 menjelaskan tentang bidadari dengan istilah hurun ‘in.

وَحُورٌ عِينٌ

Dan (di dalam surga itu) ada bidadari-bidadari yang bermata jeli.

Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir menjelaskan, kata hurun (حور) adalah bentuk jamak dari ahwar (أحور) dan haura’ (حوراء) yang berarti perempuan yang warna hitam dan putih matanya sangat kontras. Sedangkan kata ‘iin (عين) merupakan jamak dari ‘aina’ (عيناء) dan ‘a’yan (عأين) yang berarti besar, lebar, indah, nan elok.

“Mereka (penghuni surga) juga memperoleh bidadari-bidadari yang putih dan bersih, bermata jeli, dan elok,” tulis Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir.

Menurut Tafsir Al-Mishbah, kata hurun (حور) adalah bentuk jamak dari haura’ (حوراء). Menurut Ar-Raghib Al-Ashfahani, hurun adalah tampaknya sedikit keputihan pada mata di sela kehitamannya, dalam arti yang putih sangat putih dan yang hitam sangat hitam. Hurun juga bisa bermakna bulat, dan bisa bermakna sipit. Sedangkan kata ‘iin (عين) merupakan jamak dari ‘aina’ (عيناء) dan ‘ain (عين) yang berarti bermata besar dan indah.

“Lebih jauh, dengan merujuk makna-makna kebahasaan di atas, kita dapat berkata bahwa makhluk yang menyertai penghuni surga atau bidadari ini bisa jadi dalam pengertian hakiki adalah makhluk bermata lebar dan bulat atau sipit sesuai dengan apa yang penghuni surga dambakan,” tulis Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah

Makna kedua menurut Quraish Shihab adalah makna majazi. Yakni mata mereka sipit dalam arti pandangannya terbatas hanya tertuju kepada pasangannya atau selalu terbuka untuk memandang penuh perhatian kepada pasangannya itu.

Baca juga: Surat Maryam 30-35

Sifat Bidadari

Surat Al-Waqiah ayat 23 memperjelas tentang sifat bidadari.

كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ

laksana mutiara yang tersimpan dengan baik.

Menurut Syaikh Wahbah Az-Zuhaili, dalam kalimat ini ada tasybiih mursal mujmal yang dibuang yakni wajhusy syabah (titik perserupaan)-nya. Sehingga maknanya adalah:

كَأَمْثَالِ اللُّؤْلُؤِ الْمَكْنُونِ فِي بَيَاضِهِ وَصَفَائِه

laksana mutiara yang tersimpan dengan baik dalam hal putih dan bersihnya.

“Bidadari-bidadari ini sangat cantik, berkulit putih bersih dan jernih laksana mutiara yang tersimpan dan masih perawan yang belum tersentuh oleh tangan,” lanjut Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam Tafsir Al-Munir.

“Yakni penampilan mereka seakan-akan seperti mutiara dalam putih dan jernihnya,” tulis Ibnu Ktasir dalam tafsirnya.

Sedangkan menurut Sayyid Qutb, mutiara yang tersimpan berarti mutiara yang terpelihara, yang tidak tersentuh dan tidak terlihat. Sehingga, ia tidak kumal karena sentuhan dan bernoda karena pandangan khianat.

“Ungkapan ini sebagai kiasan dari makna psikologis dan spiritual yang lembut ihwal bidadari yang lebar matanya,” tulis Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an.

Baca juga: Surat Al Kahfi Ayat 1-10

Kesimpulan

Surat Al-Waqi’ah ayat 22 dan 23 menyajikan gambaran keindahan bidadari surga melalui pilihan kata yang sangat puitis dan bermakna dalam. Istilah hurun ‘in merujuk pada bidadari yang memiliki mata yang sangat kontras antara putih dan hitamnya, yang secara hakiki menggambarkan bentuk mata yang besar, indah, dan elok.

Namun, di balik keindahan fisik tersebut, Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah juga melihatnya secara majazi, di mana mata tersebut bermakna pandangan yang hanya tertuju penuh perhatian kepada pasangannya masing-masing.

Keindahan ini semakin dipertegas dengan perumpamaan al-lu’lu’ul maknun, yakni laksana mutiara yang tersimpan rapat di dalam kerangnya. Para mufasir, termasuk Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dan Ibnu Katsir, menekankan bahwa perumpamaan ini merujuk pada kesempurnaan fisik berupa kulit yang putih bersih, bening, dan jernih (fi bayaadhihi wa shafaa’ihi).

Lebih dari sekadar warna, Sayyid Qutb menambahkan dimensi psikologis dan spiritual di mana sifat “tersimpan” tersebut mengisyaratkan kesucian yang terjaga; mereka adalah sosok yang belum pernah tersentuh dan tidak pernah ternoda oleh pandangan yang tidak berhak, sehingga keindahan dan kehormatan mereka tetap utuh serta istimewa bagi para penghuni surga. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

SILAKAN BERI TANGGAPAN

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini