Home Suplemen Opini Kisah Sedih Iman yang Pesek

Kisah Sedih Iman yang Pesek

5557
3
Ilustrasi by Rodion Kutsaev on Unsplash

Yang pesek di sini bukan tentang bagian tubuh, yang pesek di sini adalah iman yang terkikis, tergradasi karena lumpur kekufuran.

Si Jahil menyebut dirinya tak menghina fisik siapapun. Namun dalam sebuah tayangan menyebut dirinya seperti anjing yang pesek.

Si Jahil menyebut tak berani menghina siapapun. Namun menelanjangi makna menutup aurat dengan urat otaknya. Seolah-olah menjalani kewajiban adalah beban yang menyesakkan. Seolah menanggalkan sebuah kewajiban adalah kebebasan dan tidak munafik.

Si Jahil menyebut dirinya tidak jahat, namun diam-diam menyeret pengikutnya ke kubangan pemikiran berlandas perasaan-perasaan. Berbuat jahat dengan sebuah drama.

Ustadz Abdul Shomad mengatakan bersikap sombong kepada orang yang sombong adalah sedekah. Jika kita tawadhu di hadapan orang sombong maka akan menyebabkan dirinya terus-menerus berada dalam kesesatan. Namun, jika kita bersikap “sombong” maka ia akan sadar. Imam Syafii berkata; “Bersikaplah sombong kepada orang sombong sebanyak dua kali.

Sombong itu adalah menolak kebenaran dan mengiyakan kejahiliyahan. Apalagi ditepuktangani oleh khalayak ramai, makin sombonglah itu yang memiliki iman yang pesek.

Menghina fisik barangkali bukanlah laku yang bagus, namun menghina ajaran Tuhan dan menelanjangi di depan khalayak juga sangat kerdil. Lebih kerdil.

Iman yang pesek karena terlalu banyak melanggar aturan Tuhan. Naik iman karena ketaatan, turun karena kemaksiatan. Baik kemaksiatan yang sesaat atau yang berkelanjutan layaknya tayangan hiburan.

Tidak sepakat dengan menghina fisik, namun masih rajin mengolok-olok orang yang berpotensi jenggotan dan memiliki jidat hitam. Mengandaikan layaknya kambing atau unta dengan kata-kata.

Wahai pemilik iman yang pesek, ingatlah satu kata; konsistensi. Inilah tantangan utama iman. Bahasa wahyunya adalah istiqomah. Kata Nabi, ‘Katakan, aku beriman kepada Allah, lalu istiqomahlah!’

Banyak orang tidak mampu membedakan antara kebahagiaan dan kenikmatan sehingga mereka mencari kebahagian lewat kenikmatan. Lewat saluran hiburan, atau drama kepalsuan. Ketika kenikmatan habis, dada mereka sempit. Padahal dengan iman kebahagiaan akan terwujud, walau tanpa kenikmatan.

Iman itu soal keyakinan, bukan mengandalkan dan membesarkan perasaan. Jangan sampai kita besar pesek daripada tiang (agama).

Wallahu’ alam [@paramuda/BersamaDakwah]

SHARE

3 KOMENTAR

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here