Beranda Kisah-Sejarah Sirah Nabawiyah Dakwah Sembunyi-Sembunyi Hasilkan 40 Assabiqunal Awwalun

Dakwah Sembunyi-Sembunyi Hasilkan 40 Assabiqunal Awwalun

Dakwah sembunyi-sembunyi
ilustrasi (pixabay)

Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerima wahyu pertama, masa kenabian dimulai. Lalu beliaupun memulai dakwahnya begitu turun wahyu kedua, Surat Al Muddatsir. Dakwah sembunyi-sembunyi.

يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ (1) قُمْ فَأَنْذِرْ (2) وَرَبَّكَ فَكَبِّرْ (3) وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ (4) وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ (5) وَلَا تَمْنُنْ تَسْتَكْثِرُ (6) وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ

Hai orang yang berselimut, bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Tuhanmu agungkanlah! dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Tuhanmu, bersabarlah. (QS. Al Muddatsir: 1-7)

Sebagian ulama mengatakan, ketika turun Surat Al Alaq di gua Hira, Rasulullah diangkat menjadi Nabi. Ketika turun Surat Al Muddatsir ini, beliau diangkat menjadi Rasul.

Tahapan Dakwah Rasulullah

Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfury dalam Ar Rahiqul Makhtum membagi masa dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdasarkan periodenya sebagai berikut:

  1. Periode Mekkah (± 13 tahun)
  2. Dakwah sembunyi-sembunyi
  3. Dakwah terang-terangan
  4. Dakwah di luar Makkah
  5. Periode Madinah (± 10 tahun)
  6. Peletakan dasar masyarakat Islam dan konsolidasi dakwah
  7. Perdamaian dengan kafir Quraisy dan ekspansi dakwah di luar Madinah
  8. Kemenangan dan berbondong-bondongnya manusia masuk Islam

Sedangkan Syaikh Mahmud Al Misri dalam Sirah Rasulullah dan Syaikh Said Ramadhan Al Buthi dalam Fiqhus Sirah membagi dakwah Rasulullah dalam empat tahap:

  1. Dakwah sembunyi-sembunyi
  2. Dakwah terang-terangan hanya dengan lisan
  3. Dakwah terang-terangan disertai peperangan untuk membela diri
  4. Dakwah terang-terangan disertai peperangan untuk memerangi pihak yang menghalangi dakwah

Ada pula ulama lain yang membagi tahapan dakwah Rasulullah menjadi tiga bagian:

  1. Sirriyatud da’wah wa sirriyatut tanzhim (Dakwahnya rahasia, strukturnya juga rahasia)
  2. Jahriyatud da’wah wa sirriyatut tanzhim (Dakwahnya terbuka, strukturnya rahasia)
  3. Jahriyatud da’wah wa jahriyatut tanzhim (Dakwahnya terbuka, strukturnya juga terbuka)

Dakwah Sembunyi-Sembunyi

Setelah turunnya Surat Al Muddatsir, Rasulullah segera memulai dakwah Islam secara sembunyi-sembunyi. Beliau mengajak orang-orang terdekat untuk masuk Islam. Mereka yang didakwahi Rasulullah langsung menyambut seruan beliau karena telah mengenal dengan baik betapa tingginya reputasi beliau dan betapa agungnya akhlak beliau.

Orang-orang pertama yang masuk Islam setelah didakwahi Rasulullah adalah:

  1. Khadijah (55 tahun), istri Rasulullah
  2. Ali bin Abu Thalib (8 tahun), keponakan Rasulullah yang diasuh dan tinggal di rumah beliau
  3. Zaid bin Haritsah (20 tahun), pembantu Rasulullah
  4. Abu Bakar Ash Shiddiq (37 tahun), sahabat karib Rasulullah
  5. Anak-anak Rasulullah; Zainab, Ummu Kultsum, Fatimah dan Ruqayyah

Abu Bakar sangat bersemangat dalam berdakwah. Setelah masuk Islam, ia segera mendakwahi teman-temannya hingga banyak yang masuk Islam. Antara lain:

  1. Utsman bin Affan (34 tahun)
  2. Abdurrahman bin Auf (30 tahun)
  3. Sa’ad bin Abi Waqash (17 tahun)
  4. Thalhah bin Ubaidillah (13 tahun)
  5. Zubair bin Awwam (12 tahun)

Setelah itu, sejumlah orang menyusul mereka masuk Islam. Hingga menurut Ibnu Hisyam, jumlah assabiqunal awwalun itu mencapai 40 orang lebih.

  1. Bilal bin Rabah (sekitar 30 tahun)
  2. Abu Ubaidah bin Jarah (27 tahun)
  3. Arqam bin Abi Arqam (16 tahun)
  4. Abu Salamah Abdullah bin Abdul Asad (sekitar 30 tahun)
  5. Utsman bin Mazhun berusia (30 tahun)
  6. Qudamah bin Mazhun (19 tahun)
  7. Abdullah bin Mazhun (17 tahun)
  8. Ubaidah bin Al-Harits (50 tahun)
  9. Sa’id bin Zaid (< 20 tahun)
  10. Khabab bin Al-Art (sekitar 20 tahun)
  11. Abdullah bin Mas’ud (14 tahun)
  12. Mas’ud bin Rabi’ah (17 tahun)
  13. Ja’far bin Abu Thalib (18 tahun)
  14. Shuhaib ar-Rumi (< 20 tahun)
  15. Thulaib bin Umair (sekitar 20 tahun)
  16. Saib bin Mazhun (sekitar 20 tahun)
  17. Amir bin Fuhairah (23 tahun)
  18. Mush’ab bin Umair (24 tahun)
  19. Miqdad bin Al-Aswad (24 tahun)
  20. Abdullah bin Jahsy (25 tahun)
  21. Utbah bin Ghazwan (27 tahun)
  22. Abu Hudzaifah bin Utbah (sekitar 30 tahun)
  23. ‘Ayash bin Rabi’ah (sekitar 30 tahun)
  24. ‘Amir bin Rabi’ah (sekitar 30 tahun)
  25. Na’im bin Abdullah (sekitar 30 tahun)
  26. Ammar bin Yasir (sekitar 30 tahun)
  27. Yasir berusia (sekitar 50 tahun)
  28. Para wanita seperti Sumayyah, Fatimah binti Khatab, dll.

Dakwah sembunyi-sembunyi ini berjalan selama tiga tahun dan mendapatkan 40 hingga 50 orang assabiqunal awwalun. Merekalah sahabat nabi yang paling awal masuk Islam. Mayoritas mereka adalah pemuda.

Syaikh Muhammad Ali Ash Shalabi menyebutkan, dari jumlah itu hanya 13 orang yang berasal dari kaum miskin dan dhuafa. Mayoritas assabiqunal awwalun berasal dari kalangan bangsawan dan orang-orang terpandang.

Aqidah, Tazkiyah dan Ibadah

Selain mengokohkan aqidah dan tazkiyah, di antara wahyu yang pertama turun adalah perintah shalat. Namun shalatnya belum shalat lima waktu, melainkan shalat pagi dan petang hari.

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِبْكَارِ

“Dan bertasbihlah seraya memuji Rabbmu pada waktu pagi dan petang.” (QS. Al Mu’min: 55)

Syaikh Shafiyurrahman menjelaskan, Jibril mengajak Rasulullah ke lembah dan mengajari cara wudhu dan sholat. Lalu Rasulullah mengajarkan kepada Khadijah dan para sahabat. Ketika tiba waktu sholat, mereka sholat sembunyi-sembunyi, bahkan pergi ke lembah agar tidak ketahuan orang lain.

Quraisy Mulai Mendengar Secara Global

Setelah melihat kejadian di sana-sini, orang-orang Quraisy mulai mendengar lamat-lamat adanya dakwah Islam. Namun mereka belum begitu perhatian. Mereka mengira Muhammad hanya peduli spiritual sebagaimana Amr bin Naufal dan Qus bin Saidah.

Mereka mendengar adanya ajaran yang memurnikan iman kepada Allah, beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukannya dengan siapapun, menyucikan jiwa serta berbuat baik kepada sesama. Namun tahun-tahun pertama itu mereka anggap gerakan spiritual semata. Dakwah sembunyi-sembunyi membuat informasi yang mereka dapatkan juga terbatas. Dan karenanya, mereka masih belum menaruh perhatian besar.

Hikmah Dakwah Sembunyi-Sembunyi

Syaikh Ramadhan Al Buthi dan ulama lainnya menjelaskan, secara default, dakwah itu bersifat terbuka. Namun di saat dakwah baru merintis dan masih lemah, dakwah sembunyi-sembunyi membawa banyak hikmah.

Jika dakwah langsung terang-terangan dan terbuka, orang-orang kafir Quraisy akan langsung memusuhi dakwah secara frontal dan menghancurkannya sebelum sempat berkembang. Dakwah sembunyi-sembunyi membuat mereka tidak tahu siapa saja yang sudah Rasulullah dakwahi. Bahkan mereka tidak tahu secara jelas apa yang Rasulullah dakwahkan.

Strategi dakwah ini bukti kecerdasan Rasulullah yang dibimbing Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah tidak takut resiko dakwah karena sejak awal beliau sudah diperintah untuk sabar. Beliau tahu resiko dakwah dan beliau tidak takut mati.

Dakwah sembunyi-sembunyi bukan karena Rasulullah takut tetapi karena Rasulullah menginginkan dakwah ini bersemi. Beliau tidak ingin dakwah yang baru disemai ini lalu dicerabut hinga mati. Di samping beliau juga ingin orang-orang dhuafa yang mengikutinya terlindungi. Setidaknya di tahun-tahun awal rintisan dakwah ini. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

> Sirah Nabawiyah Sebelumnya: Wahyu Pertama

> Sirah Nabawiyah berikutnya: Dakwah Terang-Terangan

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.