Beranda Dasar Islam Fiqih Puasa Syawal 6 Hari: Niat, Keutamaan, Waktu, dan Manfaatnya

Puasa Syawal 6 Hari: Niat, Keutamaan, Waktu, dan Manfaatnya

0
puasa syawal

Puasa Syawal adalah ibadah sunnah istimewa usai Idul Fitri. Bagaimana niat puasa syawal dan tata caranya? Apa keutamaan dan manfaatnya?

Banyak pertanyaan lain seputar puasa syawal. Misalnya, apakah harus qadha’ Ramadhan dulu? Apakah harus berturut-turut? Dan sebagainya. Insya Allah artikel ini menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Pengertian dan Hukum

Puasa syawal adalah puasa enam hari di bulan Syawal, setelah idul fitri. Yakni mulai tanggal 2 Syawal karena pada idul fitri 1 Syawal, haram berpuasa.

Hukum puasa syawal adalah sunnah muakkadah, yaitu sunnah yang sangat dianjurkan. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun. (HR. Muslim)

Maka, semestinya kita tidak ketinggalan puasa sunnah muakkadah yang sangat luar biasa ini. Kita upayakan agar bisa menjalaninya. Semoga Allah menerima dan menganugerahkan keutamaannya.

Baca juga: Puasa Asyura

Waktu Puasa Syawal

Puasa Syawal disyariatkan enam hari di bulan Syawal. Waktunya mulai tanggal 2 Syawal. Yakni sehari setelah idul fitri. Adapun saat idul fitri (1 Syawal), haram berpuasa.

Lantas, muncul pertanyaan yang sering beredar di masyarakat. Apakah puasa ini harus mulai tanggal 2 Syawal? Apakah harus berturut-turut setiap hari?

Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan bahwa menurut pendapat Imam Ahmad, boleh puasa Syawal secara berurutan, boleh pula tidak berurutan. Dan, yang berurutan tidaklah lebih utama daripada yang tidak berurutan.

Sedangkan menurut mazhab Syafi’i dan Hanafi, puasa Syawal secara berurutan sejak tanggal 2 Syawal hingga 7 Syawal lebih utama daripada tidak berurutan.

Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu menjelaskan, boleh mengerjakan puasa Syawal secara terpisah. Tidak harus berurutan. Namun, yang lebih afdhal (utama) adalah mengerjakannya secara berurutan dan langsung setelah idulfitri. Yakni tanggal 2 hingga 7 Syawal. Sebab hal itu berarti menyegerakan ibadah.

Jadi, tidak ada mazhab yang tidak memperbolehkan puasa ini di hari lain selain tanggal 2 sampai 7 Syawal. Yang penting masih berada di bulan Syawal.

Namun, hendaknya tidak mengerjakan puasa ini khusus di hari Jum’at tanpa mengiringinya dengan puasa di hari Kamis atau Sabtu karena adanya larangan Rasulullah dalam riwayat Ibnu Majah. Para ulama menjelaskan bahwa larangan itu menegaskan makruhnya puasa di hari Jum’at tanpa mengiringinya dengan puasa di hari Kamis atau Sabtu.

Baca juga: Puasa Arafah

Tanggal Puasa Syawal 2024

Seperti penjelasan di atas, waktu puasa ini mulai tanggal 2 Syawal. Yang paling utama adalah tanggal 2-7 Syawal, boleh pula tanggal lain selama masih di bulan Syawal.

Alhamdulillah, idul fitri 1 Syawal 1445 hijirah ini tidak ada perbedaan. Baik Pemerintah, NU, maupun Muhammadiyah serentak beridul fitri pada hari Rabu, 10 April 2024.

Oleh karena itu, puasa Syawal tahun ini mulainya adalah hari Kamis, 11 April 2024. Bagi yang berurutan, puasanya mulai Kamis-Rabu, 11-17 April 2024. Sedangkan yang puasanya tidak berurutan, paling lambat adalah Rabu, 8 Mei 2024 bertepatan dengan 29 Syawal 1445. Sebab, bulan Syawal tahun ini hanya 29 hari.

Niat Puasa Syawal

niat puasa syawal

Semua ulama sepakat bahwa niat tempatnya di hati. Tidak ada keharusan melafazkan niat karena melafazkan niat bukanlah syarat.

Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan, niat adalah pekerjaan hati dan tidak ada sangkut pautnya dengan lisan. Seseorang yang makan sahur dengan maksud akan berpuasa syawal, berarti ia telah niat puasa syawal. Bahkan, jika ia tidak makan sahur lalu paginya bermaksud berpuasa syawal, ini juga termasuk niat yang sah.

Sedangkan Syaikh Wahbah Az Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu menjelaskan, jumhur ulama mensunnahkan melafazkan niat dalam rangka membantu hati menghadirkan niat. Namun, menurut mazhab Maliki, yang lebih utama adalah tidak melafazkan niat karena tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Bagi yang berpendapat melafazkan niat, berikut ini lafadz niat puasa Syawal dalam tulisan Arab, tulisan Latin, dan artinya:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ سِتَّةٍ مِنْ شَوَّالٍ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالٰى

(Nawaitu shouma ghodin ‘an sittatin min syawwaalinn sunnatan lillaahi ta’aalaa)

Artinya:
Aku niat puasa sunnah enam hari Syawal pada esok hari karena Allah Ta’ala

Baca juga: Niat Puasa Senin Kamis

Tata Cara Puasa Syawal

Tata cara puasa Syawal sama dengan tata cara puasa lainnya secara umum. Yang membedakan hanyalah niatnya.

Jadi secara ringkas, tata cara puasa Syawal sebagai berikut:

1. Niat Puasa Syawal

Niat puasa syawal boleh pada malam hari, boleh pada waktu makan sahur hingga terbit fajar. Bahkan, boleh pada pagi hari jika terlupa atau kesiangan, karena ini merupakan puasa sunnah.

Hal ini berbeda dengan puasa Ramadhan yang niatnya harus di malam hari. Terakhir di waktu fajar. Tidak sah puasa Ramadhan jika niat puasa Ramadhan setelah terbit fajar.

2. Makan sahur

Makan sahur ini hukumnya sunnah. Yakni sebelum terbit fajar, dan lebih sunnah lagi jika pada akhir malam menjelang fajar. Namun, tidak makan sahur pun puasa tetap sah. Misalnya, karena terlambat bangun.

3. Menahan diri dari hal yang membatalkan puasa

Yakni menahan dari makan, minum, berhubungan, dan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar hingga tenggelamnya matahari.

Meskipun sudah niat puasa syawal, tetapi kemudian makan atau minum dengan sengaja di siang hari, otomatis puasanya batal. Yang juga penting menjadi perhatian, selama menjalankan puasa, hindari hal-hal yang bisa menghilangkan pahala puasa. Misalnya berkata dusta, ghibah, dan bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

4. Buka puasa

Sunnah menyegerakan berbuka puasa ketika matahari terbenam, yakni bersamaan dengan masuknya waktu Maghrib.

Baca juga: Doa Buka Puasa

Keutamaan Puasa Syawal

Puasa Syawal memiliki keutamaan yang luar biasa. Yakni seperti berpuasa setahun penuh. Sebagaimana sabda Rasulullah dalam beberapa hadits shahih:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun. (HR. Muslim)

مَنْ صَامَ سِتَّةَ أَيَّامٍ بَعْدَ الْفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ

Barangsiapa berpuasa enam hari setelah Idul Fitri, maka dia seperti berpuasa setahun penuh. (HR. Ibnu Majah; shahih)

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ بِسِتٍّ مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصَوْمِ الدَّهْرِ

Barangsiapa berpuasa Ramadhan, lalu mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, ia seperti puasa setahun. (HR. Ibnu Majah; shahih)

Baca juga: Doa Sahur

Haruskah Qadha Puasa Ramadhan Dahulu?

Pertanyaan lain yang muncul seputar fiqih puasa ini adalah, apakah puasa Syawal harus qadha puasa Ramadhan dulu? Pertanyaan ini umumnya muncul dari para muslimah.

Seperti kita tahu, secara umum muslimah pasti memiliki udzur saat Ramadhan yang membuatnya tidak boleh berpuasa yakni datangnya haid. Karenanya muncul pertanyaan, apakah puasa Syawal harus menunggu qadha puasa Ramadhan dahulu? Apakah boleh puasa syawal dahulu agar mendapatkan keutamaannya?

Dalam hal ini ada dua pendapat. Mazhab Hanbali berpendapat, tidak boleh berpuasa sunnah sebelum qadha’ puasa Ramadhan. Yang wajib harus didahulukan daripada yang sunnah. Qadha puasa Ramadhan harus diselesaikan baru menjalankan puasa sunnah.

Salah seorang ulama Hambali, Ibnu Rajab menambahkan, meskipun boleh menjalankan puasa sunnah ini sebelum qadha puasa Ramadhan selesai, orang itu tidak bisa mendapatkan keutamaan seperti puasa setahun penuh. Sebab redaksi hadits riwayat Imam Muslim berbunyi:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun. (HR. Muslim)

Keutamaan seperti puasa setahun itu untuk orang yang “tsumma atba’ahu” (kemudian mengikutinya) dengan puasa enam hari di bulan Syawal. Sedangkan orang yang belum qadha puasa Ramadhan belum bisa dikatakan telah berpuasa Ramadhan.

Pendapat kedua, jumhur ulama menyatakan boleh puasa sunnah sebelum qadha puasa Ramadhan. Sedangkan mengenai apakah keutamaan puasa Syawal seperti puasa setahun penuh, sebagian ulama berpendapat seseorang bisa mendapatkan keutamaan tersebut meskipun belum selesai qadha puasa Ramadhan.

Di antara hujjahnya, orang yang terhalang beberapa hari puasa Ramadhan karena haid, ia tetap bisa disebut telah berpuasa Ramadhan. Selain itu, puasa Syawal telah ditentukan waktunya yang terbatas di bulan Syawal sedangkan qadha Ramadhan tidak hanya terbatas di bulan Syawal.

Yang paling ideal, dengan mengkompromikan dua pendapat di atas, sebaiknya mengqadha’ puasa Ramadhan terlebih dahulu lalu mengerjakan puasa sunnah di bulan Syawal sehingga keutamaannya pun bisa didapat. Apalagi jika haidnya hanya beberapa hari.

Baca juga: Puasa Tasua

Manfaat Puasa Syawal

Keutamaan puasa syawal sebagaimana penjelasan di atas merupakan keistimewaan puasa ini. Bagaimana tidak, hanya dengan menambahkan enam hari, puasa Ramadhan dan puasa syawal ini pahalanya seperti puasa setahun penuh.

Adakah di antara kita yang bisa puasa setahun penuh? Kalaupun bisa, itupun terlarang. Sebab puasa sunnah tertinggi adalah puasa Daud. Karenanya sangat penting niat puasa syawal dan mengerjakannya.

Selain keutamaan yang luar biasa tersebut, puasa Syawal juga memiliki manfaat secara medis. Yakni memperpanjang waktu penyehatan pencernaan. Ketika idulfitri, umumnya banyak orang yang tadinya telah menjaga kesehatan pencernaannya tiba-tiba kembali banyak makan.

Orang yang tidak puasa, ia terus berada pada pola lama tersebut. Namun, bagi yang mengerjakan puasa syawal, polanya dikembalikan ke pola yang lebih sehat. Waktu istirahat bagi pencernaan kembali lebih lama seperti puasa Ramadhan. Sehingga ia menjadi lebih sehat.

Manfaat lainnya adalah terkait pengelolaan emosi dan tazkiyatun nafs. Orang yang mengerjakan puasa syawal, ia akan terlatih lebih lama dalam mengelola emosi dan membersihkan jiwanya (tazkiyatun nafs). Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.