Home Ilmu Islam Fiqih Shalat Gerhana Bulan; Tata Cara, Niat, Doa dan Khutbah

Shalat Gerhana Bulan; Tata Cara, Niat, Doa dan Khutbah

63042
52
shalat gerhana bulan
ilustrasi gerhana bulan (Pinterest)

Shalat gerhana bulan atau shalat khusuf disyariatkan saat terjadinya gerhana bulan. Apa hukumnya, bagaimana tata caranya, adakah doa khusus dan contoh khutbah dari Rasulullah? Berikut ini pembahasannya.

Hukum Shalat Gerhana

Gerhana merupakan salah satu tanda kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ketika terjadi gerhana matahari atau gerhana bulan, Islam mensyariatkan shalat gerhana.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَمِنْ آَيَاتِهِ اللَّيْلُ وَالنَّهَارُ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ لَا تَسْجُدُوا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوا لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَهُنَّ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya, jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. Fushilat: 37)

Syaikh Wahbah az Zuhaili menjelaskan, yakni melaksanakan shalat ketika terjadi gerhana.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda mengenai gerhana dan shalat gerhana:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَافْزَعُوا لِلصَّلاَةِ

“Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Oleh karena itu, jika kau menyaksikan gerhana bergegaslah untuk mengerjakan shalat.” (HR. Muslim)

Dari ayat dan hadits tersebut serta hadits lainnya, para ulama menjelaskan bahwa shalat gerhana hukumnya sunnah muakkad (sunnah yang sangat dianjurkan) baik untuk laki-laki maupun untuk perempuan.

Baca juga: shalat witir

Tata Cara Shalat Gerhana Bulan

Shalat gerhana bulan boleh dilakukan sendiri-sendiri, boleh pula dilakukan secara berjama’ah, dengan khutbah atau tanpa khutbah.

Namun, berjamaah di Masjid yang ditempati shalat Jumat lebih utama karena dulu Rasulullah mengerjakannya secara berjamaah di Masjid. Imam mengeraskan bacaannya (surat Al Fatihah dan surat lainnya) dan ada khutbah setelah shalat gerhana.

Shalat gerhana bulan dikerjakan dua rakaat, dalam setiap rakaat dua kali ruku’. Bunda Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan:

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- جَهَرَ فِى صَلاَةِ الْخُسُوفِ بِقِرَاءَتِهِ فَصَلَّى أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ فِى رَكْعَتَيْنِ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengeraskan bacaannya saat shalat gerhana bulan, beliau shalat empat kali ruku’ dan empat kali sujud. (HR. Bukhari)

Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah menjelaskan, sebelum shalat gerhana dimulai, hendaklah muadzin mengumandangkan lafadz “ash shalaatu jaami’ah.”

Ringkasan Tata Cara

Secara ringkas, berikut ini tata cara shalat gerhana bulan:

1. Niat

2. Takbiratul Ihram

3. Membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya
Disunnahkan surat yang panjang dan dibaca jahr (keras) oleh imam.

4. Ruku’
Disunnahkan waktu ruku’ lama, seperti waktu berdiri.

5. Berdiri lagi kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya.
Disunnahkan lebih pendek daripada sebelumnya.

6. Ruku’ lagi
Disunnahkan waktunya lebih pendek dari ruku’ pertama.

7. I’tidal

8. Sujud

9. Duduk di antara dua sujud

10. Sujud kedua

11. Berdiri lagi (rakaat kedua), membaca surat Al Fatihah dan lainnya
Disunnahkan surat yang panjang.

12. Ruku’
Disunnahkan waktu ruku’ lama, seperti waktu berdiri.

13. Berdiri lagi kemudian membaca Al Fatihah dan surat lainnya.
Disunnahkan lebih pendek daripada sebelumnya.

14. Ruku’ lagi.
Disunnahkan waktu ruku’ lebih pendek dari ruku’ pertama.

15. I’tidal

16. Sujud

17. Duduk di antara dua sujud

18. Sujud kedua

19. Duduk Tahiyah akhir

20. Salam

Setelah selesai shalat gerhana, khatib memberikan khutbah.

Baca juga: sholat dhuha

Hadits Tata Cara Nabi Shalat Gerhana

Sebagaimana hadits-hadits berikut ini:

خَسَفَتِ الشَّمْسُ فِى حَيَاةِ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَخَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِلَى الْمَسْجِدِ فَقَامَ وَكَبَّرَ وَصَفَّ النَّاسُ وَرَاءَهُ فَاقْتَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قِرَاءَةً طَوِيلَةً ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ. ثُمَّ قَامَ فَاقْتَرَأَ قِرَاءَةً طَوِيلَةً هِىَ أَدْنَى مِنَ الْقِرَاءَةِ الأُولَى ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ رُكُوعًا طَوِيلاً هُوَ أَدْنَى مِنَ الرُّكُوعِ الأَوَّلِ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ. ثُمَّ سَجَدَ – وَلَمْ يَذْكُرْ أَبُو الطَّاهِرِ ثُمَّ سَجَدَ – ثُمَّ فَعَلَ فِى الرَّكْعَةِ الأُخْرَى مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى اسْتَكْمَلَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَأَرْبَعَ سَجَدَاتٍ وَانْجَلَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَنْصَرِفَ ثُمَّ قَامَ فَخَطَبَ النَّاسَ فَأَثْنَى عَلَى اللَّهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَافْزَعُوا لِلصَّلاَةِ

Pada saat Nabi hidup, terjadi gerhana matahari. Rasulullah keluar ke masjid, berdiri dan membaca takbir. Orang-orang pun berdatangan dan berbaris di belakang beliau. Beliau membaca surat yang panjang. Selanjutnya beliau bertakbir dan ruku’. Beliau memanjangkan waktu ruku’ hampir menyerupai waktu berdiri.

Selanjutnya beliau mengangkat kepala dan membaca “Sami’allaahu liman hamidah, rabbanaa walakal hamdu”. Lalu berdiri lagi dan membaca surat yang panjang, tapi lebih pendek daripada bacaan surat yang pertama. Kemudian beliau bertakbir dan ruku’. Waktu ruku’ ini lebih pendek daripada ruku’ pertama. Setelah itu beliau sujud.

Pada rakaat berikutnya, beliau melakukan perbuatan yang sama hingga sempurnalah empat ruku’ dan empat sujud.

Setelah itu matahari muncul seperti biasanya, yaitu sebelum beliau pulang ke rumah. Beliau terus berdiri dan menyampaikan khutbah, memuji Allah dengan puji-pujian yang layak bagi-Nya. Tak lama kemudian, beliau bersabda, “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Oleh karena itu, jika kau menyaksikan gerhana bergegaslah untuk mengerjakan shalat.” (HR. Muslim)

Niat Shalat Gerhana Bulan

Semua ulama sepakat bahwa tempat niat adalah hati. Melafalkan niat bukanlah suatu syarat. Artinya, tidak harus melafalkan niat.

Syaikh Wahbah Az Zuhaili menjelaskan, menurut jumhur ulama selain madzhab Maliki, melafalkan niat hukumnya sunnah dalam rangka membantu hati menghadirkan niat.

Sedangkan dalam madzhab Maliki, yang terbaik adalah tidak melafalkan niat karena tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Jika menjadi makmum, lafadz niat shalat gerhana bulan sebagai berikut:

Lafadz niat shalat gerhana bulan sebagai makmum
Lafadz niat shalat gerhana bulan sebagai makmum

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْخُسُوْفِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى

Usholli sunnatal khusuufi rok’ataini ma’muuman lillahi ta’aalaa

Artinya: “Aku niat shalat gerhana bulan dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala”

Jika menjadi imam, lafadz niat shalat gerhana bulan sebagai berikut:

Lafadz niat shalat gerhana bulan sebagai imam
Lafadz niat shalat gerhana bulan sebagai imam

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْخُسُوْفِ رَكْعَتَيْنِ إِمَامًا لِلَّهِ تَعَالَى

Usholli sunnatal khusuufi rok’ataini imaaman lillahi ta’aalaa

Artinya: “Aku niat shalat gerhana bulan dua rakaat sebagai imam karena Allah Ta’ala”

Jika sendirian, lafadz niat shalat gerhana bulan sebagai berikut:

Lafadz niat shalat gerhana bulan sendirian
Lafadz niat shalat gerhana bulan sendirian

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْخُسُوْفِ رَكْعَتَيْنِ لِلَّهِ تَعَالَى

Usholli sunnatal khusuufi rok’ataini lillahi ta’aalaa

Artinya: “Aku niat shalat gerhana bulan dua rakaat karena Allah Ta’ala”

Waktu Shalat Gerhana Bulan

Waktu pelaksanaan shalat gerhana bulan terbentang sejak mulainya gerhana (bulan mulai tertutupi) hingga gerhana berakhir (bulan kembali ke kondisi semula).

Syaikh Wahbah az Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu menjelaskan, jika gerhana bulan terjadi hingga pagi hari, maka waktu shalat gerhana bulan berakhir dengan terbitnya matahari. Namun ia tidak berakhir dengan terbitnya fajar.

Khutbah Shalat Gerhana

Disunnahkan ada khutbah setelah shalat gerhana berjamaah. Sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencontohkannya dalam hadits di atas.

Isi khutbah Rasulullah adalah memuji Allah dengan puji-pujian kepadaNya, lalu beliau bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ فَإِذَا رَأَيْتُمُوهَا فَافْزَعُوا لِلصَّلاَةِ

“Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Oleh karena itu, jika kau menyaksikan gerhana bergegaslah untuk mengerjakan shalat.” (HR. Muslim)

Dalam hadits yang lain beliau bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، لاَ يَخْسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَاذْكُرُوا اللَّهَ

“Sesungguhnya matahari dan bulan itu adalah dua tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari dan bulan itu bukanlah karena kematian atau kehidupan seeorang. Maka jika engkau melihatnya, ingatlah dan berzikirlah kepada Allah” (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Wahbah Az Zuhaili menjelaskan, dalam khutbah shalat gerhana hendaknya disampaikan kepada jamaah tentang taubat dari segala dosa, berbuat kebaikan seperti sedekah, berdoa dan beristighfar.

Doa setelah Shalat Gerhana

Disunnahkan berdoa setelah shalat gerhana. Doa di waktu ini merupakan salah satu doa yang mustajabah.

إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ يُخَوِّفُ بِهِمَا عِبَادَهُ وَإِنَّهُمَا لَا يَنْكَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ فَإِذَا رَأَيْتُمْ كُسُوفَ أَحَدِهِمَا فَصَلُّوا وَادْعُوا حَتَّى يَنْكَشِفَ مَا بِكُمْ

“Sesungguhnya matahari dan bulan itu adalah dua tanda kekuasaan Allah, agar hamba takut kepadaNya. Terjadinya gerhana matahari dan bulan itu bukanlah karena kematian seeorang. Maka jika engkau melihatnya, maka shalatlah dan berdoalah hingga gerhana itu tersingkap dari kalian” (HR. An Nasa’i; shahih)

Demikian panduan shalat gerhana bulan mulai dari hukum, tata cara hingga contoh khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu a’lam bish shawab. [Muchlisin BK/BersamaDakwah]

SHARE

52 KOMENTAR

  1. Syukran panduannya cukup lengkap. Besok shalat gerhana bulan jam berapa? Adakah info masjid yamg menyelenggarakan shalat gerhana?

    • Informasi dari LAPAN, gerhana bulan besok mulai pukul 18:48 WIB. Sejak mulai terjadinya gerhana bulan itu, shalat gerhana boleh dilakukan. Batasan akhirnya sampai dengan selesainya gerhana yang diperkirakan selesai jam 23:09 WIB.

  2. Terima kasih artikelnya. Jadi tau kalau shalat gerhana bisa dikerjakan sendiri. Bagi pekerja yang shif malam dan gak bisa ke masjid jadi solusi

    • Iya, shalat gerhana bulan bisa dikerjakan sendiri, khususnya bagi yang udzur seperti yang Bapak sampaikan, atau karena di daerahnya tidak diselenggarakan shalat gerhana berjamaah.

  3. terima kasih sekali. untuk bacaan fatihah dan surat lainnya apakah dibaca jahr semua?termasuk yg setelah ruku’ pertama pada tiap rakaat.

    • Iya Pak. Untuk shalat gerhana bulan, imam membaca surat Al Fatihah dan surat lainnya dengan jahr (suara keras), termasuk setelah ruku’ pertama. Demikian pendapat jumhur ulama berdasarkan hadits dari Bunda Aisyah radhiyallahu ‘anha di atas. Juga karena shalat dilakukan di malam hari yang secara umum bacaan dikeraskan.

      Sedangkan untuk shalat gerhana matahari, Imam Abu Hanifah menjelaskan bahwa bacaan imam tidak dikeraskan karena shalat dilakukan di siang hari dan pada beberapa hadits tentang shalat gerhana matahari, Rasulullah tidak mengeraskan bacaan. Imam Syafi’i dan Imam Maliki berpendapat boleh dilembutkan (tidak dikeraskan). Sedangkan Imam Malik berpendapat, imam mengeraskan bacaan baik shalat gerhana matahari maupun shalat gerhana bulan.

      Wallahu a’lam bish shawab.

    • Iya, shalat gerhana bulan sebagaimana shalat gerhana matahari, disunnahkan untuk kaum muslimin baik laki-laki dan perempuan. Bisa sendiri-sendiri, namun lebih baik berjamaah di masjid.

  4. kalau misal masjid itu baru dibangun setengah dan langsung digunakan untuk sholat gerhana secara berjamaah apa selanjutnya harus digunakan untuk sholat jumat juga sedangkan belum pernah digunakan sholat jumat dan saat ini blm bisa digunakan utk sholat jumat karena warga dilingkungan masjid kebanyakan para pekerja jd belum memenuhi syarat jumlah jamaah utk sholat jumat secara mengikuti madzhab imam syafi’i. bagaimana menurut ustadz??? apa bisa dilakukan sholat gerhana secara jamaah dan selanjutnya tdk perlu dipakai jumatan karena blm memenuhi syarat?!!!

    • insya Allah masjid tersebut bisa digunakan untuk shalat gerhana sebagaimana banyak mushala digunakan untuk shalat jamaah tarawih meskipun tidak digunakan untuk shalat Jumat. Hanya saja, menurut para ulama sebagaimana disebutkan Syaikh Wahbah az Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu, shalat gerhana di masjid yang diselenggarakan shalat Jumat lebih utama. Wallahu a’lam bish shawab.

    • Terima kasih masukannya. Kami telah menambahkan pembahasan tentang niat dan lafadznya baik sebagai makmum, imam maupun ketika shalat gerhana bulan sendirian.

      Jika menjadi makmum, lafadz niat shalat gerhana bulan sebagai berikut:

      أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْخُسُوْفِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى

      Usholli sunnatal khusuufi rok’ataini ma’muuman lillahi ta’aalaa

      Artinya: “Aku niat shalat gerhana bulan dua rakaat sebagai makmum karena Allah Ta’ala”

      Lebih lengkapnya, silahkan baca pembahasan tentang niat. Wallahu a’lam bish shawab.

  5. Bacaan yg dianjurkan saat rukun 1-4 itu apakah cukup subhanallah saja, ataukah lengkap? Subhanallah, alhamdulillah walaa ilaahaillallah wallahuakbar? Atau subhanarabbial ‘adzim wabihamdi?
    Dan bacaan sujud apakah sama diantara 3 diatas (bacaan rukun)?
    Jazakallah ustad atas jawabannya.. Syukron

    • Dalam kitab-kitab Fiqih hanya disebutkan bertasbih saat ruku’ pada shalat gerhana.
      Sehingga bacaan tasbih yang biasa dibaca saat shalat fardhu maupun shalat sunnah bisa digunakan pada shalat gerhana bulan.

      Banyak bacaan tasbih saat ruku’ yang ada dalam hadits, sebagaimana dijelaskan Sayyid Sabiq dalam Fiqih Sunnah. Di antaranya:

      سُبْحَانَ رَبِّىَ الْعَظِيمِ

      atau

      سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى

      Wallahu a’lam bish shawab.

  6. السلام عليكم استذ
    Apa hukumnya melaksanakan shalat gerhana bulan,setelah gerhananya berakhir ?
    Adakah jg dalilnya ?
    Syukron

    • و عليكم السلام و رحمة الله و بركاته

      Jika gerhananya sudah berakhir (selesai) berarti waktu shalat gerhana telah selesai sebagaimana sabda Rasulullah:

      فَصَلُّوا حَتَّى يَنْجَلِيَ

      “Shalatlah sampai gerhananya hilang” (HR. Muslim, An Nasa’i dan Ahmad)

      juga sabda beliau:

      فَصَلُّوا وَادْعُوا حَتَّى يَنْكَشِفَ مَا بِكُمْ

      “maka shalatlah dan berdoalah hingga gerhana itu tersingkap dari kalian” (HR. An Nasa’i; shahih)

      Dari hadits di atas Syaikh Wahbah az Zuhaili menjelaskan, jika tertinggal shalat gerhana dan waktunya sudah habis, maka tidak perlu diqadha’

      Wallahu a’lam bish shawab.

    • Yang pertama, khutbah tidak harus ada.
      Sebagian ulama khususnya mazhab Syafi’i berpendapat khutbah setelah shalat gerhana sunnah.

      Mazhab Maliki berpendapat tidak disyaratkan khutbah, namun dianjurkan memberikan nasehat usai shalat gerhana dengan memuji Allah serta bershalawat kepada Nabi-Nya.

      Mazhab Hanafi dan Hambali berpendapat tidak ada khutbah. Adapun beliau berkhutbah, hanya untuk mengajarkan hukum shalat dan ini khusus untuk beliau. Tidak ada riwayat yang menunjukkan beliau khutbah dengan dua kali khutbah.

      Yang kedua, khutbah shalat gerhana (jika dilaksanakan) tidak harus memakai mimbar.

      Wallahu a’lam bish shawab.

  7. Ustad, bagaimana apabila gerhana bulan tidak terlihat oleh mata sebab hujan lebat atau tertutup awan harus tetap dilakukan?mengingat beberapa informasi menyebutkan shalat gerhana dilakukan apabila terlihat oleh mata bila tidak, maka tidak melaksanakan shalat.

    • Jika gerhana bulan tertutup awan atau tidak terlihat, sebagian ulama berpendapat tidak perlu melakukan shalat gerhana bulan. Berdasarkan hadits Nabi:

      فَإِذَا رَأَيْتُمْ كُسُوفَ أَحَدِهِمَا فَصَلُّوا وَادْعُوا حَتَّى يَنْكَشِفَ مَا بِكُمْ

      Maka jika engkau melihatnya, maka shalatlah dan berdoalah hingga gerhana itu tersingkap dari kalian” (HR. An Nasa’i; shahih)

      Namun sebagian ulama lainnya, terutama dari mazhab Syafi’i, berpendapat tetap sunnah shalat gerhana bulan meskipun tertutup awan.

      Wallahu a’lam bish shawab.

    • Wa’alaikum salam warahmatullah.

      Syaikh Wahbah az Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu menjelaskan bahwa saat ruku’ dan sujud membaca tasbih. Yakni sebagaimana bacaan dalam shalat fardhu atau shalat sunnah pada umumnya.

      Adapun lamanya, beliau menerangkan, saat ruku’ pertama bertasbih seukuran 100 ayat dari Surat Al Baqarah, pada ruku’ kedua seukuran 80 ayat, ruku’ ketiga seukuran 70 ayat, ruku’ terakhir seukuran 60 ayat.

      Itu kondisi ideal. Di masa sekarang, agaknya jarang shalat gerhana selama itu karena imam juga memperhatikan kondisi makmum saat ini. Wallahu a’lam bish shawab.

    • Waktu shalat gerhana bulan terbentang sejak mulainya gerhana (bulan mulai tertutupi) hingga gerhana berakhir (bulan kembali ke kondisi semula).

      Jika habis shalat Maghrib sudah mulai gerhana, berarti di waktu itu sudah bisa dilaksanakan shalat gerhana bulan. Wallahu a’lam bish shawab.

  8. apa yang dibaca untuk mengajak jamaah memulai shalat gerhana,, karna dalakm pelaksanaan shalta gerhana tidak ada azan dan iqomah, mhn penjelasan ustad..

      • Afwan ustadz :
        1.bgaimna hukumnya klo sblum shalat gerhana didahului dg Iqomah ?

        2. Shalat gerhana kan terdiri dari 2 kali ruku’ setiap rakaatnya,nah apa hukumnya klo si Imam shalat gerhana hanya dg 1 kali ruku’ setiap rakaatnya ? Pdhal makmum sdah mengingatkan (mengucapkan subhanallah) kemungkinan si imam lupa,tapi si imam mlah terus ja,bgtu jg rakaat kedua.stlah salam pun si imam tdak ada penjelasan apapun atau bhkan sujud sahwi ?

  9. Assalamualaikum ustadz, bagaimana dengan ibu hamil, bisa kah dilakukan solat sendiri, bagaimana menanggapi mitos yg beredar bahwa harus ke kolong meja,

    • Wa’alaikum salam warahmatullah. Ibu hamil bisa mengerjakan shalat gerhana sendiri di rumah. Adapun mitos harus ke kolong meja, namanya mitos tentu tidak benar. Mempercayai mitos semacam itu (menganggap gerhana berbahaya dan berlindung ke kolong meja) bertentangan dengan aqidah Islam.

  10. Assalamualaikum ustadz, bagaimana dengan orang tua yg tidak bisa berdiri lama, bisakah ia melaksanakan sholat gerhana dengan duduk??
    sebab ayat yg di sunnahkan itu adalah ayat yg panjang, mohon penjelasannya ustadz, terimakasih wassalam…

  11. Assalamualaikum
    Pak ustadz insyaalloh saya ingin melaksanakan slt gerhana munfarid tapi saya bingung, adakah doa khusus setelah solat sunat gerhana bulan spt slt sunat lain yg mempunyai doa khusus?? Atau doanya bebas…
    Terimakasih

    • Wa’alaikum salam warahmatullah. Tidak ada doa khusus setelah shalat gerhana. Bisa doa apapun asalkan baik dan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Wallahu a’lam bish shawab.

  12. Assalammualaikum ustad. Bagaimana wanita yang sedang haid ustad.Apa dia boleh melakukan sholat gerhana bulan? dan apakah kalo dia tidak sholat pahalanya gimana ustad? syukron

    • Wa’alaikum salam warahmatullah. Wanita yang sedang haid tidak boleh mengerjakan shalat apapun termasuk shalat gerhana bulan. Meskipun demikian, wanita yang sedang haid bisa mendapatkan banyak pahala di waktu gerhana dengan mengerjakan apa yang dianjurkan Rasulullah yaitu berdikir, berdoa, beristighfar dan bersedekah. Wallahu a’lam bish shawab.

    • Membaca tasbih sebanyak-banyaknya selama ruku’ tersebut. Syaikh Wahbah az Zuhaili dalam Fiqih Islam wa Adillatuhu menjelaskan, ruku’ pertama bertasbih seukuran 100 ayat dari Surat Al Baqarah, pada ruku’ kedua seukuran 80 ayat, ruku’ ketiga seukuran 70 ayat, ruku’ terakhir seukuran 60 ayat.

      Itu kondisi ideal yang diamalkan saat shalat gerhana di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Wallahu a’lam bish shawab.

  13. Mohon maaf kepada Bapak/Ibu yang jawabannya terlambat karena sejak sore sulit login karena banyaknya traffic. Semoga jawaban yang terlambat tersebut masih bermanfaat. Dan semoga Allah senantiasa menjaga dan membimbing kita dengan taufiqNya.

  14. Tanya ustadz sholat gerhana sendiri ( bukan berjamaah ) apakah pernah dikerjakan zaman rasulullah atau para sahabat terimakasih atas jawabannya

  15. Mo tanya dong. Khutbah sholat geehana itu. 2 khutbah. Atw 1 kali khutbah ya.. adakh dalil2 yg mnjelaskn tata cara khutbah gerhana.

SILAHKAN BERI TANGGAPAN mohon perhatikan kesopanan

Please enter your comment!
Please enter your name here